
Vara melepas genggaman tangan Rangga ketika merasa genggaman itu mulai merenggang. Dengan cepat Vara berjalan arah jalan raya untuk memberhentikan taksi yang sedang lewat. Ternyata nasib baik tidak berpihak kepadanya, semua taksi yang melewatinya berisi pemumpang di dalamnya.
"Kamu bisa membahayakan anak kita dengan lari seperti tadi," ucap Rangga yang sudah berada di belakang Vara. Ternyata pria itu sudah membuyarkan rasa terkejutnya mendengar ucapan cinta dari Vara.
"Buat apa lagi kamu menemuiku, Mas? Jika kamu terus seperti ini, bisa saja aku sulit untuk mengikhlaskan kamu pergi dari hidupku," Vara meronta. Berharap Rangga dengan cepat melepaskan genggamannya yang semakin kuat saja.
"Aku tidak mengizinkan kamu untuk menghilangkan semua tentang hidupku dari hatimu," mengelus pipi Vara yang sudah kembali basah karena air mata, "Biar saja semua tentangku tetap terus ada di sini," ucapnya lagi menunjuk dimana letaknya hati Vara.
"Lalu, bagaimana dengan kamu? Mengapa hanya aku saja yang harus mengisi hatiku tentangmu sedangkan di hati kamu sendiri tidak ada aku di sana," gumam Vara.
Rangga tersentak, ia pun belum mengetahui pasti bagaimana perasaanya kepada Vara saat ini, "Apakah hal itu harus menjadi pertanyaan untuk saat ini? Sebaiknya kita pulang. Aku sudah sangat merindukan Aidan dan Yura," ajak Rangga.
"Maaf, untuk kali ini biarkan aku pulang sendiri ke apartemen. Sebelum kamu mengetahui pasti artinya aku di dalam hidupmu, lebih baik kita seperti ini. Maaf sekali lagi karena aku tidak bisa menjadi istri yang baik buat kamu, Mas," lirih Vara.
"Ra—" ucap Rangga terputus ketika mendengar suara datar dari arah belakangnya memotong ucapannya.
__ADS_1
"Lo gak bisa menggunakan telinga lo dengan benar? Bukankah Vara sudah berkata ingin pulang sendiri. Kenapa masih saja memaksa!" cetus Nadia sambil melipat kedua tangannya di dada. Nadia yang berniat masuk ke dalam rumah sakit untuk mengontrol kandungannya bersama Adit pun mengurungkan niatnya ketika melihat Rangga mencekal tangan sahabatnya.
"Yank, jangan emosi dulu! Ingat anak kita yang ada di dalam perut kamu!" perintah Adit yang berdiri di samping Nadia.
"Kamu diam saja! Kamu dan dia," menunjuk Rangga dengan jari telunjuknya, "Tidak ada bedanya! Sama-sama pembohong," lanjutnya lagi dengan menggebu-gebu.
"Kalian tidak perlu repot-repot memikirkan Vara untuk pulang. Gue yang akan membawa Vara pulang ke apartemen," ucap Fero yang sudah berdiri di samping Adit.
Rangga menatap Fero tajam. Di saat seperti ini Fero seperti menyiram bensin pada api yang sedang menyala. Persaingan diantara dua laki-laki tinggi itu mulai terlihat. Seketika pandangan mereka semua beralih kepada Vara yang seketika mengeluarkan suara ingin muntah, "Kamu kenapa, Ra? Mual? Ayo aku antar ke kamar mandi!" panik Nadia. Mencoba mengelus serta memijit tengkuk Vara untuk menghilangkan rasa mual sahabatnya itu.
"Ti-tidak perlu, Nad. Aku ingin pulang saja. Fer, tolong antarkan aku pulang. Sepertinya aku sudah tidak tahan mencium aroma parfum Adit," pinta Vara. Kenyataannya memang setiap Adit dan Nadia berkunjung melihatnya, rasa mual Vara seketika muncul ketika mencium aroma parfum milik Adit.
