
Audi tertawa lepas melihat Vara meringis kesakitan. Akal sehatnya entah hilang kemana. Yang ada di dalam benaknya kini hanya menghabisi Vara dengan membuatnya menderita terlebih dahulu, "Tamparan itu tidak sebanding dengan kebahagiaan gue yang sudah lo renggut!!"
Vara semakin ketakutan melihat wanita yang tengah diliputi bara api kemarahan itu. Ia hanya takut jika Audi benar-benar melakukan ucapannya sehingga membuat anak yang ada di dalam kandungannya dalam keadaan bahaya, "Aku tidak pernah merenggut kebahagiaan kamu, Audi. Aku dan Mas Rangga bersama karena takdirlah yang menyatukan kami," Vara mencoba memberikan komentar. Berharap ucapannya bisa membuat hati Audi luluh.
"Hahaha. Takdir? Takdir yang lo buat sendiri, begitu? Gue yang sudah bersusah payah untuk mendapatkan Rangga, dan lo dengan gampangnya mengambil Rangga dari gue!!" bentak Audi.
Air mata membajiri pipi putihnya. Vara menggeleng membantah ucapan Audi. Ia yang hanya gadis biasa, tidak pernah mengharapkan Rangga yang derajatnya sangat jauh darinya bisa menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
"Siram!" perintah Audi kepada anak buahnya yang sudah siap dengan jerigen bensin di tangannya.
Vara semakin ketakutan ketika anak buah Audi dengan cepan menyiram tubuhnya dengan bensin. Mencoba menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk bisa lepas dari lilitan tali yang mengikat tubuhnya.
Tawa Audi menggelegar melihat ketakutan Vara. Wanita polos yang dulu sering di bullynya itu akan menuju detik terakir kematiannya. Dan Audi sudah tidak sabar menantikannya terjadi!!
"Tolong lepaskan aku!! Aku mohon Audi. Agh.. " tiba-tiba saja Vara merasakan sakit yang teramat pada perutnya, "Tolong aku, perutku sungguh sakit," Vara merintih kesakitan. Menurut perkiraan lahir, anak yang ada di dalam kandungnnya akan lahir sekitar dua minggu lagi. Tetapi apakah kini anaknya sudah ingin keluar dengan keadaan yang tidak baik seperti ini?
__ADS_1
"Agh, sa-sakit. To-tolong jangan sakiti anakku, Au-audi," rintihan kesakitan Vara seolah menjadi mainan yang menarik oleh Audi.
Mas Rangga tolong aku dan anak kita. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Rasanya sungguh sakit sekali. Vara hanya bisa berkata di dalam hatinya. Tinjuan Audi semakin menambah sakit pada perutnya. Memejamkan matanya, Vara berharap Rangga bisa dengan cepat menemukan keberadaannya.
Tawa Audi menggema di setiap sudut ruangan. Fokusnya hanya melihat Vara yang kesakitan. ia bahkan tidak sadar jika kedua anak buahnya sudah tergeletak di atas lantai.
Vara memejamkan kedua matanya menahan sakit yang teramat sangat. Ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan dirinya dan anak yang ada di dalam kandungannya. Jika saat ini memang sudah menjadi takdirnya untuk hidup, Vara hanya bisa pasrah. Bayangan Aidan dan Yura melintas di benaknya. Air matanya kembali mengalir deras. Bagaimana keadaan anak-anaknya tanpa dirinya nantinya?
__ADS_1
"Kesakitan yang lo rasakan saat ini, tidak ada apa-apanya dengan kesakitan yang gue rasakan ketika lo merebut Rangga dari sisi gue!! Setelah kematian menjemput lo, gue yang akan menjadi istri Rangga. Dan anak-anak lo yang menyebalkan itu, akan gue buang ke panti asuhan!! Hahahaha.."
"Itu semua tidak akan pernah terjadi!!" suara berat dan penuh amarah sudah berada dekat di belakang Audi. Vara membuka kedua kelopak matanya ketika mendengar suara yang sedari tadi ia panjatkan di dalam doanya.