Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Sudah biasa seperti ini


__ADS_3

"Aku tahu sikapku sudah membuat kamu begitu terluka, Ra. Maaf," ucap Rangga lirih. Mendekati Vara yang sedang menatapnya dengan air mata yang membasahi pipinya. Kembali membawa tubuh tak berdaya itu ke dalam pelukannya. Namun di luar dugaannya, Vara tidak lagi memberontak di dalam pelukannya. Melihat Vara yang diam saja membuat Rangga berkali-kali mendaratkan ciuman di kening Vara sembari mengucapkan kata permintaan maaf.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, Mas," ucap Vara di dalam pelukan Rangga.


Melonggarkan pelukannya, Rangga mengangkat dagu Vara supaya ia lebih leluasa melihat wajah istrinya, "Aku tau kesalahanku sangat sulit untuk kamu maafkan. Tetapi bisakah untuk sekali lagi aku berharap maaf dari kamu? Maafkan aku," Rangga tak henti-hentinya mengucapkan permohonan maaf. Sikap dingin dan tegasnya seakan hilang entah kemana.


Fero hanya bisa menghela nafas, apakah Vara akan semudah itu untuk memaafkan kesalahan suaminya kali ini.


"Aku mohon kamu untuk segera pergi dari sini, Mas. Aku lelah, sungguh lelah dengan semua ujian yang terus saja datang menghampiriku. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi istri yang baik dan bisa dibanggakan untuk kamu. Mungkin Audi benar, jika aku memang tidak pernah pantas untuk mendampingi kamu, carilah kebahagiaan yang bisa membuat kamu bangga dan bahagia bisa mendapatkan istri yang lebih baik dariku," ucap Vara yang sudah terisak.


"Kamu bicara apa, Ra!" protes Rangga. Hatinya bahkan serasa hancur ketika mengingat bayangan Vara yang sedang bermesraan bersama Fero selama hampir satu bulan belakangan ini.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini, Mas. Aku tidak ingin memaksakan seseorang untuk tetap berada di sisiku sedangkan sedikit pun rasa percaya dan cintanya tidak ada untukku," menghapus air matanya. Vara beranjak melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah kamar.


Rangga yang berniat menghentikan langkah Vara seketika mengurungkan niatnya ketika melihat isyarat mata dari Fero. Dua pria yang hampir sama tinggi itu saling bertatapan dingin, "Sebaiknya lo segera pergi dari sini! Gue sudah pernah mengingatkan jika sekali lagi lo menyakiti Vara gue akan merebutnya dari sisi lo!" ucap datar Fero.


Tangan Rangga mengepal, wajahnya memerah menahan amarah di dada. Tanpa menjawab ucapan Fero, Rangga segera melangkahkan kakinya keluar dari apartemen. Menurutnya saat ini lebih baik Vara menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Mengingat Vara yang sedang mengandung dan tidak boleh terlalu banyak pikiran. Rangga memutuskan untuk pulang ke apartemen miliknya untuk memenangkan pikiran. Saat ini pikirannya benar-benar terganggu dengan ucapan Fero yang secara tidak langsung ingin merebut hati Vara darinya.

__ADS_1


***


Vara mengerjap dari tidurnya, kepalanya terasa berat ketika ia berhasil membuka kedua kelopak matanya secara sempurna. Akibat terlalu lelah menangis tadi malam akhirnya Vara pun tertidur. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, Vara tidak menemukan siapa-siapa selain dirinya. Kenapa ia tiba-tiba saja teringat kembali kepada Rangga dan berharap Rangga berada di dekatnya kini.


Vara menggeleng, ia tidak boleh cengeng seperti ini. Kasihan anak yang ada di dalam kandungannya, ia sudah pernah merasakan mengandung tanpa seorang suami. Dan kini Vara juga harus bisa mengandung tanpa adanya Rangga lagi di sisinya. Menurutnya kini yang paling penting adalah kondisi anak yang ada dalam kandungannya baik-baik saja. Ia bahkan tidak mau terlalu memikirkan perasaannya sendiri yang terluka. Biarlah saat ini Rangga bertanya pada hatinya sendiri, apakah namanya sudah tertulis di sana apa hanya sekedar rasa tanggung jawab untuk ibu dari anak-anaknya.


