
Keributan yang berasal dari dapur mengganggu tidur nyenyak Rangga. Dilihatnya jam yang tergantung di dinding kamar Vara masih menunjukkan pukul 04.50 WIB. Rangga bangkit dari tempat tidurnya keluar kamar menuju ke arah sumber suara. Vara terlihat memotong sayur dengan rambut yang diikat asal yang memperlihatkan leher jenjangnya. Rangga mendekat ke arah Vara yang nampak fokus tanpa menyadari keberadaan Rangga yang sudah berada didekatnya.
"Lo mau masak apa sepagi ini?" Tanya Rangga.
Vara tersentak kaget kedatangan Rangga secara tiba-tiba. "Rangga? Kamu sudah bangun?" Ucap Vara tanpa menjawab pertanyaan Rangga.
Rangga mendudukkan tubuhnya di kursi. "Seperti yang lo lihat! Kegiatan lo membuat gue terbangun." Jawab Rangga datar.
"Agh maaf sudah mengganggu waktu tidur kamu." Ucap Vara merasa bersalah.
"Tidak masalah! Lo mau masak apa?" Tanya Rangga lagi.
"Masak Nasi goreng untuk sarapan nanti." Jawab Vara melanjutkan memotong sayur.
"Apa anak-anak suka nasi goreng?"
"Ya... Mereka sangat menyukai nasi goreng buatanku..."
Rangga mengangguk, ternyata anak-anaknya juga sangat menyukai nasi goreng sama seperti dirinya.
"Apa kamu mau mandi?"
"Ya."
"Baiklah, aku akan mengambilkan handuk dulu."
"Tidak usah! Biar gue yang ambil sendiri."
"Handuknya ada di dalam lemari kamarku sebelah kiri paling atas."
"Oke! Gue ke kamar dulu ambil handuk."
Vara mengangguk dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
***
__ADS_1
Setelah mendapatkan handuk, mata Rangga tertuju pada foto Vara sewaktu masih kecil sampai SMA dan ada beberapa foto Aidan dan Yura sewaktu masih bayi yang dipajang di dinding kamar dan di meja belajar milik Vara. Tadi malam Rangga langsung tertidur setelah Vara meninggalkan kamar dan tidak melihat sekeliling kamar Vara.
Vara kecil nampak menggemaskan, dengan rambut yang di kepang dua dan memeluk boneka beruang didepannya. Wajah Vara nampak semakin cantik dari waktu ke waktu. Rangga mengalihkan pandangannya ke arah foto Aidan dan Yura sewaktu bayi. Bayi-bayi mungil itu nampak sedang tertawa dengan mainan di tangan mungil mereka. Dilihatnya wajah Aidan yang sangat mirip dengannya sewaktu bayi yang pernah Rangga lihat di album foto yang ada di kamarnya.
Rangga membelai foto kedua anaknya, ia sangat menyesal tidak bisa merasakan merawat kedua anaknya sedari mereka di dalam kandungan. Rangga membayangkan bagaimana Vara bisa merawat bayi kembar mereka dengan kondisi Vara yang masih muda. Pasti sangat repot, pikir Rangga. Lamunan Rangga terhenti karena Vara yang masuk ke dalam kamarnya.
"Apa handuknya tidak ketemu Rangga?" Tanya Vara karena sedari tadi ia tidak melihat Rangga keluar dari dalam kamarnya.
"Ketemu kok, ini handuknya." Rangga menunjukkan handuk yang diletakkan diatas meja belajar Vara.
"Oh begitu... Ya sudah aku keluar dulu..." Vara balik badan dan keluar dari dalam kamar."
Rangga menyudahi kegiatan melihat foto Vara dan kedua anaknya. Keluar kamar dan berlalu ke kamar mandi yang berada di dekat dapur.
***
Suasana sarapan kali ini nampak berbeda bagi Rangga. Keadaan yang biasanya hening yang biasanya ia rasakan kini nampak diselingi oleh cerita Yura. Vara dengan telaten menyuapi Yura seperti biasanya dan Aidan yang hanya diam saja menikmati sarapannya tanpa berniat menimpali cerita Yura.
"Nenek kapan pulang bunda...? Yula sudah kangen sama nenek... Apa nanti nenek akan bawa oleh-oleh dali kampung bunda?" Tanya Yura.
