
Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Vara terus menangis mengingat putrinya yang terluka. Vara bisa membayangkan bagaimana takutnya Yura saat ini, sedangkan melihat darah yang keluar dari jari Vara ketika teriris pisau saja Yura sudah ketakutan. Apa lagi saat ini darah itu mengalir dari tubuhnya sendiri.
Sesampainya di halaman rumah sakit, kedatangan Vara bersamaan dengan kedatangan Rangga yang baru saja tiba bersama Danu, Alex dan Adit. Bagaikan tak terlihat, Vara hanya memandang Rangga sekilas lalu secepat kilat berlari ke arah resepsionis untuk menanyakan dimana keberadaan anaknya. Setelah mendapatkan informasi dimana ruangan Yura, Vara langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit tanpa peduli tatapan heran orang-orang yang melihatnya.
Vara tiba di depan pintu bewarna putih, ia mencoba menormalkan kembali wajahnya yang sudah basah teraliri air mata. Diusapnya kasar air mata yang masih mengalir, gesekan sepatu yang beradu dengan lantai tak membuat Vara membalikkan tubuhnya. Ia tau pasti Rangga yang sedang berada di belakangnya. Kekhawatirannya kepada Yura lebih besar dibandingkan harus menyapa Rangga terlebih dahulu.
Ceklek, (Suara pintu terbuka)
Vara masuk ke dalam ruangan serba putih yang di dominasi aroma obat. Dilihatnya Yura sedang menatap ke arahnya dengan tangisan yang semakin mengencang. Berjalan cepat ke arah ranjang Yura, Vara langsung mencium singkat kening putrinya.
"Sakit Bunda... Huuuuu... Kaca jahad... Nackal.... Hiks..."
Vara melihat telapak kaki Yura, ternyata benar kata Mama Mita di telepon tadi. Jika luka Yura cukup dalam, bahkan sedikit menganga yang membuat Vara meringis melihatnya.
"Yura tidak mau dijahit kakinya, jika dibiarkan terlalu lama. Nanti lukanya bisa infeksi," ucap Mama Mita yang sedang berdiri di samping ranjang Yura.
Yura menggeleng, "Nda mahuu... Dijahit atit... Yula nda suka... Nda mahu..."
"Kenapa tidak mau sayang? Nanti lukanya tambah sakit jika tidak dijahit," rayu Vara.
"Nanti kaki Yula nda ada lagi Bunda jika dijahit," rengek Yura.
"Hahaha... Kamu ini ada-ada saja Yura... Mana ada kaki dijahit jadi gak ada lagi," cibir Syifa yang sedang duduk di sofa bersama Aidan.
Yura mencebik, "Benal sepelti itu, Bunda?" tanya Yura meyakinkan ucapan Syifa.
Vara mengangguk, "Iya sayang, benar. Anak Bunda yang pintar dan cantik harus mau ya dijahit kakinya. Jika tidak, maka kaki Yura bisa tambah sakit," jelas Vara.
Yura melirik ke atas langit-langit kamar, ia membenarkan ucapan sang Bunda jika saat ini kakinya semakin sakit. Mencoba memikirkan ucapan sanga Bunda, "Yula mau, tapi nda mau atit," Ungkapanya ragu.
"Enggak sakit kok, cantik... Cuma seperti digigit semut..." timpal Dokter muda yang belum diketahui namanya itu.
"Cemut?"
__ADS_1
"Iya, semut..."
"Yula nda suka cemut..."
Dokter itu nampak terkekeh, "Kalau gak suka semut, jadi kamu harus cepat-cepat dijahit kakinya... Supaya semut tidak lama-lama gigit kamu nanti..."
Yura mengangguk-angguk dengan air mata yang masih tersisa di ekor matanya, "Yula nda mau lama-lama digigit cemut... Cemut nackal sepelti kaca..."
"Jadi sekarang kakinya dijahit dulu, biar semutnya tidak nakal lagi..." rayu dokter.
"Bunda..." rengek Yura.
"Iya, sayang," Vara memeluk dari samping, "Mau ya, kakinya dijahit Tante doker dulu," suara Vara mulai melembut.
Akhirnya setelah banyaknya rayuan, Yura pun menyetujui kaki mungilnya itu untuk dijahit. Seperti yang Vara perkirakan, Yura menangis terisak ketika jarum mulai menusuk kedalam kulit telapak kakinya. "Cuma seperti digigit semut kan, sayang," Vara mengelus rambut pirang putrinya.
