Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Sambutan hangat


__ADS_3

Kedatangan Baby Alula disambut dengan antusias oleh sahabat Vara dan Rangga. Bahkan Nadia dengan perut besarnya tak kalah antusias menyambuat ponakan ketiganya. Wanita itu dengan cepat bangkit dari sofa yang didudukinya, berjalan cepat ke arah Vara menggunakan satu tangannya memegang pinggangnya.


"Hati-hati, sayang! Ingat perut kamu sudah sangat besar!" seru Adit melihat Nadia berjalan dengan cepat ke arah Vara.


"Bini lo kapan lahiran? Bukannya Vara dan Nadia hampir sama usia kandungannya?" tanya Danu yang duduk di samping Adit. Adit mengalihkan pandangan ke arah Danu yang masih tidak melepaskan pandangan ke arah istrinya dengan tatapan ngilu.


"Prediksi dokter sekitar 2 minggu lagi."


"Alula sungguh lucu! Aku harap anak kita bisa secantik Lula jika lahir nanti!" ucap Nadia yang sudah mendaratkan kembali tubuhnya di samping Adit.


"Yura juga cantik! Lebih cantik dari pada adik bayi Lula. Kenapa tidak cantik seperti Yura saja!" timpal Yura yang sudah duduk di pangkuan Danu. Gadis kecil itu nampak tidak terima jika kecantikannya harus terkalahkan dengan sang adik.

__ADS_1


"Tentu saja Tante tidak mau cantik seperti kamu!" ledek Nadia menjulurkan lidahnya ke arah Yura. Yura semakin mencebikkan bibirnya mendengar jawaban Nadia.


"Kenapa tidak mau cantik seperti Yura saja! Teman-teman di sekolah banyak yang suka Yura! Tentu karena Yura sangat cantik." cetusnya membanggakan diri.


"Tetap saja Tante tidak mau!" celetuk Nadia lagi. Bukan jawaban yang diharapkan Yura.


"Kenapa Tante Nadia tidak mau!" seru Yura dengan nada tidak terima.


"Karena kamu sungguh cerewet! Bagaimana jadinya jika anak Tante seperti kamu! Bisa-bisa telinga Tante bisa copot satu!" goda Nadia yang ingin mempermainkan gadis kecil itu.


"Assalamu'alaikum." salam dari Fero dan Nadia dengan kompak. seketika pandangan mereka teralihkan dengan kedatangan Fero dan Zia secara bersamaan.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


"Apa kami sudah sangat terlambat menyambut kedatangan Baby Alula?" tanya Fero begitu sungkan. Jika saja jalanan tidak macet akibat adanya bus yang mogok di tengah jalan mungkin mereka bisa datang tepat waktu.


"Tidak masalah, Nak. Duduklah, Ibu akan membuatkan minum untuk kalian." ucap Ibu Ana.


"Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke rumah kami, Fero, Zia. Duduklah! Sepertinya aku harus segera ke kamar karena Alula sudah rewel." ucap Vara tidak enak. Bayi mungil itu bahkan sudah mulai menangis karena tak kunjung mendapatkan asupan gizinya.


Setelah berpamitan kepada teman-teman dan keluarga. Rangga membawa Vara dan anak mereka masuk ke dalam kamar utama yang berada di lantai dua menggunakan lift diikuti Mama Mita.


"Kamu temani saja mereka di luar, Mas. Biar aku di sini bersama Mama." ucap Vara ketika sudah mulai menyusui Alula. Bayi mungil itu nampak mengedipkan matanya lucu ketika sudah mendapatkan asupan nutrisinya.

__ADS_1


"Baiklah, Mas keluar dulu. Rangga titip Vara, ya, Ma!" pintanya kepada Mama Mita yang masih asyik menatap cucu ketiganya.


"Tentu Mama akan menjaga menantu dan cucu Mama. Kamu tenang saja! Sekarang keluarlah temui teman-teman kamu!" perintah Mama Mita karena melihat anaknya yang begitu mengkhawatirkan istri dan anaknya. Mita tahu, jika anaknya itu ingin membayar kesalahan masa lalu saat ia tidak ikut serta membesarkan Aidan dan Yura.


__ADS_2