Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Kesulitan tidur


__ADS_3

Zia menghentikan langkahnya menuju kamar mandi tatkala menyadari jika Fero mengikutinya dari belakang. Zia berbalik. "Emh, kamu mau apa, Fer? Kenapa mengikutiku?" tanyanya ragu.


"Membantu kamu membersihkan diri."


"Huh?"


"Sudahlah jangan membantah. Hari sudah semakin larut. Sebaiknya kita segera membersihkan diri dan beristirahat." ungkapnya tanpa bantahan.


Wajah Zia memerah mendengarkan ucapan Fero. Ragu-ragu Zia mengangguk. Apalagi melihat tatapan mata Fero yang dingin. Zia serasa membeku dibuatnya.


"Fe-Fero?"


"Hm?"


"Bisakah kamu berbalik? Aku akan mandi terlebih dahulu."


"Untuk apa berbalik? Aku yang akan memandikan kamu."

__ADS_1


"Apa?"


"Aku tidak suka kata penolakan. Kemarilah, aku akan memandikan kamu."


Aku sungguh malu.


Dengan ragu-ragu Zia mendekat tanpa melepas pakaian dalam yang masih tersisa di tubuhnya. Fero dengan telaten memandikan Zia selayaknya anak bayi. Tubuh Zia berdesir setiap jemari Fero bersentuhan dengan kulitnya. Detakan jantungnya bahkan tidak bisa diajak kompromi diikuti aliran panas yang menjalar di wajahnya. Ini tidak benar. Perlakuan manis Fero seperti menggambarkan suami yang begitu menyayangi istrinya. Tetapi Zia segera menepis pikiran mustahilnya. Fero tidak mencintainya. Tindakan Fero semata-mata hanya untuk rasa tanggungjawab saja. Tiba-tiba wajah Zia yang memerah berubah sendu ketika memikirkannya. Untung saja posisinya yang menbelakangi Fero membuat pria itu tidak menyadari akan dirinya yang sudah berkaca-kaca.


***


"Tidurlah. Aku akan tidur di sofa." ucap Fero ketika merasakan Zia tidak nyaman dalam posisi tidurnya.


"Hanya saja? Hanya saja apa, Zia?"


"Emh, tidak."


"Katakanlah!"

__ADS_1


"Emh.. Begini. Sepertinya dia sedang aktif bergerak di dalam perutku. Aku kesulitan tidur karena tendangannya yang sangat kencang." ucapnya ragu-ragu. Kenyataannya memang seperti itu. Zia bahkan menggigit kuat bibir bawahnya supaya tidak meringis.


Fero mengangguk paham. Niatnya ia batalkan seketika. Merebahkan kembali tubuhnya setelah sebelumnya menyingkirnya guling yang menjadi pembatas mereka. "Mendekatlah." perintahnya.


Zia mengangguk malu. Wajahnya bersemu merah. Perlahan tapi pasti Zia menggeser tubuhnya mendekat pada Fero. Fero dengan sigap meletakkan telapak tangannya di perut Zia seraya mengelusnya. Ternyata benar. Anaknya begitu aktif bergerak di dalam perut Zia.


"Jangan menyakiti Mama kamu jagoan." ucapnya di sela mengelus perut Zia.


Usapan tangan Fero perlahan membuat pergerakan di dalam perut Zia terhenti. Seolah bayi mereka mengerti jika kedua orangtuanya ingin beristirahat.


"Tidurlah." perintahnya ketika melihat mata Zia yang sudah layu. Tangannya yang semula mengelus perut Zia beralih fungsi memeluk pinggang Zia. Sedangkan tangannya yang bebas Fero gunakan untuk menompang kepala Zia dan menyandarkan di dadanya.


Kepala Zia yang berada di dada Fero membuat Zia dapat mencium dalam aroma Fero yang membuatnya merasa nyaman. Mata Zia perlahan terpejam setelah Fero menanamkan ciuman cukup lama di keningnya.


"Dia begitu menggemaskan." gumam Fero ketika Zia sudah mulai nyaman dalam tidurnya. Wajah putih pucat Zia nampak begitu lucu di mata Fero. Apalagi pipinya yang bertambah bulat dan berisi. Tidak seperti Zia yang ia kenal dulu. "Selamat tidur." gumamnya lagi sembari memberikan kecupan singkat di kening Zia diiringi tangannya yang kembali mengelus perut istrinya.


***

__ADS_1


Happy reading:)


__ADS_2