Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Bernasib sama


__ADS_3

Ternyata yang dikatakan beberapa orang itu benar. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, sekuat apapun aku mengejar, jika dia tetap melihat ke depan tanpa berniat melihat ke belakang sejenak untuk melihatku, hasilnya akan sia-sia. Aku akan tetap pada lukaku, dan dia ... dia akan ikut terluka jika bersamaku.


Zia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Bayangan wajah Fero selalu terlintas di setiap ia membuka mata. Helaan nafas berat dan air mata yang sudah tergenang sudah siap untuk ia luncurkan. Diusapnya perutnya yang sudah mulai membuncit. Ia tidak menyangka, jika nasibnya akan sama seperti wanita yang sangat dicintai pria yang sangat dicintainya.


Tiga bulan sudah ia berada di kota Malang untuk memulai hidupnya yang baru. Untung saja kedua orang tuanya masih berada di luar negri dalam jangka waktu yang masih lama sehingga mereka tidak curiga setiap kali menanyakan kabarnya. Zia bahkan sudah menolak niat orang tuanya untuk menikahkan dirinya dengan Fero, mengancam akan bunuh diri jika ia tetap dinikahkan dengan Fero sehingga kedua orang tuanya hanya bisa pasrah menerima keputusan Zia.

__ADS_1


"Aku harus kuat, Vara bahkan jauh lebih menderita dariku. Membesarkan kedua anaknya dengan cacian yang tiada hentinya ia terima. Aku pasti bisa seperti Vara, walau Vara berhasil bersatu dengan pria yang dicintainya sedangkan aku tidak. Aku harus bisa membesarkan anakku seorang diri. Fero tidak mencintaiku, aku tidak mau menjadi benalu di dalam hidupnya. Ia bahkan menyuruhku pergi," Zia menertawakan nasibnya yang buruk. Fero tidak mencintainya, tetapi pria itu dengan teganya menodai dirinya. Bahkan menyuruhnya pergi dan tak terlihat lagi.


Zia tersenyum sambil mengelus perutnya ketika suara demo terdengar di sana, "Apa kamu sudah lapar lagi? Agh baiklah, ayo kita keluar mencari makan untuk malam ini," melirik jam yang tergantung di dinding kamar. Sudah pukul 9 lewat, ia tak menghiraukannya. Menyambar jaket yang tergantung di dalam lemari dan segera melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Mau cari makan lagi, Zi?" tanya Gita melihat sahabatnya itu keluar dari dalam kamarnya. Sudah menjadi pemandangan setiap malam baginya melihat Zia keluar untuk mencari makan.

__ADS_1


"Ayo aku temani! Kamu selalu saja bepergian sendiri. Jika terjadi apa-apa dengan kamu di luar bagaimana! Ingat ada nyawa yang sedang kamu bawa," dengus Gita.


Zia terkekeh geli. Ia bukan tidak mau menerima tawaran Gita untuk menemaninya. Selain jarak supermarket dan kontrakan mereka yang cukup dekat, Zia juga tidak tega melihat Gita yang kelelahan ketika pulang bekerja harus menemani dirinya, "Aku hanya sebentar, tidak masalah sendiri. Lagipula kamu pasti lelah pulang bekerja. Sudahlah, aku akan pergi sebelum hujan turun," kaitan kancing jaketnya sudah terpasang semua. Menatap Gita dengan tatapan meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.


"Tunggu sebentar, aku akan menemani kamu! Aku hanya ingin mengambil jaket ke kamar. Untuk kali ini jangan membantah!" perintah Gita.

__ADS_1


Zia mengangguk pasrah, ia tahu jika Gita sangat mengkhawatirkan dirinya yang tengah mengandung harus bepergian seorang diri, "Ayo jalan!" ajak Gita yang sudah siap dengan jaket tebal yang sudah dikenakannya.


__ADS_2