Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Tidak sadarkan diri


__ADS_3

Tak menghiraukan tatapan karyawan Rangga yang melihatnya heran berjalan sambil menangis. Vara terus melangkahkan kakinya sampai di lobby kantor. Tidak banyak karyawan Rangga yang tahu jika atasan mereka telah menikah. Yang mereka tahu jika Rangga sudah memiliki kekasih yaitu Audi yang sering bolak-balik ke kantor Rangga dan selalu membawakan atasan mereka makan siang. Melihat Zigo yang sedang bercengkrama dengan salah satu staff di sana, Vara menggunakan kesempatan itu untuk segera pergi tanpa sepengetahuan Zigo.


Matahari terasa menyengat masuk ke dalam pori-pori kulit putih wanita yang sedang menangis di sepanjang jalan trotoar. Beberapa mata nampak menatap iba ke arahnya. Terus melangkahkan kakinya menjauh dari kantor Rangga yang sudah membuatnya terluka. Rasa lelah mulai melanda, entah sudah berapa jauh Vara melangkah. Tubuh Vara tiba-tiba saja terasa lemah, kakinya seakan tidak sanggup menompang badannya yang sudah terlalu lemah berjalan jauh dan kurang tidur beberapa minggu belakangan.


Pemandangan sekitar mulai terlihat kabur diikuti mata yang mulai terpejam dan Vara pun pingsan. Beberapa orang yang sedang melewati trotoar nampak mengerumuni sosok yang sedang tidak sadarkan diri. Mereka nampak prihatin pada wanita yang terlihat pucat dan tidak sadarkan diri di hadapan mereka.


Seorang pria keluar dari dalam mobil ketika melihat keremunan orang yang membuatnya penasaran untuk melihat apa yang terjadi. Mata pria itu yang tak lain adalah Fero membelalak ketika melihat wanita yang sedang dikerumuni itu adalah Vara, pujaan hatinya.


"Maaf bapak-bapak dan ibu-ibu, dia adalah teman saya. Saya akan membawanya ke rumah sakit!" Fero dengan cepat mengangkat tubuh lemah tak berdaya itu ke dalam mobilnya.


Hatinya terasa tersayat ketika melihat bekas air mata masih berjejak di ekor mata Vara. Rasa panik melihat Vara yang pingsan membuat Fero menepuk pelan wajah Vara berharap Vara bisa sadar, walau pun hasilnya tetap nihil. Mata bulat itu tetap terpejam tanpa berniat terbuka. Fero tidak sadar, jika pergerakannya menepuk pipi Vara sudah dipotret oleh seseorang yang menampakkan hasil seperti sedang mengelus pipi Vara.


Sesampainya di rumah sakit, Fero yang tidak sabar mengetahui keadaan Vara mencaci maki para perawat yang dilihatnya terasa lambat untuk membawa Vara ke dalam ruangan pemeriksaan.


"Mana dokter, huh?! Panggilkan cepat!! Periksa keadaan wanita ini!! Jika terlambat sedikit saja, jangan harap kalian masih bisa bekerja di sini besok!!" perintah Fero tanpa bantahan, karena rumah sakit itu adalah milik keluarganya.


Para perawat hanya mengangguk dan dengan cepat mendorong brankar Vara menuju ruangan pemeriksaan dan yang lainnya sibuk mencari dokter terbaik di rumah sakit itu.


"Sebaiknya anda menunggu di sini saja, Tuan! Saya mohon pengertiannya," perintah dokter ketika melihat raut wajah panik Fero, jika dibiarkan tetap masuk. Fero bisa-bisa mengganggu konsentrasinya yang sedang memeriksa Vara.


Fero mengangguk cepat, ia juga tidak mau egois untuk tetap masuk ke dalam ruangan. Ia berharap jika keadaan Vara baik-baik saja dan tidak ada hal yang serius menimpa wanitanya.


Suara knop pintu yang terbuka dan menampilkan sosok dokter di sana membuat Fero dengan cepat menghampirinya, "Bagaimana keadaannya?" tanya Fero cepat.


"Bisakah kita berbicara di ruangan saya saja, Tuan?"


"Baiklah, ayo?" Fero dengan cepat mengikuti langkah kaki dokter menuju ruangannya.

