Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Merayu ibu


__ADS_3

Ketukan pintu dari luar membangunkan Vara dari tidur lelapnya. Vara mengerjap menyesuaikan sinar redup dari sinar lampu tidur yang menghiasi kamarnya. Ketukan pintu berulang membuat Vara langsung bangkit menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Membuka knop pintu, Vara melihat Yura berdiri dengan memeluk boneka kelinci kesayangannya.


"Anak bunda kenapa pagi-pagi sekali sudah bangun?" Vara menggendong Yura membawanya duduk di sisi ranjang. "Apa nenek sudah bangun sayang?" tanya Vara mengingat kedua anaknya tidur bersama ibu tadi malam.


Yura mengangguk pelan, "Tadi kata nenek nda boyeh bangunin bunda... Yula kan mau ketemu ayah... Kenapa ayah belum bangun juga bunda??" Yura merangkak ke arah Rangga mencium pelan seluruh wajah Rangga. "Ayah... Bangun ayah... Yula mau bobo dipeluk ayah..." rengek Yura menggoyangkan tubuh Rangga.


Rangga yang merasa tidurnya terusik membuka kedua matanya, melihat wajah Yura yang sudah begitu dekat dengan matanya. "Putri cantik ayah sudah bangun... Ini kan masih sangat pagi sayang," Rangga bangkit dari tidurnya menyandarkan tubuhnya di kepala Ranjang.


Yura memeluk pinggang Rangga membenamkan kepalanya di perut Rangga. "Yula mau bobo dipeluk ayah... Temen Yula suka celita kalau meleka tidul dipeluk ayah meleka... Yula mau juga ayah... Kenapa tadi malam ayah nda bawa Yula bobo di sini?" ucap Yura manja.


Rangga mencium puncak kepala Yura, gemas. "Yura dan kakak Aidan kan sudah tidur di kamar nenek, jadi ayah tidak tega membangunkan kalian..." kilah Rangga.


"Yula masih mengantuk ayah... Yula mau bobo sebental dipeluk ayah boyeh??" Yura mendongakkan wajahnya menatap mata tajam Rangga dengan mata sendu miliknya.


Rangga terkekeh pelan mendengarkan permintaan putrinya. "Tentu saja boleh sayang, sini tidur sama ayah." Rangga membaringkan kembali tubuhnya yang langsung didekap erat Yura. Vara melihat interaksi antara ayah dan anak itu dengan mata yang sudah tergenang. Impian kedua anaknya untuk merasakan kasih sayang seorang ayah dan punya keluarga yang lengkap akhirnya menjadi nyata. Ia masih tidak menyangka dengan takdir yang mengarahkannya kembali kepada orang yang dulu sangat dicintainya.

__ADS_1


Di saat aku mulai melupakan kamu dalam hidupku, kamu malah memberikanku dua sosok yang akan selalu mengingatkanku kepadamu. Menuntunku untuk kembali menjemputmu. Kamu bagaikan tidak rela jika hatiku melepas jauh namamu di sana, Rangga.


Pelukan hangat yang diberikan Rangga membuat mata sendu Yura terpejam seiring dengan air mata yang lolos dari pelupuk mata Vara. Vara dengan kasar menghapus air mata yang tumpah ruah itu agar Rangga tidak melihatnya. Namun sayang, Rangga sudah lebih dulu melihat wajah Vara yang sudah dibanjiri air mata.


Rangga menatap Vara yang mengalihkan pandangan darinya. Kening Rangga menyerngit dalam memikirkan apa yang menyebabkan Vara menangis. Rasanya ia tidak melakulan apa-apa yang menyakiti hati Vara pagi ini, pikir Rangga.


"Tidurlah, Rangga. Ini masih sangat pagi untuk kamu bangun. Aku akan ke kamar ibu sebentar melihat Aidan dan ada yang ingin aku bicarakan dengan ibu." ucap Vara pelan takut mengganggu Yura yang baru saja tertidur.


Rangga mengangguk. Vara langsung beranjak cepat keluar kamar setelah mendapatkan persetujuan dari Rangga, Ia sangat takut melihat manik hitam tajam yang seperti akan menerkamnya saat itu juga.


