
Fero tak langsung menjawab pertanyaan Zia. Hanya senyuman tipis yang tersemat di sudut bibirnya. Perhatian Zia teralihkan dengan pintu ruangan rawatnya yang terbuka dengan menampilkan para perawat datang membawa bayi mungil yang masih merah itu masuk ke dalam ruangan. Air mata haru kembali mengalir di pipi Zia ketika melihat malaikat kecilnya sudah hadir di dunia.
"Dia sangat kecil." gumamnya yang diangguki Fero.
Fero menatap haru bayi mungil yang memiliki pahatan wajah nyaris sama seperti dirinya. Matanya mulai mengembun. Agh, rasanya Fero tidak bisa mendefinisikan kebahagiannya saat ini.
Seperti tahu sudah berada di dekat ibunya, bayi mungil itu lantas menangis dengan kerasnya. Mulut mungilnya terbuka lucu seperti mencari asupan nutrisinya. Zia segera memberikan ASI untuk bayinya setelah perawat meletakkan bayi mungil itu di sampingnya.
Seketika wajah putih pucat Zia memerah menahan malu ketika tersadar sedari tadi Fero tak henti memandang ke arahnya bergantian dengan memandang buah hati mereka yang sedang mengambil sumber nutrisinya.
Kening Fero menyerngit dalam ketika melihat perubahan dari raut wajah Zia. Bahkan wajah wanita itu kini ini tundukkan karena malu.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Fero dengan pelan. Takut mengganggu putra kecilnya yang sedang kencang menghisap payudara Zia.
__ADS_1
"Agh, tidak apa-apa!" kilahnya dengan senyuman kaku.
"Apanya yang tidak? Jelas-jelas wajahmu itu memerah, Zia?" Fero merasa tidak puas dengan jawaban Zia yang dianggapnya tidak benar.
Huh, rasanya Zia ingin menenggelamkan Fero saat ini juga ke dalam laut. Apa pria itu tidak sadar, jika dirinyalah yang membuat perubahan dari wajah Zia?
"Aku sungguh tidak apa-apa, Fero. Emh, bisakah kamu tidak memperhatikan kami seperti itu?" cicit Zia karena malihat Fero yang kembali memperhatikannya dan bayinya tanpa kedip.
"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja aku merasa sangat malu dilihat seperti itu." ucap Zia mengeluarkan maksud hatinya. Walaupun beberapa bulan terakhir dirinya dan Fero sudah seperti pasangan suami istri sesungguhnya. Tetap saja Zia merasa sangat malu diperhatikan begitu dalam oleh Fero. Apalagi pandangan pria itu tidak lepas barang sedikit saja darinya.
Fero membuang nafasnya dengan kasar di udara. Seakan membutuhkan banyaknya oksigen, Fero mengirup kasar udara dan membuangnya kembali dengan kasar. Jujur saja ia sangat merasa haru dengan status barunya saat ini. Melihat pemandangan di depannya saat ini, rasanya Fero enggan berhenti menatap pemandangan yang luar biasa ini.
Dan sekarang Zia menyuruhnya untuk berhenti melihat pemandangan indah itu? Agh, yang benar saja Zia ini. Membuat Fero jadi keki saja. Yah, walaupun tersirat sedikit pikiran mesumnya ketika melihat aset miliknya kini dikuasai bayi mungil nan tampan itu.
__ADS_1
Sepertinya aku salah bicara. Lihatlah wajahnya itu. Bagaimana ini?
"Kamu harus terbiasa dengan pandanganku yang seperti ini, Zia. Apa kamu tidak suka jika aku memperhatikan kalian? Memperhatikan wanita dan bayi yang sangat aku cintai?" tanya Fero dingin.
Mencintai? Jadi, Fero benar-benar mencintaiku?
Ada rasa yang tak bisa Zia gambarkan untuk saat ini ketika merasa cintanya sudah tidak bertepuk sebelah tangan. Pria yang ada di hadapannya ini berkata mencintainya? Pancaran kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Zia diikuti matanya yang sudah mulai mengembun.
***
Hallo, Shy datang lagi... Setelah sekian lama off dari dunia halu!!
Happy reading, yah:)
__ADS_1