
Vara masih memperhatikan kedua anaknya yang baru saja terlelap. Pengakuan Rangga tentang status anak-anaknya masih terngiang di telinga Vara. Vara tidak menyangka Rangga akan melakukan hal itu, mengingat satu sekolahnya dulu juga tau tentang Rangga yang sangat tidak menyukai Vara.
Setelah kejadian tidak mengenakkan itu, Rangga membawa pulang Vara beserta kedua anaknya ke kediaman Vara. Hujan lebat mengguyur kota diikuti gemuruh, prediksi akan terjadinya banjir di jalan menuju rumahnya membuat Rangga mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah setelah mengantarkan Vara dan anak-anaknya.
Rangga masih berdiam diri duduk di sofa ruang tamu rumah Vara menunggu Vara keluar dari kamar anak-anaknya. Penyesalan berkecamuk dalam benaknya mengingat perlakuan dan kata kasar Audi kepada Vara. Bagaimana Vara menjalani kehidupan selama hampir 5 tahun belakangan ini? Pasti begitu banyak caci maki orang sekitar mengingat Vara yang hamil di luar nikah.
Vara yang melihat Rangga duduk bersandar menjadikan kedua tangannya menjadi bantal sembari memejamkan mata berfikir Rangga sedang tertidur di sofa. Vara pun memutuskan untuk membangunkan Rangga supaya tidur di kamarnya saja mengingat Rangga tidak mungkin pulang malam itu.
Vara memegang bahu Rangga dengan lembut seraya menepuknya. "Rangga... Bangun... Jangan tidur di sini nanti badan kamu sakit semua."
Rangga tersentak dan membuka matanya melihat Vara dengan jarak yang begitu dekat dengannya. Tanpa pikir panjang Rangga langsung menarik Vara ke dalam pelukannya yang membuat Vara memberontak minta di lepaskan. Kejadian malam itu masih sangat menghantui pikiran Vara, takut hal itu akan terulang lagi kepadanya.
"Lepaskan Rangga... Kamu kenapa??" Vara masih berusaha melepaskan pelukan Rangga.
__ADS_1
"Bagaimana lo menjalani kehidupan setelah malam itu?" Ucap Rangga lirih.
Vara terdiam dan membiarkan Rangga semakin memeluknya erat. "Kenapa kamu mempertanyakan hal itu?" Jawab Vara mendongakkan kepalanya ke arah Rangga.
Mata sendu Vara membuat Rangga tidak bisa berpaling melihat keindahan yang ada di depan matanya. Kebencian yang selama ini tersimpan dalam hatinya membuat ia tidak menyadari bahwa sosok yang ada di hadapannya ini sungguh sempurna menjadi seorang wanita.
Rangga kembali membenamkan wajah Vara bersandar di dada bidangnya. "Apa lo begitu sulit menjalani hari-hari? Apa banyak perkataan buruk orang sekitar yang membuat hidup lo tidak tenang?" Rangga kembali menanyakan pertanyaan yang masih berkeliaran dibenaknya.
"Aku sudah melupakan itu semua Rangga... Aku tidak mau mengingat hal-hal yang akan membuat aku tidak bersemangat menjalani hari-hari dan membuat keadaanku terpuruk. Kehadiran Aidan dan Yura sudah cukup membuatku bersyukur bisa memiliki mereka... Mereka lah alasan selama ini aku bertahan dan mereka juga yang menjadi penyemangat hidupku selama ini..." Vara menjeda ucapannya.
Rangga membiarkan Vara menumpahkan tangisannya. Air mata Vara membasahi kemeja yang Rangga kenakan. Vara yang menyadarinya langsung melepaskan pelukannya. "Maaf." Ucap Vara pelan. Ia sangat takut jika Rangga akan marah telah membasahi baju yang Rangga kenakan.
"Gue yang seharusnya minta maaf telah membuat kehidupan lo berantakan. Mulai saat ini biarkan gue membalas segala kesedihan yang kalian rasakan selama ini... Gue tidak akan membiarkan Aidan dan Yura mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat... Juga buat lo Vara... Jadi izinkan gue menjadi sosok ayah yang selalu ada buat melindungi anak-anak gue... Ketika gue pulang kerja melihat mereka menjadi obat penghilang rasa lelah gue... Dan juga belajarlah mulai sekarang untuk menerima gue di hidup lo!! Sekali lagi gue tanya dan gue tidak menerima kata penolakan!! Apa lo bersedia menjadi istri gue Vara??"
__ADS_1
Vara mengangguk mengiyakan. Untuk saat ini kebahagian dirinya tidak penting untuknya. Yang paling penting untuk saat ini dan kedepannya adalah kebahagiaan anak-anaknya. Aidan dan Yura pasti akan sangat bahagia bila mengetahui bahwa ia dan Rangga akan segera menikah. Dua tangannya tidak akan cukup untuk menutup banyaknya mulut orang-orang yang akan menghina anak-anaknya yang tidak memiliki ayah dan keluarga yang utuh dan Vara tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.
"Terimakasih... Mungkin saat ini kita akan menikah tanpa adanya cinta diantara kita... Tapi gue berharap lo bisa menerima gue di hidup lo begitupun dengan gue!! Jadi gue minta mulai saat ini lo harus sadar jika lo bukan wanita single yang bisa dekat seenaknya dengan laki-laki lain. Entah kenapa Rangga masih teringat kejadian tadi dimana Fero begitu dekat dengan Vara dan kedua anaknya, terlebih ia dan Fero sudah bersaing sejak sekolah dulu. Mengingat itu saja sudah membuat darah Rangga mendidih dan tangannya sudah terkepal.
Vara begitu tertegun mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rangga. Ia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Rangga. Tapi Vara memilih mengiyakan dari pada membantah. Lagi pula sifat Rangga yang tidak suka di bantah sedari dulu membuat nyali Vara menciut untuk menjawab.
Vara melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 23.05 WIB. "Sebaiknya kamu tidur di kamarku saja Rangga... Aku akan tidur bersama anak-anak... Tidak baik jika kamu tidur di sofa nanti badan kamu bisa pegal-pegal..." Vara tau jika Rangga tidak mungkin tidur di sofa mengingat Rangga yang selalu hidup dalam kemewahan.
Rangga menyetujui saran Vara. Ia juga sudah lelah dan mengantuk, merasa tidak nyaman jika tidur di sofa yang tidak cukup menampung tubuhnya yang tingginya berkisar 180 cm itu. Vara mengantarkan Rangga ke dalam kamarnya yang tidak terlalu luas tapi bersih dan nyaman, sebelumnya ia sudah mengambil baju kaos polos dan celana training dari lemari ayahnya terlebih dahulu.
"Semoga kamu nyaman tidur di sini... Ini ada baju dan celana ayah dulu sepertinya muat jika kamu pakai... Kamu tenang saja ini masih baru belum sempat dipakai ayah... Kalau begitu aku ke kamar anak-anak dulu... Ehm... Semoga kamu mimpi yang indah malam ini Rangga..." Ucap Vara dan langsung menutup kedua bibirnya dengan tangan setelah mengucapkan kalimat terakhir.
Vara langsung keluar dari kamar tanpa mendengarkan jawaban Rangga terlebih dahulu. Ia sangat merutuki kebodohannya yang mengatakan kalimat seperti itu kepada Rangga. Rangga menarik kedua sudut bibirnya melihat Vara yang salah tingkah karena ucapannya sendiri.
__ADS_1
Agh... Aku sangat malu... Bagaimana bisa aku berkata seperti itu kepada Rangga...