Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Mempertanggungjawabkan


__ADS_3

Fero menatap lama perut buncit di depannya. Apakah benar anak yang ada di dalam kandungan Zia adalah anaknya? Dan Fero meyakinkan satu jawaban jika benar itu anaknya!! Untuk saat ini ia benar-benar tidak menyangka akan memiliki anak dalam waktu dekat.


Tangannya perlahan terulur ke perut buncit itu. Meberanikan dirinya untuk mengelus perut Zia. Fero tersentak ketika merasa adanya pergerakan dari dalam perut Zia. Tangan yang sudah terlepas dari perut Zia, ia ulurkan kembali. Mencoba mengelus kembali perut Zia, Fero dapat merasakan tendangan anaknya yang ada di dalam perut Zia, "Apa kamu tahu jika Papa ada di sini? Maafkan Papa yang tidak bisa menjaga kamu sejak kamu hadir di dalam sini," menempelkan telinganya ke perut Zia. Berharap adanya jawaban dari anaknya walaupun tidak mungkin.


Zia mengerjap, perlahan matanya mulai terbuka. Ditatapnya langit-langit kamar. Ia tahu jika kini sedang berada di dalam kamarnya. Merasa ada yang sedang menempel di perutnya, Zia menurunkan pandangannya. Seketika pandangan mereka bertemu, Zia dengan cepat menepis tangan Fero yang berada di atas perutnya, "Apa yang sedang kamu lakukan di sini!! Pergi dari sini, pergi!!" keras Zia. Berharap Fero menuruti keinginannya untuk pergi dari kontrakan Gita. Bukankah pria itu yang memintanya untuk pergi dan tidak terlihat lagi. Mengapa kini justru pria itu yang memperlihatkan diri kepada dirinya?


Ingin sekali dirinya turun dari tempat tidur dan mengusir pria yang ada di hadapannya. Tetapi Zia mengurungkan niatnya ketika merasa tubuhnya tidak sanggup untuk bergerak. Tenaganya benar-benar hilang. Bahkan untuk berteriak memanggil Gita pun Zia merasa tidak bisa, "pergi dari sini!" lirihnya. memalingkan wajahnya ke samping ketika merasa air matanya siap untuk tumpah.

__ADS_1


"Izinkan Gue untuk mempertanggungjawabkan perbuatan gue kepada lo dan menjadi ayah untuk anak Gue," ucap Fero tiba-tiba.


Zia tersentak mendengarkan ucapan Fero. Mengalihkan pandangannya ke arah Fero, "Apa yang mau kamu pertanggungjawaban? Aku tidak membutuhkan itu, dan juga anak ini bukan anak kamu!" cetus Zia. Air mata membasahi pipinya. Mengingat perlakuan kasar Fero kepadanya membuat Zia sudah memutuskan jalan apa yang akan ia tempuh kedepannya.


"Jangan pernah membohongi sebuah fakta, gue tau lo sedang berbohong."


"Aku tidak peduli jika kamu percaya atau tidak. Sekarang keluar dari dalam kamarku," pintanya. Menunjuk ke arah pintu yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Suruh pria ini keluar dari sini!" perintah Zia dengan nada lemah. Memalingkan kembali wajahnya ke arah samping. Gita menyadari jika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Membisikkan sesuatu ke telinga Fero yang membuat Fero mengangguk mengerti.


"Jadi benar Tuan Fero adalah anak dari ayah kamu?"


"Tuan?" Zia menyerngitkan keningnya dalam.


"Tuan Fero adalah Bos di tempat aku bekerja."

__ADS_1


Zia terbelalak, "Apa kamu sungguh-sungguh?" tanyanya raagu.


"Ya. Perusahaan tempat aku bekarja adalah salah satu perusahaan cabang dari perusahaan pusat keluarga Fero. Jika aku tahu dari awal, aku akan membalaskan rasa sakitmu kepadanya!" Gita menghentikan ucapnnya sejenak ketika mendengar suara dari arah perut Zia.


__ADS_2