Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Kerja sama dengan rival


__ADS_3

Rangga termenung mengetuk-ngetuk pena di tangannya ke meja. Ia masih memikirkan pembicaraan dengan Papanya tadi malam untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan teman papanya yang kini dipimpin Fero. Papanya dan papa Fero memang sudah lama berteman, dan Rangga tau itu. Hanya saja, ia dan Fero sudah menjadi rival sedari sekolah dulu, mungkin sampai sekarang.


Rangga ingin menolak permintaan kerja sama dengan Aditama Company, mengingat Fero yang sedari dulu sudah menyimpan rasa kepada istrinya. Masih teringat di benak Rangga saat di acara reuni, tatapan penuh cinta yang Fero berikan kepada Vara. Sifat Rangga yang profesional, membuat ia dengan cepat menepis urusan pribadi dengan urusan kantor.


Jo masuk ke dalam ruangan Rangga setelah dipersilahkan masuk oleh Rangga. "Meeting sebentar lagi akan di mulai, Tuan. Presiden direktur Aditama Company juga sudah berada di dalam ruang rapat." setelah mengantarkan Fero, asisten dan sekretarisnya ke ruang rapat, Jo bergegas ke ruangan Rangga untuk memberi tahu kedatangan mereka.


"Baiklah, ayo!" perintah Rangga.


Masuk ke dalam ruangan rapat, kedatangan Rangga sudah di sambut hormat orang-orang yang ada di dalam ruangan, kecuali Fero. Aura persaingan masih terlihat jelas dari tatapan mereka, walau pun saat ini mereka akan melaksanakan kerja sama yang saling menguntungkan dua belah pihak.


Rangga duduk di kursi yang sudah dipersiapkan untuknya, setelah kondisi di rasa sudah kondusif, Jo langsung membuka rapat. Sekretaris Fero mulai mempresentasikan produk perusahaan mereka dan menjelaskan keuntungan yang akan mereka peroleh dari hasil kerja sama. Rangga mendengarkan dengan seksama presentasi dari pihak Aditama Company.


Rangga akui perusahaan milik Fero tak kalah berkembang dari perusahaan yang kini dipimpinnya. Rangga dan Fero sudah menampakkan keunggulan dari sekolah dulu, Rangga yang selalu menjadi menjadi pemuncak nilai teringgi di sekolah diikuti Fero setelahnya yang hanya beda beberapa angka saja. Rangga dan Fero juga melanjutkan pendidikan di universitas unggul di luar negri, jadi wajar saja, jika saat ini, mereka sudah sangat berbakat dalam menjalani bisnis masing-masing.


Acara rapat ditutup dengan kesepakatan kerja sama. Rangga dan Fero saling bertatapan dingin dan tajam. Aura persaingan masih melekat di dalam diri mereka. Apalagi Fero tau, jika saat ini Rangga dan Vara sudah menikah. Kekesalannya terhadap Rangga semakin bertambah, karena sudah dengan cepatnya merebut pujaan hatinya untuk menjadikan Vara istri.


Fero juga tidak egois, mungkin keputusan Vara saat ini menerima Rangga sudah benar. Melihat betapa rindunya Yura dan Aidan dengan sosok seorang ayah, pasti kedua bocah kecil itu saat ini sangat bahagia dengan keberadaan Rangga, walaupun ia sudah acapkali menawarkan diri untuk menjadi sosok pengganti ayah untuk Aidan dan Yura kepada Vara. Tapi tetap saja Vara menolak dengan halus tawaran Fero, karena yang pasti, kasih sayang yang Aidan dan Yura dapatkan dari ayah kandung, akan berbeda dari ayah sambung.

__ADS_1


Fero mendekati Rangga untuk berjabat tangan, sebelum menjabat tangan Rangga. Fero terlebih dahulu menghunuskan tatapan tajamnya kepada Rangga diikuti bisikan di telinga Rangga. "Jika lo tidak bisa menjaga Vara dengan baik, jangan salahkan gue, jika suatu saat gue akan merebut permata hati gue dari hidup lo!" setelah menjabat tangan Rangga, Fero berlalu pergi diikuti asisten dan sekretarisnya yang meninggalkan Rangga dengan emosi yang sudah memuncak. Raut wajah Rangga sudah merah padam dan tangannnya sudah terkepal ingin sekali ia layangkan ke wajah tampan Fero saat itu juga.