Rangga hanya bisa menghela nafasnya ketika mendengar Vara yang tidak mau pulang bersamanya dan lebih memilih pulang bersama rivalnya, Fero. Berpikir sejenak, Rangga hanya bisa menyetujui kehendak istrinya itu mengingat Vara yang sedang mengandung dan rasa mual istrinya yang sesegera mungkin ingin dikeluarkan.
"Sudahlah, sebaiknya kamu bawa Vara pulang ke apartemen!" perintah Nadia ke arah Fero.
__ADS_1
"Ayo, Ra!" menarik salah satu tangan Vara. Aksinya itu tanpa sadar membuat wajah Rangga merah padam dengan tangan yang sudah mengepal sempurna.
Vara mengangguk, mengikuti langkah kaki Fero yang membawanya ke arah parkiran mobil. Tanpa sadar air matanya kembali menetes. Sesungguhnya saat ini Vara begitu merindukan suaminya itu. Hanya saja rasa kecewa dan emosi mengalahkan semuanya. Vara hanya bisa memendam rasa ingin memeluk suaminya seorang diri. Rasa ingin dimanja oleh Rangga pun kadang terbesit di pikirannya. Hanya saja Vara tidak mungkin mengutarakan isi hatinya di saat keadaan sedang seperti ini.
Perlahan sosok Vara mulai hilang dari pandangannya ketika tubuh mungil itu masuk ke dalam mobil Fero. Rangga melirik ke arah Adit yang juga sedang menatapnya, "Sabarlah sebentar, Ngga! Sepertinya Vara butuh waktu untuk memahami keadaan ini. Lo juga harus menyadari arti Vara di hidup lo! Gue tahu lo sangat minim pengetahuan tentang urusan cinta. Tetapi lo jangan sampai minim otak untuk menyadari perasaan lo sendiri!" ucap Adit tegas.
Nadia hanya melirik ke arah Rangga sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya, "Tidak semudah itu lo membawa sahabat gue kembali ke dalam pelukan lo setelah apa yang lo lakuin kepada sahabat gue!" geram Nadia.
"Yank! Ayo kita masuk saja ke dalam! Nanti nomor antrian kamu diambil orang lain! " perintah Adit. Adit yang melihat kondisi mulai tidak stabil pun dengan cepat mengajak Nadia untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit. Saat ini ia tidak mungkin memilih antara Rangga yang statusnya adalah sahabatnya dan Nadia sebagai istrinya.
Rangga beranjak dari tempat ia berdiri. Berjalan ke arah mobilnya dengan langkah lunglai. Bagaimana bisa ia jauh dari Vara saat ini. Rangga sungguh sangat ingin menjadi suami siaga untuk Vara. Ia tidak mau mengulangi kejadian yang pernah menimpa Vara 5 tahun lalu lagi.
Mengingat kata-katanya yang kasar kepada Vara membuat Rangga sadar, jika maaf Vara mungkin sulit untuk wanita itu lupakan dalam waktu sebentar. Mencengkram erat kemudi yang sedang ia pegang. Rangga kembali merutuki kebodohannya. Kebodohan memang terletak pada dirinya. Dan Rangga menyadari semua itu.
Melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, ia harus menghadiri rapat kali ini yang sudah dikonfirmasi oleh asisten Jo bahwa rapat harus Rangga sendiri yang menghadiri tidak bisa jika diwakilkan oleh asisten Jo, "Apa sesulit itu untuk kamu memaafkanku, Ra? Aku memang terlalu bodoh. Bahkan dengan mudahnya mempercayai ucapan orang lain dibandingkan kamu istriku sendiri. Maafkan aku, Ra!" lirih Rangga.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Rangga mulai meninggalkan area rumah sakit. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang ke arah kantornya dengan perasaan bersalah yang makin berkecamuk di dalam hatinya.
Tak berbeda jauh dengan Rangga, Vara pun juga merasa bersalah karena membiarkan suaminya itu pergi tanpa dirinya. Untuk saat ini Vara hanya ingin menenangkan pikirannya. Apakah setelah kejadian ini rumah tangga mereka akan kembali membaik seperti sedia kala ataukah rasa egois masing-masing yang akan mengalahkan semuanya.