
"Kenapa kamu selalu saja berpikiran buruk tentangku, huh? Apakah aku seburuk itu di dalam hati kamu?" Mendekati Vara dan mendudukkan tubuhnya di samping Vara.
"Aku tidak berpikiran buruk tentang kamu, Mas."
"Lalu apa?"
Vara terdiam, isakan tangisannya masih terdengar. Seolah-olah sedang mewakili seruan hatinya. Ia hanya takut terluka dengan harapan yang sudah lama ia impikan. Bagaimana mungkin ia yang hanya bagian serpihan kecil bahkan tidak terlihat bisa menjadi pendamping Rangga yang seperti bongkahan berlian.
Rangga mendekap erat tubuh istrinya. Kaosnya terasa basah oleh air mata tapi ia tidak memperdulikannya. Saat ini hati dan pikirannya juga sedang berkecamuk, entah perasaan apa yang ia miliki saat ini kepada Vara. Kenapa akhir-akhir ini ia sangat takut akan kehilangan Vara dari sisinya. Terlebih setelah melihat bukti cinta Fero kepada Vara yang masih besar, perhatian-perhatian kecil yang sering Fero berikan kepada Vara dan kedua anaknya membuat Rangga sangat takut jika Vara melangkah pergi jauh darinya. Terkadang ia sering bertanya, perasaan apakah sekarang yang ia rasakan. Rangga pun tidak tahu jawabannya.
Membiarkan tubuh lemah itu naik turun di dalam dekapannya, biarlah Vara meluapkan isi hatinya melalui tangisan, pikir Rangga. Ia juga tidak tahu, pemikiran apa saja yang ada di dalam benak istrinya. Terkadang Rangga merasa semenjak Vara menikah dengannya, perempuan itu terlihat lemah dengan mudahnya menumpahkan air matanya tidak seperti yang biasanya terlihat. Sosok tegar dan kuat itu seolah menghilang entah kemana. Apa kah ini lah penampakan sosok Vara yang sebenarnya, lemah dan membutuhkan kekuatan.
Kembali kepada kejadian beberapa tahun lalu, bagaimana Vara menjalani hidupnya dengan merawat dua orang anak dari hasil di luar pernikahan. Hati Rangga teriris ketika mengetahui dari orang suruhannya untuk mencari tahu bagaimana Vara menjalani kehidupan bersama kedua anaknya di desa. Laporan yang Rangga dapatkan hanyalah Vara yang sering di caci-maki, mendapat hinaan setiap saat bertemu dengan para orang yang tinggal di desa karena mengandung anak di luar nikah. Untung saja nenek Vara termasuk orang yang dihargai di desa Itu. Sehingga hujatan itu bisa hilang dengan beriringan waktu.
__ADS_1
Perasaan lega mulai terasa ketika membaca akhir dari laporan pertama, hingga laporan selanjutnya ia baca. Batinnya terasa dihantam ribuan besi panas ketika mengetahui kedua anaknya pun menjadi bahan gunjingan warga sekitar. Bagaimana mereka yang sering diasingkan, mendapat hujatan dari teman-teman sebaya jika mereka tidak memiliki ayah, bahkan Yura yang tidak mau lagi keluar rumah untuk bermain dengan teman-temannya karena selalu menjadi bahan ejekan di antara anak-anak yang lain.
Mencium kening Vara cukup lama, dan kembali membenamkan wajah Vara ke dada bidangnya, "Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku harap percayalah kepadaku, Ra! Bagaimana pun kita di masa lalu itu tidak bisa kamu cerminkan untuk masa sekarang."
Sebenarnya bagaimana perasaan kamu kepadaku saat ini, Mas? Apakah namaku sudah ada tertulis di hatimu saat ini? Dan apakah berhak jika aku berharap kamu untuk mencintaiku seperti aku yang selalu mencintai kamu? Vara hanya bisa berkata di dalam hati. Ingin sekali mulutnya mengeluarkan pertanyaan yang akhir-akhir ini ingin ia tanyakan. Tapi Vara sangat takut, jika jawaban yang keluar dari mulut Rangga akan melukai hatinya lagi. Cukuplah Rangga menjadi ayah untuk kedua anaknya. Rasanya ia tidak pantas jika meminta hati Rangga juga.