Sampai kapan pun, gue gak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milik gue! Argh, sial! Umpat Rangga dalam hati.


Rangga keluar dari ruang rapat menuju ruangannya, sebelum Rangga meraih ganggang pintu. Tepukan di bahunya mengurungkan niat Rangga, Adit menyeringai lebar tepat ketika Rangga berbalik badan. Rangga hampir saja melupakan janjinya dengan Adit siang ini.


"Baru siap rapat, Bro?" tanya Adit.


Rangga mengangguk tanpa menjawab ucapan Adit, masuk ke dalam ruangannya diikuti Adit. Adit yang sudah biasa mendapatkan sikap dingin Rangga hanya acuh saja, sampai ia dapat melihat raut wajah penuh amarah Rangga. "Kenapa lo, ada masalah? Atau jangan-jangan kerja sama lo batal?" Adit terkekeh dengan ucapannya sendiri, sangat jarang bagi Rangga tidak mendapatkan apa yang ia mau. Apalagi melihat bisnisnya yang semakin berkembang, perusahaan mana yang tidak mau bekerja sama dengannya?


"Sialan!" Rangga mendengus, melemparkan pena yang sejak tadi ia pegang ke arah Adit. Untung saja Adit dengan cepat mengelak, sebelum pena itu mendarat tepat di keningnya.


"Jadi gimana misi lo? Udah kelar?" tanya Rangga datar.


Adit mengusap kasar wajahnya, dari reaksi Adit, Rangga tau jika misinya gagal lagi kali ini. "Bingung gue, Ngga, habis nikah sama Nadia, gue rasa hidup gue makin gak jelas." keluh Adit frustasi.


Rangga menggeleng melihat wajah frustasi Adit, "Bukan gak jelas, lo aja yang gak memperjelasnya. Lo tinggal bilang keinginan nyokap lo sama Nadia."

__ADS_1


"Lo kayak gak tau aja sikap dia ke gue, Ngga. Belum gue ngomong juga, dia udah kasih tatapan Mak Lampirnya ke gue!" Adit menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menutup wajahnya dengan lengannya.


"Terus mau sampai kapan lo menikmati masa suram lo??" Rangga sangat tau jika akhir-akhir ini Adit susah tidur memikirkan mamanya yang selalu meminta cucu dan membayangkan Nadia yang selalu berpakaian minim di apartemennya, terlebih Adit hanya anak satu-satunya. Melihat raut wajah mamanya yang lesu membuat Adit tidak tega untuk tidak mengiyakan dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Gue juga gak tau, Ngga. Biasanya juga cewek-cewek dengan mudahnya bertekuk lutut di hadapan gue, baru kali ini ada cewek yang nolak gue."


"Jadi lo masih sering mandi air dingin tiap malam?" Rangga menarik tipis kedua sudut bibirnya.


"Seperti yang lo tanyakan." jawab Adit lesu.


"Gue gak nyangka lo bisa nahan selama ini, biasanya lo paling gak kuat yang berhubungan dengan cewek." ledek Rangga.


"Gue juga bingung, setelah gue melihat dia berpakaian minim di apartemen, setiap malam gue jadi susah tidur membayangkan tubuh indahnya, Ngga. Lo gimana sama Vara?" Adit ingat jika temannya ini juga sudah menikah dua hari yang lalu.


"Gue mau kasih waktu sama Vara, gue tau dia masih takut jika dekat-dekat gue." jelas Rangga. "Menurut gue, coba lo bawa Nadia honeymoon, bilang aja lo disuruh nyokap ngajak dia."


Adit menggebrak pelan meja di hadapannya, "Bener juga lo, Ngga! Kenapa gue gak mikir ke situ? Bisa aja setelah gue ajak dia honeymoon, sikapnya ke gue bisa berubah." Adit nampak bersemangat menerima saran Rangga.

__ADS_1


"Coba aja." seru Rangga singkat.


"Thanks, Bro! Lo emang paling bisa diandalkan. Gak salah gue kesini! Gue balik dulu." Adit beranjak dari sofa diikuti Rangga setelah menepuk bahu Adit pertanda memberikan dukungan untuk temannya itu.


__ADS_2