
Gita memperhatikan Zia dengan tatapan nanar. Ia tahu sahabatnya itu kini dalam keadaan tidak baik-baik saja, "Jika ada yang menggajal di dalam hati kamu, katakan saja kepadaku, Zi! Aku tidak ingin kamu memendam semuanya sendiri."
Menghentikan aktivitas memakan camilannya, Zia menatap Gita yang juga sedang menatapnya, "Aku sungguh tidak apa-apa. Agh, sepertinya aku sudah kenyang! Kamu istirahatlah, aku tau kamu pasti lelah karena lembur di kantor."
Menghela nafasnya panjang, Gita hanya bisa mengangguk ketika Zia sudah menarik tangannya tanpa menunggu jawaban darinya. Membuka knop pintu, Zia menuntun Gita untuk masuk kedalam kamarnya, "Apa kamu tidak mual lagi, Zi?" tanya Gita ketika Zia hendak melangkah meninggalkan kamarnya.
"Sudah sedikit berkurang, sepertinya karena sudah mau memasuki trimester ke dua sehingga rasa mualku di pagi hari mulai berkurang."
__ADS_1
Gita mengangguk paham, "Jangan terlalu banyak pikiran. Istirahatlah dengan benar, ingat jika ada yang harus kamu jaga saat ini!" perintah Gita.
"Terimakasih sudah menjadi sahabat yang baik dan sudah mau aku repotkan selama ini," Zia mulai berkaca-kaca. Jika tidak ada Gita, ia tidak tahu harus kemana lagi dengan kondisi tengah mengandung.
"Kamu ini bicara apa! Tidak ada kata terimakasih dan merepotkan dalam persahabatan. Aku bahkan senang bisa membantu kamu di saat masa tersulit kamu. Jagalah dia dengan benar, dia akan menjadi ponakan pertama bagiku!" kelakar Gita.
Zia terkekeh, "Aku akan menjaganya dengan benar, dia anakku. Kamu tenang saja!" jawab Zia menepuk pundak Gita.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku ke kamar dulu. Sepertinya kamu sudah terlalu lelah," menepuk kembali pundak Gita dan segera melangkah keluar kamar.
***
Memasuki usia kehamilan 5 bulan, Zia mulai menikmati hari-harinya tinggal di kota Malang. Untung saja uang tabungannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama beberapa bulan belakangan. Rasa rindu kepada orangtuanya pun terpaksa Zia tahan, ia tidak ingin bertemu kedua orangtuanya dalam keadaan mengandung seperti ini. Apa yang akan ia jelaskan kepada orangtuanya nanti? Zia hanya bisa pasrah dengan takdirnya saat ini.
Zia menggelengkan kepala melihat tumpukan kertas yang berserakan di atas tempat tidur kamar Gita. Ia ingat, tadi pagi Gita terlihat terburu-buru berangkat ke kantor karena ada rapat penting dengan petinggi perusahaan tempat ia bekerja. Seketika mata Zia terpusat pada dokumen penting yang sudah Gita persiapkan sejak beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Bukankah berkas ini harus Gita bawa untuk rapat hari ini? Zia lekas memeriksa berkas itu dan benar saja, itu adalah berkas penting yang harus Gita bawa? Zia berpikir sejenak. Ia harus mengantarkan berkas itu ke tempat Gita bekerja secepatnya. Ia tidak mau sahabatnya sampai terkena masalah karena tidak membawa berkas penting itu.
Segera Zia mengganti pakaiannya, gaun bewarna pastel selutut menjadi pilihan Zia mengingat ia tidak ada waktu lagi untuk memilih pakaian. Untung saja perjalan dari kontrakan menuju kantor Gita hanya memerlukan waktu 15 menit. Sampai di perusahaan tempat Gita bekerja, segera Zia bertanya kepada resepsionis untuk menanyakan keberadaan Gita dengan menunjukkan berkas yang sedang ia bawa.