Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Melindungi


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobilnya, segera Fero melangkahkan kakinya mencari keberadaan Zia yang sudah tidak terlihat lagi. Mengedarkan pandangan kesegala arah, Fero menangkap sosok wanita yang dicarinya tengah duduk di area bermain anak-anak.


Zia nampak memakan jajanan yang dibelinya sembari memperhatikan anak-anak yang tengah bermain perosotan. Wanita itu mengelus perutnya, senyuman dengan raut kesedihan nampak jelas di wajahnya. Fero diam saja di posisinya. Menurutnya saat ini lebih baik ia memperhatikan Zia dari jarak jauh agar wanita itu tidak pergi ketika melihatnya.


Jajanan yang dibelinya telah habis. Zia terkekeh, tidak menyangka nafsu makannya begitu besar akhir-akhir ini. Ternyata begitu menyenangkan melihat keluarga lengkap dan harmonis. Tiba-tiba ia tersenyum kecut, tidak mungkin dirinya merasakan memiliki keluarga kecil. Hanya ada dirinya dan anaknya saja. Tanpa ada sosok ayah di dalam keluarga kecilnya nanti.


Matanya mulai berkaca-kaca. Pandangannya mulai kabur ketika genangan itu mulai memenuhi matanya. Menutup mata, air mata itu akhirnya lolos juga di pelupuk matanya. Zia menggeleng, ia tidak boleh cengeng seperti ini. Anaknya membutuhkan sosok Ibu dan Ayah pada dirinya.

__ADS_1


Beberapa mata nampak menatap iba padanya. Wanita hamil yang nampak menyedihkan tanpa didampingi seorang suami. Tanpa di duga, hujan tiba-tiba datang mengguyur kota. Zia berjalan cepat ke arah gazebo yang sudah mulai dipenuhi orang-orang yang ingin berteduh.


Nasib baik tidak berpihak padanya, gazebo itu telah penuh oleh kerumunan orang. Zia tidak putus asa, ia berjalan ke arah pohon yang cukup besar untuk berteduh. Tiba di bawah pohon, Zia memeluk perutnya. Berharap anaknya tidak kedinginan. Tidak peduli jika hanya dirinya sendiri yang kedinginan. Kini ada nyawa yang sedang ia bawa yang harus ia lindungi.


Tiba-tiba ia merasa air hujan tidak lagi menyentuh rambutnya. Zia mendongak, jas bewarna hitam menutupi kepalanya. Matanya membulat sempurna. Bukan masalah jas yang tiba-tiba menutupi kepalanya. Tetapi pria yang tengah menutupinya.


"Fe-fero," ucapnya terbata. Bagaimana bisa pria itu berada di tempat yang sama dengannya?

__ADS_1


"Lepaskan aku!!" Zia terus memberontak. Berharap Fero melepaskannya. Detak jantungnya bekerja lebih cepat. Tidak ada celah antara mereka kini. Dan Zia tidak suka akan hal itu. Ini tidak benar!!


"Kamu boleh membenciku, tetapi ingat ada anak kita yang sedang ada di dalam perut kamu! Apa kamu mau dia kenapa-napa karena ibunya sakit?!"


Perlahan pergerakan Zia mulai terhenti. Fero benar, ia sudah cukup kedinginan saat ini. Fero menjadikan tubuhnya pelindung Zia yang bersandar pada pohon. Hujan mulai reda. Tanpa aba-aba Fero menggendong tubuh Zia yang membuat wanita itu terbelalak.


"Apa yang kamu lakukan!" ronta Zia. Orang-orang memperhatikan mereka dengan tatapan memuja. Pria dengan tubuh gagahnya menggendong wanita dengan perut buncitnya. Seperti serial drama saja, pikir mereka.

__ADS_1


Fero tak menjawab. Langkah kakinya semakin lebar dan cepat membawa wanita itu menuju mobilnya. Fero membuka pintu mobil dengan kesusahan karena menggendong Zia. Setelah berhasil membuka pintu, Fero langsung mendudukkan tubuh Zia di samping kemudi.


"Aku bisa pulang sendiri. Mobil kamu bisa basah jika begini!" tolak Zia untuk terakhir kalinya.


__ADS_2