Vara ingat jika hari ini adalah jadwal untuk mengecek kondisi kandungannya. Buru-buru Vara turun dari atas tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari masih gelap. Matahari nampak masih malu-malu menampakkan sinarnya.


Keluar dari kamar, Vara berjalan ke arah dapur untuk melihat kegiatan pelayan yang ditugaskan Fero untuk membantu dirinya selama di apartemen, "Apa ada yang bisa Vara bantu, Bu?" tanya Vara ketika melihat wanita paruh baya yang sedang mengiris sayuran.


"Tidak perlu, Nona. Duduklah Nona, Tuan akan marah jika mengetahui Nona membantu saya di sini lagi."


"Siapa yang tidak ada di sini?" tanya Fero yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Vara.


"Agh, Fe-fero. Kamu di sini? Tumben pagi-pagi sekali sudah ke sini?" tanya Vara menyerngitkan keningnya dalam.


"Aku bahkan tidak pulang sejak tadi malam dari sini," ucap Fero. Mengambil gelas yang tersedia di atas meja makan dan menuangkan air ke dalamnya.

__ADS_1


"Kamu menginap di sini?"


"Ya, aku ingin memastikan bidadariku ini baik-baik saja," ucap Fero terkekeh. Dalam hatinya ia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Vara.


"Kamu terlalu berlebihan, aku sudah baik-baik saja."


"Baguslah, maaf hari ini aku tidak bisa menemani kamu cek kandungan. Hari ini aku harus menghadiri rapat penting di perusahaan yang tidak bisa ditunda dan tidak aku hadiri," sesal Fero.


"Tidak masalah, aku bisa sendiri. Kamu tidak perlu khawatir begitu, Fer!" Vara terkekeh, "Aku bukan anak kecil lagi, bahkan sebelumnya aku juga sudah pernah berada di posisi ini. Posisi dimana aku hanya sendiri kontrol kandungan tanpa dampingan seorang suami, agh sudahlah. Aku akan membantu Bu Ranti menyiapkan makanan untuk kamu," Vara melihat masakan Bu Ranti yang sudah mulai mendidih, ternyata Bu Ranti begitu gesit dalam bekerja. Ia bahkan bisa memasak dua masakan dalam waktu bersamaan.


"Jangan terlalu lelah, aku ke kamar Aidan dan Yura dulu. Sepertinya mereka belum bangun dari tidurnya," Fero beranjak. Meninggalkan Vara yang mulai membersihkan beberapa peralatan dapur yang sudah selesai digunakan.


***


Vara memandang Ibu-ibu yang berada di sekitarnya, hanya ia sendiri yang tidak didampingi suami. Suami para wanita yang berada di sekitarnya nampak begitu antusias ingin melihat kondisi anak-anak mereka yang masih berada di dalam perut istrinya. Vara menghela nafas, matanya mulai tergenang. Sekuat apapun ia menahan, ia tetap hanyalah seorang wanita yang terlalu mudah terbawa suasana dan perasaan.


Apa yang kamu harapkan, Ra? Kenapa kamu masih saja berharap Mas Rangga berada di sini. Dulu juga seperti ini tanpanya dan kamu baik-baik saja. Kenapa sekarang harus cengeng seperti ini? Mungkin sudah menjadi takdir diri ini tidak pernah merasakan namanya mengandung didampingi seorang suami. Aku harus kuat! Nadia benar, aku tidak boleh lemah seperti ini. Demi anak yang ada di dalam kandunganku.

__ADS_1


Vara memejamkan kedua matanya, tak terasa air matanya menetes tanpa ia minta. Sedari tadi ia sudah merasa matanya mulai memanas. Satu nomor antrian lagi namanya akan dipanggil. Vara kembali menatap pemandangan menyesakkan ketika melihat ibu mengandung seperti dirinya keluar dari ruangan pemeriksaan dengan pancaran raut bahagia dengan suami yang berada di sampingnya sedang mengelus perut wanita buncit itu. Seketika Vara tersentak dari lamunannya ketika merasa tangan kekar sedang mengelus perutnya lembut.


__ADS_2