
Sudah tiga hari Rangga berada di luar Kota, hari ini sesuai perkiraan, Rangga akan pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaan yang ada di Kota B. Sebelum berangkat Rangga menghubungi Vara terlebih dahulu untuk memberi kabar kepulangannya ke Kota J. Dari ujung telepon Rangga bisa mendengar sorakan Yura yang begitu senang mendengarkan kepulangannya.
Setelah melewati perjalanan selama lebih kurang empat jam, Rangga tiba di rumahnya pukul 16.00 WIB, untung saja jalanan tidak terlalu macet sehingga Rangga tidak terlalu lama di dalam perjalanan. Vara yang sedang menunggu Rangga di ruang tamu mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah pun mengajak kedua anaknya keluar, ia yakin, jika Rangga lah yang ada di dalam mobil itu.
Rangga yang melihat kedua buah hatinya yang baru saja keluar dari rumah bertepatan dengan ia yang baru saja keluar dari dalam mobil pun berjongkok merentangkan kedua tangannya dan langsung disambut Aidan dan Yura yang langsung berlari ke arah Rangga dan membenamkan tubuh mereka di dalam pelukan Rangga, sang Ayah.
Rangga memberikan kecupang singkat di kening Aidan dan Yura secara bergantian. Rangga berdiri dengan Yura yang sudah berada di gendongannya. Vara berjalan ke arah Rangga menjulurkan tangannya yang langsung diterima Rangga dengan uluran tangannya untuk dicium Vara.
Rangga melirik ke arah Jo yang sedang berdiri di samping mobil menunggu untuk berpamitan, "Kamu sudah boleh pulang, Jo. Terimakasih sudah mengantarkan saya pulang. Dan istirahatlah," perintah Rangga.
"Baik, Tuan. Saya pamit pulang dulu Tuan, Nona, Tuan Muda Kecil dan Nona kecil."
"Hati-hati di jalan, Asisten Jo," ucap Vara yang langsung diangguki Jo.
Vara mengajak Rangga untuk masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai Jo berjalan meninggalkan halaman rumah.
***
"Jika kamu ingin mandi, aku sudah menyiapkan air hangat buat kamu, Mas," ucap Vara setelah Rangga menanggalkan jas yang membaluti tubuh kekarnya.
"Iya, terimakasih."
Vara menganggukkan kepala sebagai jawaban mengiyakan ucapan Rangga. Setelah Rangga masuk ke dalam kamar mandi, Vara beranjak ke arah walk in closet menyiapkan pakaian ganti untuk Rangga. Vara mendudukkan tubuhnya di atas sofa sembari memejamkan mata setelah selesai menyiapkan keperluan Rangga.
Ucapan Audi beberapa hari yang lalu masih membekas di benaknya. Sudah dua hari Vara selalu kelihatan murung, terlihat jelas di wajah putih pucatnya jika ia sedang menanggung beban pikiran. Walau pun Vara selalu mencoba menutupi apa yang sedang ia rasakan, tapi sebagai seorang ibu, Ibu Ana bisa menangkap dengan jelas jika ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran putrinya. Ibu Ana lebih memilih tidak bertanya dan membiarkan Vara bercerita ketika ia merasa sudah siap.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Rangga yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Dan tangannya nampak sibuk menggesekkan handuk ke rambutnya yang masih terlihat basah.
Wajah Vara terasa memanas dan iya yakin sudah memerah melihat pemandangan di hadapannya. Vara menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya agar tak terlihat oleh Rangga. Walau pun sudah beberapa kali melihat Rangga seperti itu, tetap saja Vara masih merasa malu.
__ADS_1
"Tolong keringkan rambut aku, Ra," perintah Rangga.
"Baik, Mas."
Vara beranjak dari duduknya berjalan ke arah Rangga. Rangga mendudukkan tubuhnya di atas karpet, sedangkan Vara duduk di atas tempat tidur seperti biasanya. Aroma shampo dari rambut Rangga menyeruak ke dalam indera penciumannya membuat tubuh Vara meremang.
