Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Panik


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Sudah satu bulan Fero dan Zia menjalani kehidupan berumahtangga. Selama satu bulan belakangan pula sikap Fero kepada Zia semakin manis. Perhatian dan kasih sayang yang Fero berikan kepada Zia, membuat Zia semakin menjatuhkan hatinya kepada pria itu. Zia tidak tahu, apakah perhatian Fero kepadanya adalah bentuk mengungkapkan rasa kasih sayang dan cintanya atau tidak. Zia sudah tidak memikirkannya lagi. Dengan sikap Fero saat ini saja dengan memberikan perhatiaan penuh kepada mereka dan calon anak mereka sudah membuatnya bersyukur. Setidaknya Fero benar-benar menampakkan jika ia mencintai buah hati mereka.


Usia kandungan Zia yang sudah memasuki sembilan bulan membuat Fero memutuskan mengajak Zia untuk tinggal di rumah orangtua Zia. Sehingga ketika sedang bekerja Fero tidak khawatir meninggalkan Zia sendirian di apartemen. Apalagi mengingat perkataan dokter jika prediksi kelahiran anak mereka sekitar dua minggu lagi.


Zia yang sedang menikmati acara menonton acara televisi bersama Mama Hera tiba-tiba meringis kesakitan ketika merasakan rasa mulas pada perutnya. "Agh!! Perut Zia sakit, Ma..." ringis Zia. Memejamkan kedua matanya erat ketika rasa sakit pada perutnya semakin melanda.


Mama Hera yang melihat putriya meringis kesakitan nampak panik. Berteriak memanggil semua pelayan yang ada di dalam rumah mereka. "Cepat siapkan mobil!! Sepertinya Zia akan melahirkan!!" perintahnya begitu panik. Melihat cairan bening mengalis di paha Zia membuat kepanikan Hera semakin bertambah. "Cepat!! Kenapa lama sekali!!" teriaknya lagi.

__ADS_1


"Agh!!! Perut Zia sangat sakit, Ma. Zia tidak tahan, Ma. Sepertinya anak zia ingin keluar." ringis Zia. Air matanya mengalir deras mewakili rasa sakitnya. "To-tolong hubungi Fero, Ma." pinta Zia disela tangisannya.


Beberapa pelayan wanita membantu Mama Hera membawa Zia masuk ke dalam mobil. Mama Hera bahkan tidak mempedulikan pakaiannya yang hanya memakai daster rumahan. Kondisinya yang sedang panik membuat Mama Hera melupakan untuk menghubungi suami dan juga Fero, menantunya. Mama Hera hanya sibuk mengelus perut Zia. Meminta agar cucunya tidak keluar dulu sebelum sampai di rumah sakit.


"A-apa Mama sudah menghubungi Fero?"


"Hallo, Mama." ucap Fero di seberang sana.


"Ha-halo, Fero!! Feroo Zia sudah mau melahirkan!! Mama dan Zia masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Cepatlah menyusul!!"

__ADS_1


"Apa?! Baiklah, Fero akan ke rumah sakit sekarang juga!!"


Panggilan terputus begitu saja setelah Fero mendengar kabar tentang istrinya. Zayn yang sedang berada di ruangan Fero mendengar ucapan mertua Tuannya segera beranjak dari duduknya. "Kita berangkat sekarang, Tuan."


Fero dengan tergesa-gesa keluar dari ruangannya. Beberapa karyawan yang melihat Fero berlari menuju mobilnya nampak bertanya-tanya. Tidak biasanya bos mereka nampak panik seperti itu. Bahkan jika dalam permasalahan yang sedang rumit saja Fero tidak pernah terlihat panik.


Zayn yang melihat Fero ingin mengemudi dengan sigap menahan tangan Fero ketika hendak membuka pintu. "Biar saya yang menyetir, Tuan. Keadaan Tuan yang sedang panik bisa saja membahayakan keselamat anda." ucapnya hati-hati.


Fero mengangguk menyetujui. Dirinya benar-benar panik dengan keadaan Zia saat ini. Fero tidak ingin Zia memperjuangkan melahirkan buah hati mereka tanpa dirinya. Setelah membuka pintu penumpang untuk Fero. Asiten Zayn segera masuk ke kursi kemudi.

__ADS_1


__ADS_2