Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Kenapa menangis?


__ADS_3

Fero membalas tatapan mata Zia yang tak lepas memandangnya. Semakin lama mata bulat itu nampak tergenangi oleh air mata. Fero membiarkan wanita itu tetap menatapnya walau hatinya bertanya-tanya apakah ucapannya baru saja salah atau tidak mengenakkan di hati Zia. Rasanya ucapannya hanya biasa saja, pikirnya.


Tempat tidur sedikit berguncang ketika Zia memundurkan tubuhnya menjauh dari Fero. Ia sudah terlalu lama menatap pria yang sangat dicintainya tanpa seizin pria itu. Mengadahkan kepala ke arah langit kamar yang di dominasi warna putih. Kedua bola matanya sudah terasa penuh oleh cairan bening yang sudah siap meluncur.


Zia menundukkan kepalanya dengan menutup sejenak kedua kelopak matanya yang membuat cairan bening itu berhasil lolos. Suaranya tercekat ketika ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Fero sebelum semuanya terlambat. Zia tidak ingin berharap lebih dari ucapan yang baru saja pria itu ucapkan.

__ADS_1


"Kenapa menangis? Apa aku berbuat salah kepadamu, Zia?" tanyanya ketika tubuhnya sudah berhasil duduk di tepi ranjang dan mendekatkan diri kepada Zia.


"Bisakah aku minta tolong kepadamu untuk bersikap yang biasa saja kepadaku, Fero? Aku begitu takut dengan hatiku yang akan salah paham dengan sikap dan tutur katamu. Aku tidak ingin hatiku ini begitu lancang berharap cinta darimu yang tidak bisa aku dapatkan. Bersikaplah seperti dulu. Kamu bisa mengabaikanku seperti dulu dan begitu ketus kepadaku. Aku tidak akan mempermasalahkan apapun. Jika kamu berpikir ulang untuk membatalkan niat pernikahan kita, aku tidak akan mempermasalahkannya. Jangan paksakan hatimu untuk bersamaku. Aku sungguh tidak apa-apa tanpamu."


Ucapan Zia berhasil membuat tubuh Fero bergetar. Apa sikapnya selama ini begitu menyakiti hati Zia? Bahkan sudah beberapa kali Zia mempertanyakan dan menyuruhnya berpikir ulang tentang pernikahan mereka. Entah mengapa hati Fero begitu sakit mendengar Zia berniat membatalkan rencana pernikahan mereka.

__ADS_1


Zia yang melihat Fero beranjak dan berjalan ke arah pintu pun segera menyingkap keseluruhan selimut yang masih membungkus kakinya. Zia sadar jika ucapannya yang selalu meragukan Fero itu tidak benar. Sudah terlalu banyak hal yang Fero lakukan untuk dirinya dan anak yang ada dalam kandungannya. Fero bahkan sudah belajar untuk melupakan Vara demi dirinya.


"Maafkan aku, aku sungguh tidak berniat menyakitimu." lirih Zia yang sudah melingkarkan tangannya ke pinggang Fero. Daun pintu yang semula sudah terbuka sebagian pun akhirnya tertutup kembali ketika Fero membalikkan tubuhnya untuk melihat wajah Zia.


Perut Zia yang semakin membuncit menciptakan sedikit jarak diantara mereka. Emosi Fero yang sudah meluap pun seketika redup ketika mendengar ucapan tulus dari mulut mungil Zia. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Dirinya harus sadar jika kini Zia sedang mengandung dan begitu banyak luka yang ia torehkan. Wajar saja jika kini Zia belum bisa penuh mempercayainya.

__ADS_1


***


Beri dukungan dengan cari vote, like dan komennya ya kakak-kakak😌


__ADS_2