
"Hahahaha... Aduh Yura... Kamu ini ada-ada saja... Tante gak bisa ngebayangin wajah panik Vara mencari keberadaan kamu waktu itu..." Nadia tidak dapat menahan tawanya disusul tawa Adit mendengar ucapan yang keluar dari mulut mungil Yura.
Yura menatap bingung orang-orang dewasa yang ada dihadapannya. "Kenapa om dan tante tertawa sepelti itu...? Yula malah sedih kalau bunda menangis... Bunda seling sekali menangis kalau malam-malam..." ucap Yura.
Nadia menghentikan tawanya dan menyerngitkan dalam keningnya. "Kenapa bunda suka menangis kalau malam-malam??" tanya Nadia heran.
"Nda tau tante... Yula dan kakak seling mengintip bunda lagi menangis di kamal... Kata kakak bunda menangis kalna Yula selalu beltanya ayah kapan pulang..."
"Apa sekarang bunda masih sering menangis sayang??" Nadia menatap tajam Rangga yang berada dihadapannya.
"Nda tante... Kan ayah syudah pulang... Jadi bunda nda nangis lagi..."
Nadia menghela nafas berat, kenapa Vara selama ini tidak pernah bercerita tentang beban yang dialaminya kepada mereka, pikir Nadia. Vara selalu saja menyimpan masalahnya sendiri dan jarang berbagi kepada mereka dengan alasan tidak mau menambah fikiran sahabat-sabatnya. Nadia berharap dengan kembalinya Rangga dapat membuat Vara memiliki kehidupan yang bahagia kedepannya bersama anak-anak mereka.
Tidak lama Aidan keluar dari dalam kamar Nadia dengan rambut acak-acakan khas orang bangun tidur. Dilihatnya Nadia dan Yura sedang terlibat percakapan serius, sedangkan Adit dan Rangga hanya diam saja tidak menimpali percakapan mereka.
Yura melirik ke arah Aidan yang berjalan ke arahnya. "Kakak lama syekali di kamal mandinya... Ayo kita pulang... Bunda pasti sudah cali-cali kita... Ayo kita pulang ayah... " Yura bangkit dari sofa, menarik tangan Rangga untuk pulang.
"Kenapa cepat sekali pulangnya sayang?? Kalian tidak perlu khawatir bunda akan mencari-cari kalian... Tante sudah bilang kok sama bunda kalau kalian masih tidur tadi..." Nadia menatap sendu Aidan dan Yura. "Tante kan masih kangen sama kalian..." Nadia membuat wajahnya sesedih mungkin.
"Lebay banget sih lo!" Adit mendelik kesal.
Nadia mengerucutkan bibirnya. "Ya gue kan senang di sini ada anak-anak Vara yang lucu-lucu. Apartemen jadi rame deh ada mereka." Nadia berjalan ke arah Yura, menggendongnya dan mencium kedua pipi bulat Yura.
"Kalau lo mau anak lo kan bisa minta sama gue buat bikinin... Jadi lo punya anak sendiri yang lucu-lucu." ucap Adit tergelak.
"Mimpi aja lo sana!!" Nadia melototkan mata dan berkacak pinggang.
__ADS_1
Ngeri banget nih mak lampir! Baru juga ancang-ancang mau bikin gue udah dipelototin dan berkacak pinggang. Gimana kalau gue bikin beneran?? Bisa-bisa gue dilempar ke kutub utara. Adit bergidik ngeri.
Nadia dan Adit mengantarkan Rangga, Aidan dan Yura sampai ke depan pintu apartemen. "Kapan-kapan main lagi ke sini ya sayang... Ajak bunda juga kalau ke sini biar tante masakin makanan yang enak-enak..." Nadia membelai rambut Yura lembut.
Yura mengangguk. "Baik tante... Janji yah tante akan buatin makanan yang enak kalau Yula ke sini lagi??" Yula mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Nadia.
Nadia menautkan jari kelingkingnya ke jari Yura. "Iya sayang... Salam ya buat bunda kamu..." Nadia mencium kening Yura dan Aidan bergantian.
"Dadah tante... Dadah oom Adit..." Yura melambaikan tangannya digendongan Rangga.