"Apa ada masalah selama aku berada di luar Kota?" tanya Rangga singkat, walau pun tidak mendapatkan jawaban dari Vara. Rangga bahkan sudah tau jawabannya. Ia hanya mengetes sampai sejauh mana Vara dapat menyembunyikan masalahnya seorang diri. Bahkan, selama Rangga berada di luar Kota, Zigo selalu memberitahukan kegiatan Vara termasuk Vara yang sering melamun. Dari informasi yang didapatkan, Rangga tau, jika Vara masih memikirkan ucapan dan sikap Audi kepadanya beberapa hari yang lalu di pesta ulang tahun Siska.
"Agh, tidak ada, Mas. Semua berjalan dengan baik selama kamu pergi," jawab Vara lembut, ia tidak mau jika Rangga mengetahui permasalahannya dengan Audi tempo hari yang sebenarnya Rangga juga sudah tahu.
"Apa kamu yakin?" tanya Rangga lagi.
"Iya, Mas. Aku sangat yakin."
"Ra."
"Iya, Mas."
Vara menghentikan sejenak kegiatan tangannya yang sedang mengeringkan rambut Rangga, mencoba menghela nafas yang mulai terasa berat diikuti cairan bening yang mulai tergenang di pelupuk mata. Isakan kecil mulai terdengar di telinga Rangga menandakan Vara sedang menangis.
Rangga berbalik, menatap mata sendu itu sudah penuh dengan air mata. Ia tau, jika Vara akan mudah terpancing dengan ucapannya. Rangga baru melihat sisi lain dari Vara yang selama ini terlihat baik-baik saja di luar, tetapi menyimpan banyak beban di dalam benaknya.
"Kenapa menangis? Apa aku ada salah?" pancing Rangga.
Vara menggeleng, rasanya ia sungguh berat mengeluarkan sekian banyak kata dari mulutnya.
"Lalu?"
"Aku hanya merasa tidak pantas untuk menjadi istri kamu, Mas," Vara menunduk, menggigit bibir bawahnya kuat.
__ADS_1
"Tidak pantas bagaimana?" Ranga berpura-pura tidak tahu.
"Kita bagaikan dua sosok yang berbeda di kehidupan yang sama, Mas. Aku hanyalah seorang anak pegawai kantor biasa, sedangkan kamu—" Vara tidak melanjutkan ucapannya ketika tubuh tak berdaya miliknya sudah berada di dalam pelukan hangat tubuh Rangga.
"Apa pun perkataan orang di luar sana, tidak semuanya harus kamu pikirkan!" tegas Rangga, "Dari sekian banyak manusia yang hidup di bumi. Mungkin hanya beberapa orang saja yang ingin mendukung kita menjadi lebih baik dan tidak menjatuhkan. Sedangkan sebagian banyak lainnya sedang berusaha mengumpulkan banyak rencana untuk menjatuhkan kita ke dasar lubang yang paling dalam sehingga kita tidak mempunyai kemampuan bahkan kesempatan untuk mencapai permukaan," jelas Rangga panjang lebar.
"Maafkan aku, Mas. Aku hanya tidak percaya dengan diriku sendiri selama ini."
"Belajarlah untuk menganggap ucapan orang lain yang bersifat menurunkan kepercayaan dari dalam diri hanya angin berhembus, hanya terasa sesat lalu menghilang," Rangga mengelus rambut bergelombang yang sudah terlihat mulai memanjang.
"Kamu memiliki sesuatu yang tidak banyak dimiliki orang lain, harusnya kamu bangga dengan kelebihan yang ada di dalam diri kamu itu," lanjut Rangga lagi.
Vara menyerngit, kedua alisnya menyatu mendengar ucapan Rangga baru saja, ia sungguh tidak mengerti. Bagian mana dalam dirinya yang ada kelebihan, rasanya tidak ada yang berlebih, pikir Vara.
"Apa itu, Mas?"
"Hati yang bersih," ucap Rangga mantap.
.
.
.
Happy ReadingđŸ˜‰
jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, rate bintang 5 dan votenya jika berkenan. Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :
— Menikahi Pria Kaku —
__ADS_1
Terimakasih ^_^