Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Tanpa dirinya


__ADS_3

Untuk kali ini Zia sangat merutuki kebodohannya. Bagaimana ia bisa lupa jika keluarga Fero juga memiliki perusahaan cabang di Malang.


"Apa yang kamu pikirkan? Ayo makan, jangan biarkan calon keponakanku kelaparan di dalam sana," cetus Gita. Mengambil piring berisikan nasi yang semula ia letakkan di atas nakas.


"Maaf terlalu sering meropotkan kamu, aku akan berusaha lebih mandiri setelah ini," sesal Zia. Gita bahkan tidak mengganti pakaian kerjanya setelah sampai di kontrakan.


"Maaf, maaf. Simpanlah kata maaf kamu itu, Zi! Aku sunggu bosan mendengarnya."


Zia hanya tersenyum menanggapinya, "Aku akan makan sendiri. Gantilah baju kamu, aku tau kamu pasti gerah belum berganti pakaian. "

__ADS_1


"Tidak! Aku akan menyuapimu," menyodorkan sesendok nasi berisikan cumi goreng ke dalam mulut Zia.


Zia tak lagi membantah. Gita terus menyuapkannya sampai makanan di dalam piring habis tak tersisa.


"Aku ke kamar sebentar mengganti pakaian, kamu tunggulah di sini," tegak dari kursi yang didudukinya.


Zia menganggukkan kepala sebagai jawaban. Setelah melihat Gita hilang dari balik pintu, Zia mulai memikirkan perkataan Fero kepadanya. Air matanya kembali menetes, ia tidak memerlukan pertanggungjawaban dari Fero. Ia tidak ingin membuat Fero masuk ke dalam hidupnya yang sama sekali tidak diinginkan pria itu.


***

__ADS_1


Setelah mengecek keadaan Zia yang ternyata tengah tertidur, Gita memutuskan untuk membicarakan permasalahan sahabatnya dengan bosnya. Memperhatikan pria yang sedang mengusap wajahnya kasar di hadapannya. Menghela nafas sebelum angkat bicara, "Untuk saat ini sebaiknya Tuan jangan dulu membahas hal yang berat pada Zia. Kondisinya sedang tidak stabil saat ini. Saya juga yakin jika Zia akan menolak apapun yang Tuan tawarkan kepadanya."


"Apa alasan kamu berbicara seperti itu? Saya harus menyelesaikan masalah ini secepatnya!" tukasnya.


"Jangam egois, Tuan. Pikirkan kondisi Zia saat ini. Dari semua cerita yang saya tangkap, saya rasa Zia tidak akan mau menerima tawaran anda untuk menikahinya."


Fero menghela nafas kasar. Ia tahu jika kejadian ini akan terjadi. Dari tatapan Zia kepadanya, Fero dapat menangkap jika tatapan itu tak lagi tatapan penuh cinta kepadanya. Hanya tatapan kekecewaan yang mendominasi, "Saya tetap akan bertanggungjawab, anak kami membutuhkan kedua orangtua yang lengkap. Apapun keputusan Zia, saya akan tetap menikahinya!" tegas Fero. Bangkit dari kursi yang didudukinya, "Tolong jaga dia, saya pergi dulu. Kamu tidak perlu masuk kantor selama tiga hari kedepan. Untuk masalah pekerjaan, Zayn akan mengurusnya. Jagalah Zia dan anak saya yang ada di dalam kandungannya untuk saya! Dan jangan lupa untuk mengabari saya bagaimana keadaan Zia."


Mata Gita berbinar. Apa ia tidak salah dengar jika selama 3 hari ia tidak perlu bekerja? Dengan begitu ia bisa menjaga Zia dan merilekskan otaknya sejenak dari tumpukan pekerjaan, "Tuan tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Zia dan calon keponakan saya dengan baik. Saya berharap Tuan benar-benar menepati ucapan Tuan untuk menikahi Zia. Jangan lagi menyakitinya. Cintanya kepada Tuan sudah cukup membuatnya menderita selama ini," lirihnya.

__ADS_1


Fero merasa tersindir. Ia sadar jika perilakunya kepada Zia selama ini tidak baik, "Saya akan sering mengunjungi Zia. Minggu depan saya akan menemani Zia untuk kontrol kandungan."


__ADS_2