Membalas pelukan Rangga, rasa hangat menyelimuti tubuhnya. Aroma maskulin dari tubuh Rangga yang sangat disukainya. Ia sangat berharap jika waktu berhenti sejenak dan ia akan memanfaatkan waktu yang terhenti itu dengan mencium dalam-dalam aroma tubuh pria yang sangat dicintainya. Vara tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya ke dalam hidupnya. Entah ujian apa lagi yang akan ia jalani. Mengingat Rangga yang merupakan idola dari banyaknya kaum hawa termasuk Audi, rasanya Vara tidak sanggup untuk menghadapi mereka nantinya.
"Maaf sudah membuat baju kamu basah, Mas," hidung Vara memerah. Matanya sudah terasa membengkak karena terlalu lama menangis. Bunyi serakan cairan di dalam hidung yang naik turun masih terdengar. Vara mengambil tisu yang berada di atas meja. Mengelap cairan gumpalan dari hidungnya yang melekat di kaos yang Rangga kenakan. Ia sangat takut jika Rangga yang terkenal bersih itu akan marah kepadanya kali ini.
Hati Vara menghangat mendengarkan penuturan Rangga. Meletakkan kedua tangannya di belakang kepala Rangga. Mendekatkan wajah tanpa cela itu ke arahnya. Kemudian membenamkan ciuman cukup dalam, walau pun terasa memalukan tapi Vara tetap melakukannya. Bibir Rangga seperti candu olehnya. Rangga membalas perlakuan istrinya, tubuhnya yang tertidur akhirnya terjaga kembali. Menuntun tubuh yang saling berpaut itu ke atas tempat tidur. Mulai menjelajahi setiap sudut pakaian yang baru saja Vara kenakan. Menariknya kencang hingga kancing-kancing baju bertebaran di lantai kamar.
Vara membiarkan apa yang ingin Rangga lakukan, tubuhnya seperti menuntut untuk merasakan sensasi yang luar biasa itu lagi. Vara sempat berpikir jika Rangga sudah sering melakukannya ketika melihat aksi Rangga yang berhasil membuat tubuhnya meremang dan seperti selalu ingin merasakan sentuhan itu. Vara menepis pikiran buruknya cepat. Ia ingat jika Rangga berteman dengan Danu, Alex dan Adit yang notabennya adalah playboy pada masanya. Pasti pikiran Rangga sudah banyak tercemar oleh mereka, pikirnya.
__ADS_1
Istirahat yang sudah direncanakan ternyata tidak terjadi, Vara membiarkan Rangga merenggut waktu istirahatnya. Entah berapa lama Rangga melakukannya, Vara merasa jika tubuhnya sudah tidak sanggup lagi dan meminta Rangga mengakhiri aksinya. Rangga dengan cepat mengabulkan permintaan Vara. Mengecup singkat kening yang sudah kembali terbanjiri keringat, "Sebaiknya kamu benar-benar istirahat kali ini," wajah pucat Vara yang terlihat membuat Rangga merasa bersalah. Ia bahkan tidak membiarkan istrinya untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu, bahkan menyerang kembali istrinya di saat matahari sudah terasa menyengat ke dalam kulit.
Vara merasa tidak keberatan, ia sudah memasrahkan tubuh dan hatinya untuk pria yang ada di dekatnya saat ini. Rasa lelah dan bahagia bercampur menjadi satu. Ternyata rasa bahagia yang lebih mendominasi di dalam tubuhnya. Entah sampai kapan kebahagiaan itu terus berlanjut, apakah sementara ataukah untuk selamanya? Vara pun tidak tahu jawabannya. Untuk saat ini ia hanya ingin menjalaninya dan selalu berdoa jika rumah tangganya akan baik-baik saja selamanya.
Rangga membenamkan tubuh polos itu ke dalam dekapannya, Vara memeluk tubuh Rangga erat. Kembali mengelus rambut bergelombang itu lembut. Membuat Vara merasa terbuai hingga matanya kian memberat bersamaan dengan rasa lelah yang menjalar ke dalam tubuhnya.
"Aku sangat mencintai kamu, Mas," lirih Vara kemudian tertidur.
.
.
.
__ADS_1
*Happy Reading:)