Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Kekacauan setelah reuni (Audi)


__ADS_3

Dua minggu kemudian,


Vara mengehempaskan tubuhnya terlentang di atas tempat tidur, ia memejamkan matanya singkat diikuti deruan nafas yang masih naik turun. Setelah sampai di rumah baru milik Rangga, ia langsung membereskan barang-barang milik Aidan dan Yura yang lumayan banyak ia bawa dari rumah Ibunya tadi pagi.


Setelah selesai membereskan barang-barang kedua anaknya, Vara langsung membereskan barang-barang miliknya dan Rangga. Rasa lelah menjalar keseluruh tubuh Vara saat ini, ruangan kamar yang cukup besar membuat ia harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memindahkan beberapa barang yang belum sesuai pada tempatnya.


"Ternyata punya rumah besar tidak enak juga, sepertinya aku harus menambah asupan gizi untuk tubuh kecil milikku ini, supaya aku lebih kuat berjalan di rumah sebesar ini. Rumah ini tidak kalah besarnya dari rumah Mama dan Papa." gumam Vara.


Setelah satu minggu menikah dengan Rangga, Vara mulai terbiasa dengan keberadaan Rangga di dekatnya. Ya, walaupun rasa takut itu masih ada, tapi Vara berusaha dengan cepat menepisnya. Ia merasa tidak pantas menakuti suaminya sendiri, terlebih, Rangga adalah orang yang dicintainya.


Vara merasa lega, karena sampai saat ini, Rangga belum meminta haknya sebagai seorang suami kepadanya. Lelaki itu masih saja terkesan dingin kepadanya, dan berubah menjadi hangat walaupun sedikit kaku di hadapan Aidan dan yura. Vara tau, jika Rangga adalah orang yang tidak suka terlalu banyak bicara, tetapi dengan Yura, Rangga berusaha menyeimbangi sifat gadis kecilnya itu yang selalu saja banyak bicara jika bersamanya.


Untuk saat ini, Vara tidak mempermasalahkan perlakuan dingin Rangga terhadapnya, ia cukup bersyukur, karena Rangga mau menerima kedua anaknya dengan baik, melihat kebahagian yang terpancar dari kedua buah hatinya, sudah cukup membuat Vara bahagia.


Setelah membaringkan tubuhnya beberapa saat di atas tempat tidur, Vara bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya yang sudah melekat dengan keringat. Keluar dari kamar mandi, Vara belum menemukan keberadaan Rangga di dalam kamarnya, setelah mengantarkan Vara dan kedua anaknya, Rangga pamit berangkat ke kantor sebentar untuk memeriksa beberapa file yang akan ia bawa ke luar kota besok pagi.


"Katanya cuma sebentar, kenapa sudah jam segini Rangga belum pulang juga? Apa mungkin pekerjaannya menjadi banyak setibanya di kantor?" gumam Vara dalam hati.


Suara decitan pintu terbuka membuyarkan lamunan Vara, dilihatnya sosok yang ditunggunya sedari tadi sudah berada di ambang pintu dengan rambut yang sedikit berantakan. Rangga berjalan ke arah Vara yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip. Rangga menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vara, apa yang salah dengan penampilannya sehingga Vara menatapnya seperti itu? Pikir Rangga.


Tubuh Rangga yang semakin mendekat ke arahnya membuat Vara menunduk, ia sangat malu ketahuan menatap Rangga seperti itu. "Apa kamu baru sampai, Mas?" tanya Vara.

__ADS_1


"Ya." jawab Rangga singkat.


"Maaf aku tidak menyambut kamu pulang, Mas," Vara menunduk, ia merasa bersalah setelah beberapa kali tidak menyambut kepulangan Rangga.


"Tidak masalah, aku tau kamu pasti capek membereskan barang anak-anak dan barang-barang kita, sebaiknya kamu bersiaplah! Sebentar lagi kita akan keluar untuk makan malam."


"Agh, aku akan memasak saja, Mas."