Kenapa tatapannya selalu saja dingin seperti itu kepadaku? Rasanya aku juga ingin menatapnya balik seperti itu. Tapi aku mana berani. Huft!


Pagi ini Rangga akan membawa keluarga kecilnya ke rumah orang tuanya sesuai permintaan Mita dan Lala yang ingin Vara dan kedua anaknya tinggal di sana selama seminggu sebelum Rangga membawa mereka tinggal di rumah pribadi milik Rangga. Ya, Rangga sudah membeli rumah yang tidak kalah mewah dari rumah kedua orang tuanya dari hasil jerih payah Rangga sedari sekolah sampai ia melanjutkan pendidikan di Amerika. Rumah itu dibeli setelah Rangga diangkat menjadi presiden direktur di perusahaan keluarganya.


Vara masih mencoba merayu ibunya supaya ikut tinggal bersamanya. Rayuan yang sedari tadi ia layangkan kepada ibu Ana tetap tidak mengubah keputusan wanita paruh baya itu untuk tetap tinggal di rumah yang sudah menjadi saksi perjalanan hidupnya dan suami selama menikah.

__ADS_1


"Vara tidak tega meninggalkan ibu sendirian di sini, bu. Siapa yang akan menjaga ibu, jika Vara tidak tinggal bersama ibu," Vara masih mencoba meyakinkan Ana untuk ikut bersamanya tinggal bersama Rangga.


Ibu Ana menggeleng pelan. "Tidak, Ra. Kamu tenang saja... Ibu tidak sendiri tinggal di sini... Apa kamu lupa jika paman kamu dan bibi Kia memutuskan untuk tinggal bersama ibu di sini?" tanya ibu.


"Apakah paman beneran akan tinggal di sini, bu?" tanya Vara dengan mata berbinar.


Ibu mengangguk, membawa putri semata wayangnya ke dalam pelukannya. "Benar, Ra. Kamu tenang saja ya sayang... Paman sudah membahas ini bersama ibu dan bibi Kia sebelumnya... Jika mereka akan tinggal bersama ibu di sini..." membelai kepala Vara lembut. "Kamu tidak perlu khawatir seperti itu, Ra. Paman kamu pasti akan menjaga ibu..."


"Rumah paman bagaimana, bu?"


"Rumah paman akan ditempati Jino, Ra. Paman juga akan membawa ibu satu minggu sekali untuk menginap di rumahnya sekalian mengunjungi Jino." tutur ibu tersenyum, Ana sangat tau jika putrinya itu pasti sangat mengkhawatirkannya. Wisnu yang mengerti sifat Vara pun mengusulkan untuk membawa Kia tinggal di rumah Ana dan Kia pun sangat antusias menyetujuinya. Selain Kia yang selalu merasa kesepian jika berada di rumah dan bisa membantu Ana di cafe yang diberikan suaminya, tempat Wisnu mengajar pun lebih dekat ditempuh dari rumah Vara.


Vara memeluk Ana erat, ia tidak pernah merasakan jauh dari ibunya sebelum menikah dengan Rangga. Tapi Vara sadar jika kini ia sudah berstatus sebagai istri Rangga dan harus ikut kemana pun Rangga membawanya sesuai nasihat yang selalu ibu ingatkan sebelum ia dan Rangga menikah.


Setelah memasukkan koper ke dalam mobil, Vara dan Rangga pamit kepada Ana diikuti Yura dan Aidan. Yura menangis terisak tidak terima jika berjauhan dari neneknya. Setelah Yura tenang, Vara langsung menggendong bocah kecil itu masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi belakang di samping Aidan yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Ana melambaikan tangan menatap kepergian putrinya yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati, air mata yang sedari tadi ia tahan pun menetes seiring dengan hilangnya mobil yang dikendarai Rangga dari pandangannya.


"Semoga setelah ini kebahagiaan akan selalu menyertai kamu, Ra. Sudah cukup kamu merasakan kesedihan selama ini. Ibu tau jika Rangga adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, dia pasti akan membahagiakan kamu dan kedua anak-anak kalian." gumam ibu beranjak masuk ke dalam rumah.


__ADS_2