
Vara menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang seraya memejamkan matanya singkat. Ia masih tidak menyangka hari ini akan tiba, dimana ia akan menyandang gelar baru sebagai istri seorang Rangga yang dulu sangat tidak menyukainya itu. Sampai saat ini pun, Vara belum mengetahui alasan pasti kenapa Rangga sangat tidak menyukainya di waktu sekolah dulu.
Suara knop pintu yang dibuka mengalihkan perhatian Vara dari langit-langit kamarnya. Dilihatnya Rangga masuk ke dalam kamar dengan wajah letihnya. Sepertinya ia baru saja selesai berbincang dengan para tamu yang hadir, baik itu teman-temannya maupun kerabat.
Jantung Vara berdetak lebih cepat dibandingkan biasanya, ini adalah hal pertama bagi ia dan Rangga berada di dalam satu ruangan dalam ikatan yang sah. Vara menarik nafasnya pelan seraya meremas ujung piyama yang dikenakannya. "Apa teman-teman kamu sudah pulang, Rangga?" Tanya Vara mengalihkan kegugupannya.
Rangga melihat wajah Vara yang pucat seperti tidak ada darah yang mengalir di sana. "Sudah, baru saja pulang, kenapa wajah lo pucat?? Apa lo sakit??" Rangga berjalan ke arah Vara dan mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang.
"Agh, tidak!" bantah Vara cepat, melihat tangan Rangga akan menyentuh keningnya.
Rangga mengurungkan niat menyentuh kening Vara melihat Vara yang tidak nyaman berdekatan dengannya. "Baiklah, gue mau mandi dulu." Rangga beranjak menyambar handuk yang sudah Vara persiapkan di atas meja rias. Rangga menghentikan langkahnya yang akan menjangkau knop pintu. "Anak-anak sudah tidur di kamar ibu, jadi lo gak perlu khawatir." ucap Rangga dan Vara hanya mengangguk mengerti.
Vara mengelus dadanya ketika Rangga sudah hilang dari balik pintu. Berdekatan dengan Rangga membuat Vara tidak bisa mengontrol perasaannya. Vara merasa jika ia sudah mulai menyimpan perasaan kepada Rangga saat ini, agh tidak! Bukan saat ini. Bahkan Vara sudah memendam perasaan kagum yang berubah jadi cinta semenjak mereka masih bersekolah dulu, walaupun ia tau jika Rangga sangat tidak menyukainya.
"Aku kira perasaan itu sudah hilang bersama kesakitan yang Rangga tanamkan kedalam diriku. Ternyata perasaan itu tetap saja tumbuh dan selalu ada kemana pun aku melangkah jauh darinya." gumam Vara pelan.
Vara mengingat kejadian pertama kali ia bertemu dengan Rangga di sekolah. Vara yang terjatuh karena disenggol kakak kelas yang tidak menyukai Vara karena kecantikan yang dimilikinya, meringis kesakitan karena sikunya yang berdarah terkena sudut bangku taman sekolah. Uluran tangan kokoh membuat Vara mendongakkan kepala dan melihat Rangga lah pemilik tangan kokoh itu. Tanpa pikir panjang, Vara langsung menerima uluran tangan Rangga, Rangga langsung pergi begitu saja sebelum sempat Vara mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Vara menjadi pengagum rahasia Rangga tanpa diketahui oleh ketiga sahabatnya. Diam-diam Vara selalu mencari tau tentang hidup Rangga, dari mulai Rangga yang bersifat dingin, cerdas dan mempunyai bakat bermain basket dan alat musik. Rasa kagum Vara terhadap Rangga berubah menjadi cinta seiiring berjalannya waktu. Tepat di saat Vara kelas dua, Rangga terpilih menjadi ketua osis, dan itu membuat Vara semakin sulit menjangkau Rangga yang semakin hari semakin banyak saja pengagum Rangga yang tidak sebanding dengannya yang hanya seorang anak pegawai kantor biasa.