"Besok nenek pulang bersama kakek Tio sayang..." Vara mengelap sisa makanan yang tersisa di bibir Yura.
"Apa kamu tidak liat kakak lagi makan?" Kesal Aidan.
"Kan kakak bisa bicala sambil makan... Bilang saja kalau kakak sudah tidak sayang pada nenek..." Yura melototkan kedua matanya ke arah Aidan.
"Yura... Tidak boleh berkata seperti itu kepada kakak... Kakak Aidan pasti selalu sayang pada nenek..." Vara mengelus rambut putrinya.
"Yula mau punya adik saja bunda... Nda mau punya kakak jahad seperti kakak Aidan..." Rengek Yura.
Rangga tersedak makanannya mendengar permintaan putrinya. Vara langsung menyodorkan minum ke arah Rangga yang langsung diteguk habis olehnya.
"Kamu sih Yura!"
"Kenapa Yula?"
__ADS_1
"Kamu tidak lihat ayah sedang makan? Kamu malah berisik dari tadi!"
"Aidan... Kamu lanjutkan lagi makannya... Tidak baik bertengkar di depan makanan..." Ucap Vara lembut.
"Yula mau adik bunda... Kenapa bunda lama sekali membelikan adik untuk Yula...? Teman-teman Yula pada punya adik bunda... Teman di desa dan di sini banyak yang punya adik... Yula sendili yang nda punya..." Rengek Yura lagi.
Wajah Vara memerah menahan malu di depan Rangga. Ia tidak menyangka permintaan Yura yang selalu meminta adik akan ia tanyakan di depan Rangga. "Bunda belum bisa memberikan adik untuk Yura sayang..." Jawab Vara seadanya.
"Kenapa bunda?? Kemana halus membeli adik bayinya?? Suluh ayah saja yang beli bunda..."
"Adik bayi tidak dibeli sayang..."
"Telus?"
Vara memijat pelipisnya bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Yura.
"Tunggu ayah dan bunda menikah maka ayah dan bunda akan memberikan adik untuk Yura dan kakak Aidan..." Timpal Rangga datar.
Mata Vara membulat sempurna mendengarkan jawaban dari mulut Rangga. Ia melihat ke arah Rangga yang dibalas mengedikkan bahu acuh oleh Rangga.
"Benelan ayah?? Asyik... Yula akan punya adik... Yula mau adik pelempuan ya ayah..."
"Iya sayang... Doakan saja biar ayah dan bunda bisa memberikan adik perempuan untuk Yura... Kalau adiknya laki-laki apa Yura tidak akan sayang pada adiknya??"
"Yula akan sayang pada adik Yula ayah... Tapi kalau adik laki-laki nanti suka ejek Yula sepelti kakak... Kakak juga tidak asik diajak main ayah... Kakak suka diam... Yula nda suka... Kakak sepelti patung saja..." Ejek Yura.
Aidan mendelik kesal mendengar penuturan Yura yang memang benar adanya. "Kamu saja yang terlalu berisik! Kakak tidak suka orang berisik..." Timpal Aidan yang tidak terima disalahkan.
"Belisik? Yula nda pelnah belisik kan bunda...?" Tanya Yura ke arah Vara.
Vara terkekeh mendengar perdebatan kedua anaknya yang sudah biasa ia dengarkan setiap harinya. "Kalian ini selalu ada saja yang diributkan setiap harinya..." Vara menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
Rangga tersenyum melihat pemandangan di depan matanya. Senyum Vara yang sangat indah ditambah kedua lesung pipi di kiri dan kanan pipinya. Vara yang merasa diperhatikan melihat ke arah Rangga yang juga sedang melihat ke arahnya. Mata elang tajam milik Rangga yang melihat mata sendu miliknya berhasil membuat jantung Vara berdetak lebih cepat dari biasanya. Vara menundukkan wajahnya merasakan kedua pipinya yang terasa panas dan pasti sudah memerah.
"Wajah bunda kenapa melah?? Apa bunda sakit??" Panik Yura memegang kedua pipi Vara.
__ADS_1
"Eh, tidak sayang..."
Rangga menarik tipis kedua sudut bibirnya melihat Vara yang salah tingkah dilihat olehnya.