
Vara mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan tamu apartemen. Tubuhnya terasa lemah, sedari pagi perutnya serasa diaduk-aduk meminta untuk mengeluarkan isinya. Memejamkan kedua matanya, Vara mengelus perutnya, "Apa kamu merindukan Ayah?" tanya Vara pada janin yang ada di perutnya. Bayangan Rangga selalu menari-nari di pikirannya. Rasa rindunya serasa memuncak saja, padahal baru kemarin ia dan Rangga bertemu di rumah sakit.
"Bunda kenapa? Ada Adik nackal lagi?" tanya Yura yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Gadis kecil itu kemudian mendudukkan tubuhnya di samping sang Bunda.
Vara hanya tersenyum menanggapinya. Yura terlihat memanyunkan bibirnya melihat balasan bundanya. Melihat putrinya yang manyun inginkan ia mengajaknya bicara akhirnya Vara membuka suara, "Bunda tidak apa-apa. Kakak Aidan dimana?"
"Kamal, Kakak masih main sama nenek di balkon," jawab Yura merengut.
Vara terkekeh, Yura memang sering mengajak Aidan bermain boneka dengannya. Tetapi selalu saja ditolak oleh kakaknya itu. Aidan lebih menyukai bermain game di ponselnya yang sekali-kali Vara berikan untuk memakainya.
"Ayah kenapa nda ada kemali Bunda? Yula kangen sangat sama Ayah," lirih Yura. Gadis kecil itu nampak takut jika Vara marah kepadanya yang selalu saja bertanya Ayahnya.
"Ayah masih sibuk bekerja. Jika sudah tidak sibuk lagi, Ayah akan datang menjemput kita," jawab Vara. Hatinya kembali bergemuruh ketika mengingat suaminya itu.
"Sibuk telus, kapan nda sibuknya Bunda?"
"Sebentar lagi, sabar dulu ya."
Yura mengangguk pasrah, merebahkan tubuhnya dengan menjadikan paha Vara sebagai bantal, "Yula sudah nda sabal beltemu adik. Semoga saja adik cantik sepelti Yula. Yula mau adik pelempuan ya, Bunda."
"Mau laki-laki atau perempuan sama saja, sayang. Yang penting adik kamu sehat. Yura harus tetap sayang kepada adik bayi walaupun nanti adiknya laki-laki," nasihat Vara. Yura mengangguk saja di atas paha Vara.
Tak lama rasa mual itu kembali datang, Vara meminta Yura untuk bergeser dari pahanya dan memberikan bantal sofa untuk kepala Yura. Dengan cepat Vara berjalan ke arah westafel untuk mengeluarkan kembali isi perutnya. Deringan telefon membuat Yura yang sedang melihat ke arah Bundanya mengalihkan pandangannya ke arah ponsel Vara yang tergeletak di atas meja sofa.
Gadis kecil itu dengan cepat mengangkat telefon ketika melihat nama sang ayah di sana, "Hallo, Ayah..." pekik Yura kegirangan ketika mengetahui Ranggalah yang menelefon.
__ADS_1
"Yura? Anak Ayah? Kenapa ponsel Bunda bisa sama kamu, nak?" tanya Rangga di seberang telefon.
"Bunda muntah lagi Ayah... Adik selalu saja nackal... Bunda kasian dari pagi muntah telus," rengut Yura.
Rangga yang mendengar penuturan putrinya nampak panik.
"Ayah akan ke sana sekarang juga. Yura jagain Bunda sebentar, ya. Ayah segera ke sana."
Yura mengangguk saja walaupun anggukannya itu tidak akan terlihat oleh Rangga. Panggilan telefon terputus ketika suara Rangga sudah tidak terdengar lagi oleh Yura. Meletakkan ponsel Vara kembali di atas meja sofa. Yura melangkahkan kakinya ke arah westafel untuk melihat keadaan Bundanya.
"Bunda kasian, Adik nackal. Yula nda suka," ucap Yura. Memeluk sebelah kaki Vara dengan kedua tangan mungilnya.
Vara tak menggubris ucapan putrinya, rasa mualnya semakin menjadi walaupun sudah tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari mulutnya. Setelah dirasa baikan, Vara melangkahkan kakinya ke arah meja makan sambil menuntun Yura. Mendudukkan tubuhnya di meja makan, Vara meraih gelas yang berada di dekatnya dan menuangkan air putih ke dalamnya dan segera meneguknya.