Kesakitan mulai dirasakan Vara ketika Rangga mulai menampakkan ketidaksukaan kepadanya. Vara bahkan tidak tau hal apa yang membuat Rangga seperti sangat membencinya itu. Setiap berselisih jalan, Rangga selalu saja menghunuskan tatapan dinginnya kepada Vara. Ditambah Audi yang selalu saja menganggapnya saingan dan selalu merendahkannya di hadapan Rangga.
Perasaan cinta kepada Rangga mulai Vara kubur seiring dengan meninggalnya ayah tercinta yang membuat keadaan Vara semakin terpuruk. Vara bahkan tidak memperdulikan lagi sikap Rangga kepadanya. Ia juga menutup diri dari teman-teman di sekolah dan hanya berubah hangat di depan ketiga sahabatnya, karena Vara tidak mau ketiga sahabatnya merasakan kesedihan yang ia rasakan dan menambah beban fikiran mereka.
"Ra?"
Lambaian tangan Rangga tepat di depan wajahnya membuyarkan lamunan Vara. Dilihatnya Rangga sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya. "Agh, maaf. Kamu ada perlu sesuatu Rangga?" tanya Vara kikuk.
Rangga mendengus. "Lo mikirin apa, huh?? Sampe lo gak sadar gue dari tadi manggilin Lo?!" tanya Rangga.
"Tidurlah! Sepertinya lo butuh istirahat."
"Terus kamu tidur dimana?" pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari mulut Vara.
Rangga tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol yang menurutnya tidak seharusnya Vara tanyakan. "Gue tidur di sini! Terus gue tidur dimana lagi?! Lo lupa kalau gue udah jadi suami lo?!"
__ADS_1
"Maaf." ucapnya pelan.
"Lo bahkan bisa berubah menjadi bodoh di keadaan seperti ini." ucap Rangga datar.
Bodoh?
Vara hanya diam saja tanpa berniat menimpali ucapan Rangga. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Rangga. Rangga dapat melihat mata Vara yang sudah tergenang walau pun dalam keadaan menunduk.
Rangga mendekati Vara, mengangkat dagu Vara dan mencakup kedua pipinya. "Maaf, lupakan yang gue ucapakan barusan." Ucap Rangga lembut .
Air mata yang tertahan akhirnya luruh. Rangga langsung membenamkan tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Ia merasa bersalah sudah membuat Vara menangis di hari pernikahan mereka.
"Hiks... Hiks... Aku memang bodoh, Rangga... Tidak seharusnya kamu menikahi wanita bodoh sepertiku.... Huuu...." Vara terisak memukul pelan dada bidang Rangga. Entah bawaan Vara yang mudah menangis atau hormon datang bulannya yang membuat ia begitu mudah mengambil hati ucapan Rangga.
Rangga melonggarkan pelukannya untuk bisa melihat wajah Vara yang sudah dibanjiri air mata. Ia tidak membalas ucapan Vara, Rangga termasuk lelaki kaku yang tidak pernah menjalin cinta, ia tidak pandai merangkai kata rayuan untuk menenangkan wanita dengan begitu mudahnya. Hanya sebuah pelukan lah yang ia lakukan untuk menenangkan Vara, seperti halnya yang sering ia lihat Bayu lakukan kepada Mita jika menangis.
"Lo mau nangis sampai besok pagi?" tanya Rangga datar.
__ADS_1
Vara semakin kesal mendengar pertanyaan Rangga, tapi ia memilih tidak melanjutkan kekesalannya. Vara balik menatap Rangga yang sedang menatapnya dalam. "Maaf, mungkin faktor datang bulan membuat aku tidak bisa mengontrol diri... Sebaiknya kita tidur, aku tau kamu juga pasti sudah lelah seharian ini..." Vara menjauhkan tubuhnya dari Rangga, merapikan bantal dan guling yang sedikit berserakan, meletakkan guling di tengah ranjang. "Semoga kamu nyaman tidur di sini." Ucap Vara tersenyum.
Rangga mengangguk dan tersenyum tipis. Anak ini mudah sekali merubah moodnya, pikir Rangga. Akhirnya mereka tidur dengan dibatasi guling di tengah mereka dan ditemani rembulan menjelang pagi.