Yura mengangguk dalam tangisannya, tak lama, kaki Yura pun berhasil dijahit. Vara merasa ngilu melihat jarum itu menari indah ketika dalam proses penjahitan. Ingin rasanya Vara menangis ketika melihat putrinya kesakitan, tapi Vara mencoba sekuat mungkin untuk menahan genangan itu agar tidak tumpah.
Vara menggenggam erat jemari mertuanya, "Itu semua murni kecelakaan, Ma. Kita tidak tau musibah apa yang akan datang menghampiri kita nantinya."
"Kamu memang anak ya baik, nak. Mama beruntung memiliki anak seperti kamu," Mama Mita membawa Vara kedalam pelukannya.
Vara tersenyum dan membalas pelukan Mama Mita, "Vara juga beruntung bisa memiliki Mama," ucap Vara di dalam pelukan Mama Mita.
***
"Maaf, Bunda, Aidan tidak bisa menjaga Yura dengan benar," Aidan menunduk, sebenarnya ia sudah melarang Yura untuk tidak berlari waktu kejadian, tapi karena Yura begitu senang melihat kebun sayur yang ada di rumah tetangga Syifa, gadis itu pun tak menghiraukannya.
Vara tersenyum, "Bunda maafkan, ayo ke sini peluk Bunda," Berjongkok menyesuaikan tingginya dengan Aidan. Aidan langsung memeluk Bunda yang sudah melahirkannya itu.
Rangga masuk kedalam ruangan bersamaan dengan kaki Yura yang baru saja selesai diperban. Yura menatap sendu ke arah Ayahnya, seolah-olah berkata 'Kaki Yura sangat sakit Ayah' Rangga mengerti maksud dari tatapan yang dihunuskan kepadanya, dengan langkah cepat Rangga menghampiri sosok kecil tak berdaya diatas brankar.
"Huaaa... Kaki Yula sakit, Yah..."
__ADS_1
"Yang mana yang sakit?" tanya Rangga pura-pura tidak tahu.
Menunjuk kakinya yang diperban, "Nanti Yula nda bisa jalan, kaki sakit," rengeknya.
"Nanti ayah yang gendong," mencium gemas pipi bulat Yura. Melirik ke arah Vara yang sedari tadi hanya menunduk sejak ia masuk.
"Kenapa?" tanya Rangga ke arah Vara.
Mengangkat wajahnya, ia tahu jika Rangga sedang bertanya kepadanya. Memang kepada siapa lagi? Mama Mita baru saja keluar dari dalam ruangan bersama dokter ketika Rangga masuk.
Vara menggeleng, "Kenapa baru masuk ke dalam?" Bukannya saat ia akan masuk ke dalam ruangan, Rangga sudah berada di belakangnya, pikir Vara.
Rangga menjelaskan ketika ia hendak memegang knop pintu, bahunya ditepuk oleh Papa Bayu dan menyuruhnya untuk diluar saja menunggu sampai kaki Yura selesai di jahit. Mengingat Rangga yang phobia darah, bisa saja Rangga pingsan di dalam ruangan jika tetap melihat.
Vara mengangguk-angguk mengerti, "Yura sudah boleh dibawa pulang. Sebaiknya kita segera membawa Yura pulang agar Yura bisa istirahat di rumah, Mas," ajak Vara.
Setelah mengiyakan ucapan Vara, Rangga langsung menggendong Yura untuk membawanya ke dalam mobil. Di depan ruangan nampak sahabat-sahabat Rangga dan Vara sedang menunggu. Rangga mengajak mereka untuk ke rumahnya sekalian makan siang dan mereka pun mengiyakan.
Di dalam perjalan pulang, Yura bercerita bagaimana kakinya bisa terkena kaca sembari bertanya nama gedung apa saja yang dilihatnya di jalan raya. Lampu lalu lintas bewarna merah, Yura kembali menceritakan jika dia terjatuh akibat berlari tanpa melihat jalan, karena pandangannya hanya tertuju pada kebun sayur yang sedang panen di samping rumah. Yura tidak tahu jika ada pecahan gelas yang akan dibersihkan pelayan rumah tetangga Syifa. Akhirnya setelah terjatuh, kaki Yura pun terkena kaca pula.
.
.
.
Happy Reading😉
jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, rate bintang 5 dan votenya jika berkenan. Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :
— Menikahi Pria Kaku —
Terimakasih ^_^
__ADS_1