"Apa Bunda baik-baik saja?" tanya Aidan yang baru saja keluar dari dalam kamar. Sepertinya persediaan minum di kamarnya habis sehingga Aidan beranjak keluar kamar untuk mengambil air minum dilihat dari tangannya yang sedang memegang gelas.
"Aidan bisa mengambilnya sendiri Bunda," jawab Aidan ketika melihat Vara mengulurkan tangannya ke arah gelasnya.
"Maafkan Bunda yang kurang memperhatikan kalian berdua akhir-akhir ini," sesal Vara.
"Bunda tidak salah, Adik sedang ingin dimanja oleh Bunda."
Vara tersenyum mendengar ucapan Aidan. Pahatan wajah anaknya itu memang sangat mirip dengan Rangga. Kembali bayangan Rangga melintas di pikirannya. Vara menghela nafasnya yang terasa berat. Ia tahu jika saat ini dirinya sungguh sangat merindukan suaminya itu.
Kenapa perasaan rindu ini datang di saat yang tidak tepat? Apa sebegitu rindunya kamu dengan Ayah nak? Maafkan Bunda yang tidak bisa menghadirkan Ayah kamu di sini. Vara hanya bisa membatin dalam gumamamnya.
__ADS_1
"Wajah Bunda terlihat pucat, sebaiknya Bunda istirahat saja di kamar. Aidan dan Yura bermain dengan Nenek saja di kamar," ucap Aidan yang khawatir melihat keadaan Bundanya.
"Nda mahu... Kakak ndak asyik diajak main, Yula sama Bunda saja," rengek Yura.
Aidan melototkan kedua matanya ke arah Yura yang membuat gadis kecil itu mencebik, "Emh, Yula belmain dengan Kakak saja Bunda," ucapnya lagi.
"Maafkan Bunda yang belum bisa memasakkan makanan kesukaan Kakak dan Yura. Bahkan Bunda sudah sangat jarang menemani kalian bermain," ucap Vara berkaca-kaca.
"Yula dan Kakak bisa belmain belsama Nenek. Bunda bobo saja nda apa-apa."
"Mari saya bantu masuk ke dalam kamar, Nona," ucap pelayan yang sedari tadi hanya menyaksikan percakapan ibu dan anak itu.
Vara mengangguk saja. Untuk saat ini badannya memang terasa sangat lemah bahkan untuk dibawa berjalan. Sesampainya di kamar, Vara dibantu pelayan untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Terimakasih, Bu. Maaf sudah sangat merepotkan," ucap Vara tidak enak.
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Nona. Saya keluar dulu, jika ada yang Nona butuhkan jangan sungkan untuk memanggil saya."
Vara menganggukan kepala sebagai jawaban. Setelah pelayan keluar dari dalam kamarnya, Vara memejamkan kedua matanya yang terasa mulai memberat. Hembusan nafas teratur mulai terdengar pertanda Vara sudah tertidur.
Vara membuka kedua kelopak matanya ketika merasa seseorang sedang mengelus perutnya. Melihat ke arah samping Vara terbelalak melihat wajah Rangga yang sudah sangat dekat dengan wajahnya, "Apa aku mengganggu tidur kamu, Ra?" tanya Rangga tak enak hati.
Vara menggeleng, memang sudah hampir dua jam ia tidur dalam keadaan nyaman, "Mas," lirih Vara yang mulai berkaca-kaca. Ia sungguh tidak menyangka jika pria yang sedang dirindukannya sudah berada di hadapan matanya.
Tanpa pikir panjang Vara langsung memeluk tubuh yang sudah sebulan belakangan tidak ia rasakan kehangatannya. Vara menangis tersedu-sedu. Ia bahkan lupa dengan masalahnya dan Rangga. Yang ia ingat hanya rasa rindu yang sudah meluap kepada suaminya itu.
Rangga membiarkan Vara memeluk tubuhnya erat. Hatinya terasa lega, tidak menyangka jika Vara akan kembali memeluk tubuhnya erat seperti yang pernah ia rasakan sebelum kesalahpahaman itu datang.
__ADS_1
***
Maaf akhir-akhir ini author jarang update, kondisi kesehatan sedang tidak baik. Terimakasih untuk yang masih setia membaca cerita recehan aku ini:)