
"Kondisi Nona Vara saat ini sangat lemah untuk bisa melahirkan secara normal. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar untuk bisa menyelamatkan anak yang ada di dalam kandungannya, Tuan."
"Lakukan tindakan apa saja agar istri dan anak saya bisa selamat!" pinta Rangga mengusap wajahnya kasar.
Dokter Rinal mengangguk. Meninggalkan Rangga dan Asisten Jo untuk mengurus persiapan operasi. Rangga segera masuk ke dalam ruang IGD. Tubuhnya lemas seketika melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah dengan wajah pucat dan infus yang sudah menancap di tangannya.
Mendengar langkah kaki berjalan ke arahnya, Vara membuka kedua matanya untuk melihat siapa yang sedang berdiri di samping brankarnya saat ini. "Mas.. Perutku sungguh sakit.." lirih Vara. Air mata mengalir di pipinya menahan rasa sakit yang kini mendera di perutnya. "Tolong selamatkan anak kita, Mas.. Jangan pedulikan aku."
Rangga mendudukkan tubuhnya. Mengela nafasnya sebelum menjawab ucapan istrinya. "Anak kita pasti akan baik-baik saja, tenanglah." Mengecup kening Vara dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya. "Jangan berbicara seperti itu! Kamu dan anak kita pasti baik-baik saja."
Pintu ruangan terbuka. Dokter Rinal masuk ke dalam ruangan diikuti perawat. "Sudah saatnya, Tuan." ucapnya yang langsung diangguki Rangga.
Para perawat mendorong brankar diikuti Rangga yang masih setia memegang tangan Vara. "Jangan tinggalkan aku, Mas." lirih Vara ketika sudah sampai di depan ruangan operasi.
__ADS_1
"Aku akan menemani kamu berjuang melahirkan anak kita." ucap Rangga membelai rambut yang menutupi kening Vara.
Selama proses operasi berjalan, Rangga dengan setia mendampingi Vara. Tidak hentinya Rangga mengungkapkan kata cinta dan semangat untuk istrinya itu. Ucapan cinta Rangga terhenti ketika mendengar suara tangisan dari bayi mungil yang sudah berada di tangan dokter Rinal.
"Anak Tuan dan Nona Vara berjenis kelamin perempuan. Bayi yang sangat cantik seperti ibunya. " ucap dokter Rinal menunjukkan bayi yang masih menangis kencang di tangannya.
Rasa haru menyelimuti Vara dan Rangga ketika melihat anak ketiga mereka sudah lahir ke dunia. Rangga bahkan menitikkan air mata harunya. "Terimakasih sudah melahirkan tiga anak yang lucu untukku." ucap Rangga yang dibalas senyuman oleh Vara.
***
Yura yang melihat Ayahnya keluar dari dalam ruangan operasi, meminta diturunkan dari pangkuan Lala. Kaki mungilnya ia langkahkan dengan cepat ke arah Rangga yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk menggendong dirinya.
"Huaaa... Bunda kenapa Ayah... Bunda kenapa lama sekali di dalam sana..." tanya Yura dengan menangis kencang dalam gendongan Rangga.
__ADS_1
"Bunda tidak apa-apa, sayang. Sekarang bunda sedang istirahat di dalam sana."
"Apa adik sudah keluar dari dalam perut Bunda?" tanya Yura mengedip-ngedipkan matanya yang masih basah.
"Sudah... Adik sangat cantik seperti Yura."
"Adik cantik? Apa adik Yura perempuan cantik seperti Yura?" tanyanya lagi.
"Iya, sayang."
"Kamu ini cerewet sekali!" timpal Lala yang gemas dengan keponakannya itu.
Yura mencebik. Melirik ke arah Aidan yang hanya diam saja. "Adik cantik seperti Yura. Tidak seperti Kakak yang jelek." cibir Yura ke arah Aidan.
__ADS_1
Aidan tidak menimpali ucapan adiknya yang baru lancar mengucapkan R itu. "Apa Bunda baik-baik saja, Ayah?" tanyanya. Meski terlihat cuek dan dingin, sejujurnya dalam hatinya Aidan sangat mencemaskan keadaan Bundanya.