
"M-mas Rangga," Vara berucap lirih.
Tangan Rangga terkepal erat ketika melihat dengan matanya sendiri tangan dan kaki istrinya terikat. Asisten Jo yang melihat Audi lengah melihat kedatangan Rangga dengan cepat mengambil korek api dari tangan Audi.
"Sial!" umpat Audi ketika menyadari senjatanya tidak ada lagi di tanggannya. Mengedarkan pandangannya, Audi berdecak ketika melihat anak buahnya sudah terkapar, "Dasar tidak berguna!!"
"Lo tidak pernah berubah dari dulu, Audi!! Sikap lo yang seperti ini membuat gue semakin muak melihat lo!" ucap Rangga menatap Audi tajam.
"Aku melakukan semua ini demi kamu, Rangga!! Aku sungguh mencintai kamu!!"
"Cinta? Itu bukan cinta!! Melainkan hanya obsesi diri lo semata!!" bentak Rangga.
"Agh, M-mas.. To-tolong.. Perutku sungguh sakit," Vara meringis kesakitan ketika rasa sakit itu kembali datang.
Rangga tersadar ketika melihat raut wajah istrinya yang kesakitan. Bahkan keringat dingin sudah membanjiri pelipis Vara. Rangga melirik ke arah asisten Jo yang langsung diangguki asisten Jo.
__ADS_1
Para pengawal Rangga dengan cepat meringkus Audi.
"Lepaskan gue!!" Audi memberontak ketika tubuhnya diseret dua orang pengawal Rangga.
Rangga dengan sigap melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Vara. Wajah Vara sudah memucat dengan keringat yang semakin membanjiri pelipisnya.
"Sa-sakit sekali, M-mas," rintih Vara untuk kesekian kalinya.
"Sabarlah, sayang... Kita ke rumah sakit sekarang."
***
Untuk kali ini Rangga tidak akan membiarkan Audi lolos begitu saja. Ia akan memberikan pelajaran agar wanita itu jera dan akan berpikir dua kali untuk menganggu kehidupan keluarganya. Mobil yang dikendarai asisten Jo sudah sampai di perkarangan rumah sakit.
Rangga keluar dari dalam mobil yang sudah di sambut para perawat dan dokter yang akan menangani Vara. Rangga membaringkan Vara di atas brankar.
__ADS_1
"A-aku su-sudah ti-tidak ku-kuat lagi, Mas," ungkap Vara dengan air mata yang membanjiri pipinya. Rasa sakit kontraksi dan pukulan Audi di perutnya menjadi satu. Selama dalam perjalan Vara sudah sekuat tenaga menahan rasa sakitnya.
"Bertahanlah, sayang. Demi Mas, Aidan, Ayura dan anak yang ada di dalam kandungan kamu!" pinta Rangga. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
Para perawat membawa Vara ke dalam ruang IGD untuk segera ditangani. Rangga yang berniat masuk ke dalam ruangan langsung dicegah Asisten Jo supaya tidak menganggu konsentrasi dokter yang tengah menangani Vara.
Rangga mengusap wajahnya dengan kasar. Tubuhnya luruh ke lantai mengingat wajah Vara merintih menahan sakit. Rasa bersalah kembali datang. Andai saja dirinya tidak meninggalkan Vara di dalam mobil, mungkin saat ini Vara masih baik-baik saja. Asisten Jo yang melihat keadaan Tuannya yang sedang kacau dengan cepat menghampiri.
"Tenangkan diri anda, Tuan. Percayalah semua akan baik-baik saja. Nona Vara wanita yang kuat," menepuk bahu Rangga. Rangga diam tak menanggapi.
Setengah jam menunggu dengan harap-harap cemas, akhirnya dokter yang menangani Vara keluar dari IGD. Rangga berdiri ketika pria berjas putih itu berjalan mengampiri dirinya, "Bagaimana keadaan istri saya dan anak yang ada di dalam kandungannya?" tanya Rangga dengan raut wajah paniknya.
***
Jangan lupa like, komen dan votenya:)
__ADS_1