Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Mengalirkan rasa sakit


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit. Fero berlari dengan kencang menuju lift. Dirinya tidak memikirkan penglihatan orang-orang yang menatap heran kepadanya. Memasuki lift khusus petinggi pimpinan rumah sakit yang akan membawanya ke ruangan persalinan Zia.


Tangannya terulur dengan cepat membuka pintu ruangan persalinan. Hal pertama yang Fero lihat adalah Zia yang tengah meringis kesakitan dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Langkah kakinya semakin melebar menuju brankar Zia. Zia yang menyadari kedatangan Fero seketika membuka kedua kelopak matanya.


"Fe-fero. Kamu ada di sini?" tangis Zia semakin pecah tatkala pikiran buruknya terkubur dengan kehadiran Fero.


Mama Hera yang melihat kedatangan Fero langsung beranjak dari tempat duduknya. "Duduklah di sini, Fer. Zia membutuhkan kamu. Mama tidak tega melihatnya seperti ini." tangis yang ditahan Mama Hera sedari tadi akhirnya pecah juga. Ia begitu tidak tega melihat putri semata wayangnya kesakitan. Sedari kecil Zia sudah bagaikan permata yang selalu ia jaga. Bahkan sedikit luka saja di tubuh Zia sudah membuat Mama Hera begitu khawatir. Apalagi saat ini ia menyaksikan langsung bagaimana Zia menahan rasa sakitnya untuk melahirkan cucu pertamanya.

__ADS_1


Fero mengangguk mengiyakan. Tubuhnya ia daratkan di tempat duduk yang semula Mama Hera duduki. Fero menggenggam tangan Zia dengan lembut. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk mengelus puncak kepala Zia. "Gunakanlah tubuhku untuk mengalirkan rasa sakitmu, Zia." ucap Fero begitu lirih. Ia begitu tidak tega melihat Zia kesakitan.


"Rasanya aku sungguh tidak sanggup, Fero. Sakit sekali." cengkraman kuku Zia di pergelangan Fero semakin dalam ketika merasakan anaknya begitu tidak sabar mencari jalan lahir.


"Bertahanlah untuk aku dan anak kita. Kita akan membesarkannya bersama-sama." Fero berusaha sekuat mungkin mengeluarkan kata-kata untuk menyemangati Zia. Dirinya berusaha tenang dengan dada yang bergemuruh hebat.


"Jika terjadi sesuatu kepadaku setelah ini. Aku mohon jagalah dia untukku, Fero. Mungkin aku tidak akan pernah bisa memiliki hatimu. Tetapi aku mohon. Tempatkanlah dia di posisi pertama di hatimu. Setidaknya dengan begitu, aku masih bisa merasakan cinta darimu dengan perantara anak kita." ucap Zia begitu lirih. Tangannya semakit erat mencengkram pergelangan tangan Fero.

__ADS_1


Rasa sakit semakin menajalar ditubuh Zia. Rasanya Zia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit untuk mengeluarkan anaknya. Perlahan tangannya yang mencengkram erat pergelangan tangan Fero melemah diikuti mata sayunya yang perlahan ikut menutup. Fero nampak begitu panik melihat keadaan istrinya. Segera ia keluar dari ruangan persalinan untuk mencari dokter yang akan menangani Zia. Secara bersamaan dokter yang akan membantu persalinan Zia sudah berada di hadapannya hendak masuk ke dalam ruangan bersalin.


"Dokter!! Tolong istriku!! Di-dia pingsan!! Tolong sadarkan istriku!!" Fero berteriak begitu ketakutan yang membuat Mama Hera semakin begitu panik dengan keadaan Zia.


Dokter pun segera masuk ke dalam ruangan bersalin untuk mengecek keadaan Zia. "Pembukaannya sudah sempurna. Bayinya sudah siap untuk dilahirkan. Tapi—"


"Tapi apa?! Bagaiamana istriku bisa melahirkan jika dia tidak sadarkan diri seperti ini!!" bentak Fero begitu keras. Melihat wajah Zia yang memucat membuat Fero begitu panik. "Lakukan sesuatu untuk istri dan anakku!! Jika kalian salah bertindak sedikit saja, aku tidak akan segan-segan memecat kalian semua!!"

__ADS_1


***


Happy reading:)


__ADS_2