__ADS_1


"Jadi bagaimana keadaan Vara?" tanya Fero cepat ketika ia baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan dokter.


"Apa anda suaminya, Tuan?"


"Tidak, ada apa?! Apa yang terjadi kepada Vara?!" bentak Fero tidak sabar.


"Nona Vara sepertinya sedang mengandung, karena tubuhnya terlalu lelah dan kekurangan nutrisi sehingga menyebabkan ia bisa pingsan," jelas dokter yang diketahui bernama Eva itu.


"A-apa?? Vara sedang mengandung?!"


Dokter itu mengangguk membenarkan, "Untuk memastikannya anda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan di rumah sakit ini, Tuan."


"Baiklah! Hubungi dokter itu sekarang juga!" perintah Fero tanpa bantahan.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Vara di bawa menuju ruangan pemeriksaan kandungan dengan selang infus yang sudah menancap di tangannya.


Fero memijit pelipisnya mendengarkan ucapan dokter, ternyata pujaan hatinya itu sudah kembali mengandung anak dari rivalnya. Memperhatikan wajah pucat tak berdaya di atas brankar yang belum berniat membuka mata. Apa yang menyebabkan Vara sehingga bisa pingsan di jalan bahkan kekurangan nutrisi seperti itu. Rasanya Rangga tidak mungkin tidak sanggup memberikan Vara makan, pikirnya kesal.


"Nona sudah bisa dibawa pulang jika cairan infusnya sudah habis, Tuan," lanjut dokter ketika melihat Fero yang hanya diam saja tanpa menimpali ucapannya.


"Baiklah, terimakasih!"


Setelah mengangguk dan menjawab ucapan terimakasih Fero, dokter itu pun berlalu dari dalam ruangan. Meninggalkan Fero yang sedang menggenggam erat tangan wanita yang menjadi cinta pertamanya, "Apa yang sebenarnya terjadi, Ra! Kenapa kamu bisa seperti ini? Apa ini karena Rangga?! Jika benar, aku akan membunuhnya untuk kamu, Ra!" Fero mengelus rambut Vara dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.


Vara perlahan membuka matanya, memperhatikan sekitar yang di dominasi warna putih dan aroma obat yang menyengat. Beralih menatap seseorang yang sedang menatapnya lekat dan menggenggam tangannya erat, "Fero?" lirih Vara. Ingin sekali ia melepaskan genggaman tangan Fero dari tangannya, tapi tenaganya seolah hilang entah kemana sehingga ia membiarkan Fero yang masih menggenggam tangannya erat seakan tidak mau melepaskannya.


"Kamu sudah bangun, Ra. Yang mana yang sakit? Cepat katakan! Aku akan memanggilkan dokter sekarang juga," panik Fero.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu , Fer! Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku?" Vara mengingat kejadian sebelum dirinya tidak sadarkan diri, air matanya kembali mengalir mengingat kejadian di kantor Rangga.


"Kenapa menangis, huh? Yang mana yang sakit, Ra! Cepat katakan! Jangan membuatku khawatir seperti ini."


Bukannya berhenti, tangis Vara justru semakin keras. Hatinya terasa sakit mengingatnya. Seandainya saja Rangga yang saat ini berada di hadapannya dan mengkhawatirkan dirinya seperti Fero. Pasti Vara sangat bahagia.


Fero dengan cepat menghapus air mata yang mulai membasahi wajah sampai ke telinga Vara. Kamu kenapa, jangan diam seperti Ini, Ra. Kamu membuatku tambah khawatir," ungkap Fero.


"Aku sungguh tidak apa-apa," menghela nafas yang terasa mulai memberat, "Sekarang jawab pertanyaanku dulu. Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, Fer? Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Vara yang takut jika ia memiliki penyakit yang parah sehingga ia bisa-bisanya sampai tidak sadarkan diri.


"Kamu tidak apa-apa, Ra. Ka-kamu hanya..."


"Hanya apa, Fer! Cepat katakan, jangan membuatku takut begini, Fer! Apa aku memiliki penyakit yang serius?!"


"Ti-tidak, Ra."


"Lalu aku kenapa, Fer!" desak Vara yang sudah tidak sabar mendengarkan jawaban Fero.


"Kamu hamil, Ra."


"Ha-hamil?"


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5. Beri dukungan supaya author semangat untuk menulisnya.


__ADS_2