"Gue balik dulu Dit, Nad. Besok lo bisa ke kantor gue kalau perlu bantuan." Rangga menepuk bahu Adit.
"Thanks bro, lo emang teman gue yang paling bisa diandalkan." ucap Adit terkekeh.
Rangga mengangguk dan berlalu meninggalkan apartemen.
"Bunda..." teriak Yura yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Iya sayang... Tunggu sebentar bunda lagi masak buat makan malam..." jawab Vara dari arah dapur.
Yura langsung berlari ke arah dapur dan memeluk kaki Vara. "Yula senang bisa pelgi sama ayah dan kakak bunda... Tadi tante Nadia kasih Yula buah buanak... Pelut Yula sampai gendud gini bunda..." ucap Yura mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
"Senang ya bisa pergi sama ayah... Ayah dan kakak Aidannya mana sayang?" tanya Vara yang tidak melihat keberadaan Rangga dan Aidan.
"Masih di depan bunda... Ayah lagi telfonan sama nenek bunda... Tadi ayah suluh Yula panggil bunda kalna ayah mau pulang..."
Vara melepaskan apron yang dikenakannya, menggandeng tangan Yura ke depan rumah. Dilihatnya Rangga masih memegang ponsel di telinganya.
__ADS_1
Rangga mengakhiri telfonnya, berjalan ke arah Vara yang sedang menatapnya. "Gue balik dulu, nanti malam gue akan membahas rencana pernikahan kita dengan bokap dan nyokap gue." ucap Rangga.
"Baiklah... Terimakasih kamu sudah mengajak anak-anak keluar... Sepertinya mereka sangat senang bisa pergi bersama kamu..." ucap Vara tersenyum.
"Gue akan usahakan buat tiap minggu membawa anak-anak pergi bermain. Untuk saat ini gue masih sibuk menangani beberapa proyek."
Vara mengangguk mengerti. Ia sangat paham keadaan Rangga yang sangat sibuk ditambah harus menggantikan posisi papanya menjadi presiden direktur di perusahaan milik keluarganya. "Tidak perlu dipaksakan, anak-anak pasti mengerti kalau kamu sibuk bekerja." Vara masih tidak melunturkan senyumnya ke arah Rangga.
"Gue akan usahakan untuk pernikahan kita dilaksanakan secepatnya. Lo cuma perlu persiapkan diri untuk itu." Rangga sudah memikirkan jadwal beberapa minggu ke depan yang sangat padat dan tidak mungkin menunda lagi untuk menikahi Vara.
"Tapi aku belum membicarakan hal ini dengan ibu, Rangga."
"Besok gue dan keluarga akan datang ke sini untuk membahas pernikahan kita. Dan gue harap lo gak lupa ucapan gue tadi malam."
Hah? Ucapannya yang mana? Agh apa ucapan yang menyuruhku agar menjaga jarak dengan laki-laki lain?
"Gue gak suka jika milik gue diganggu orang lain." ucap Rangga yang melihat kebingungan Vara.
"Agh, iya."
Rangga merogoh saku celana, mengambil sesuatu di dalam dompetnya. "Ini kartu untuk anak-anak, ibu dan lo. Pakailah untuk membeli segala sesuatu keperluan anak-anak atau kebutuhan untuk di rumah. Sandinya nanti akan gue kirim. Dan lo tidak gue izinkan menolak!" tegas Rangga yang tau jika Vara pasti akan menolak pemberiannya.
Vara masih memandang kartu yang berada di tangan Rangga tanpa berniat mengambilnya. "Apa ini tidak terlalu berlebihan Rangga? Aku masih bisa membiayai kebutuhan anak-anak... Kamu tenang saja..." ucap Vara tidak enak.
"Ini adalah tanggung jawab gue sebagai ayah dari anak-anak gue!! Apa lo masih belum paham juga?!" Rangga menjangkau tangan Vara dan meletakkan kartu atm di tangannya.
"Terimakasih Rangga, akan aku pergunakan sebaik-baiknya." pasrah Vara.
__ADS_1
Kenapa dia selalu saja memaksa? Akhir-akhir ini aku lihat dia juga terlalu banyak bicara. Apa cerewetnya Yura berpindah kepada Rangga? Agh entahlah.