Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Kegundahan sesaat


__ADS_3

"Sebentar saja. Aku hanya ingin memeluk anakku saat ini untuk menghangatkannya," kilah Fero.


Zia menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Rasa nyaman menyelimuti tubuhnya. Pergerakan datang dari dalam perutnya. Sepertinya anaknya itu tahu jika ayahnya sedang memeluk dirinya dan ibunya.


"Dia sangat aktif. Apa kamu tidak kesakitan merasakan pergerakannya?" melepaskan pelukannya. Menundukkan pandangan ke arah perut Zia dan membelainya.


"Tidak. Aku senang ketika dia sedang bergerak. Setidaknya aku tahu, jika aku tidak sendiri."


Fero mengangkat kembali kepalanya. Jawaban Zia sulit untuk ia cerna, "Kamu tidak sendiri. Dan kamu tahu itu."


"Aku dan perasaanku hanya diriku yang tahu," lirihnya.


Fero menatap mata yang sudah tergenang itu, "Apa kamu masih merasa kedinginan?" tanyanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Sedikit. Bisakah kamu untuk meninggalkan aku sendiri di sini?"


"Banyak hal yang belum selesai kita bahas."


"Tidak ada yang perlu kita bahas lagi, Fer! Hiduplah sesuai keinginanmu sendiri. Aku tidak akan terlibat di dalamnya. Kamu bisa hidup dengan tenang tanpa ada aku. Aku tidak akan menuntut apa-apa dari kamu. Berbahagialah," ungkapnya yang sudah berlinang air mata.


"Apa kamu berniat memisahkan aku dengan anakku?!" ucap Fero menaikkan intonasi bicaranya.


Wajah Fero memerah mendengarkan jawaban Zia. Dirinya sudah bersusah payah untuk menghilangkan perasaannya kepada Vara dan memulai hidup baru dengan Zia dan anaknya. Tetapi wanita itu tetap menolaknya mentah-mentah.


"Jadi kamu ingin mengatakan jika anak ini adalah anak dari pria lain begitu? Sudah berapa banyak pria yang sudah menikmati tubuhmu, huh?!" mengguncang bahu Zia. Pikiran buruk tiba-tiba melayang di pikirannya


Tamparan keras Zia layangkan di wajah Fero. Hatinya semakin sakit mendengar hinaan dari Fero, "Terserah kamu ingin bicara apa. Anakku tidak membutuhkan ayah yang tidak menginginkannya," lontar Zia. Menyingkirkan tubuh Fero yang menghalangi jalannya. Mata Zia membulat ketika membuka pintu kamar Fero mendapati wajah Vara dan Rangga.

__ADS_1


Vara menatap wanita yang sama seperti dirinya tengah menangis dengan deraian air mata. Hatinya seperti kembali merasakan kesakitan yang pernah ia rasakan. Rangga yang mengerti dengan keadaan segera menyingkir dari sana. Tanpa aba-aba Zia langsung memeluk tubuh Vara, "Kamu kenapa, Zia? Jangan membuatku khawatir begini," mengelus punggung Zia yang terasa naik turun.


"Tolong bawa aku pergi dari sini," pintanya.


"Pakailah pakaian yang ada di dalam sini terlebih dahulu. Zayn yang menyiapkannya. Kami bertemu dengannya tadi di parkiran," menyerahkan paper bag kepada Zia, " Kamu tidak mungkin pergi dari sini dengan pakain yang seperti ini."


Zia mengangguk lemah. Vara menuntun Zia ke arah kamar anak-anaknya dulu. Mendudukan tubuhnya di sisi ranjang, " Tidak baik jika kamu terus menangis, Zi. Anak kamu akan merasakan kegelisahan orang tuanya," saran Vara.


"A-aku ingin pergi dari sini, Ra. Tolong bawa aku pergi dari sini."


''Hei, kamu kenapa, Zia? Apa Fero menyakitimu?" Vara nampak panik melihat Zia yang masih berderai air mata. Zia mengangguk, benar saja, hatinya kini terasa sakit.


"Aku sudah memutuskan untuk membesarkan anak ini seorang diri, Ra. Aku sudah merelakan perasaanku kepadanya terkikis meski sakit sekali. Aku tidak akan menganggu hidupnya lagi. Dia sudah bebas, tetapi mengapa kini dia seolah menjadi pahlawan yang ingin bertanggungjawab kepada diriku?"

__ADS_1


__ADS_2