"Di kulkas tidak ada yang bisa kamu masak, besok pagi pelayan di rumah Mama akan datang membawa bahan-bahan makanan." seru Rangga, karena sebelumnya pelayan di rumah Mamanya datang seminggu sekali hanya untuk membersihkan rumah.


"Kenapa tidak kita saja yang membelinya, Mas?" Vara menyerngit.


Vara mengangguk mengerti, ia tidak berani membalas perkataan Rangga lagi. Menurutnya, berbicara terlalu banyak dengan Rangga hanya akan membuat ia tidak bisa berkutik setelahnya.


"Aidan dan Yura sudah di bantu Bibi untuk bersiap-siap, aku mandi dulu, tolong siapkan baju santai untuk pergi makan malam nanti." perintah Rangga.


"Baiklah, Mas."


***


Audi masuk ke dalam rumahnya dipapah Hellen dan Kinar dalam keadaan kacau, setelah mabuk dan membuat onar di dalam club, Hellen dan Kinar memutuskan membawa Audi pulang ke rumahnya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan mereka selama satu minggu belakangan ini, setelah Audi mengetahui jika Rangga sudah menikahi Vara.

__ADS_1


Mama Sally yang sedang menunggu kedatangan putri semata wayangnya di ruang tamu langsung beranjak dari duduknya ketika melihat kedatangan Audi bersama kedua sahabatnya, Mama Sally berjalan cepat ke arah Audi yang sedang meracau tidak jelas.


"Gue gak akan membiarkan lo merebut Rangga dari gue... Dasar perempuan murahan... Lo gak pantas bersama Rangga!! Hanya gue!! Ya, hanya gue yang pantas menjadi istri Rangga!!" racau Audi.


Hellen dan Kinar membawa Audi ke kamarnya yang berada di lantai atas dibantu Mama Sally. Racauan dan makian Audi terhadap Vara masih terdengar sampai Audi dibaringkan di atas kasur. Mama Sally hanya bisa menghela nafas melihat putrinya yang terlihat kacau setelah penolakan Rangga, apalagi setelah pulang dari acara reuni yang menambah kekacauan Audi.


Mama Sally tidak menyalahkan Rangga atas apa yang menimpa putrinya saat ini, ia sangat sadar jika perasaan tidak bisa dipaksakan. Sekuat apapun Audi berusaha memiliki Rangga, jika Rangga bukan tercipta untuk menjadi pendamping Audi, anaknya, maka Rangga akan tetap melangkah ke arah yang menjadi takdirnya.


"Maaf Tante, kita tidak bisa melarang Audi untuk datang ke club, jika kami membiarkan Audi di sana sendiri, kami takut akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya." sesal Hellen.


Mama Sally mengelus lembut bahu Hellen, "Tante mengerti, maafkan Audi yang selalu merepotkan kalian. Tante juga tidak tau sampai kapan Audi akan seperti ini." Mama Sally beralih menatap putrinya dengan sendu.


"Audi terlalu mencintai Rangga, Tante."


"Ya, Tante tau. Tapi Rangga tidak mencintai Audi, tante juga tidak bisa memaksa Rangga untuk bersama Audi. Kita juga tau, jika Rangga saat ini sudah memiliki istri, bahkan anak." jelas Mama Sally.


Hellen dan Kinar mengangguk membenarkan, "Kalau begitu kami pamit pulang dulu, Tante. Jika ada apa-apa dan Tante memerlukan bantuan, kami siap membantu Tante." ucap Kinar.


"Terimakasih ya, nak. Kalian sudah banyak membantu Audi selama ini. Apa kalian tidak menginap di sini saja? Ini sudah sangat malam," Mama Sally melirik jam yang tergantung di kamar Audi sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. "Nanti Tante akan mengabari orang tua kalian, jika malam ini kalian menginap disini.


Hellen dan Kinar saling bertatapan, mereka membenarkan ucapan Sally. Apalagi banyaknya kejahatan di jalan raya akhir-akhir ini membuat mereka bergedik ngeri. Walaupun mereka sering keluar malam, tapi mereka selalu didampingi kekasih masing-masing untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2