Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Sungguh tidak pantas


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Rangga datar setelah membalikkan tubuh dan menahan gejolak api gairah yang sedang membara di dalam tubuhnya.


Vara menunduk, "Kamu marah masih kepadaku, Mas?" tanya Vara yang merasa jika pengorbanannya memakai gaun tidur sia-sia. Ternyata Rangga tetap saja marah kepadanya.


"Kenapa harus marah?"


"Jika tidak marah, kenapa dari tadi kamu mendiamkanku?" mengangkat wajah yang sudah dialiri air mata.


"Kenapa harus bertanya jika sudah tau jawabannya."


Mengusap air mata yang masih mengalir di pipi, "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud apa-apa. Aku aku tidak akan mengganggu kamu. Tidurlah, Mas."


"Mau kemana?" cegat Rangga menahan pergelangan tangan Vara.


"Aku akan tidur bersama anak-anak malam ini," lirih Vara.


"Setelah menggodaku, lalu kamu akan pergi begitu saja? Kamu pikir aku akan membiarkan itu terjadi?" bisik Rangga di telinga Vara. Menarik salah satu tali gaun yang terikat di bahu Vara.


Vara dengan cepat menahan tangan Rangga yang ingin menanggalkan tali gaunnya, "Ja-jangan, Mas! Kenapa kamu mau menanggalkannya?" protes Vara.


Kabut gairah yang sudah memuncak dan deru nafasnya yang kian memanas lenyap seketika mendengar penuturan Vara, "Kamu tidak memerlukan gaun ini untuk malam ini, bahkan ... untuk malam seterusnya," ucapnya dengan sorotan mata yang ingin menerkam.


"Bukannya kamu menyuruhku untuk memakai pakaian ini malam ini?! Lantas, kenapa kamu menyuruhku menanggalkannya sih Mas!" protesnya lagi dengan polosnya.


Rangga tidak lagi menghiraukan ucapan Vara, kabut gairah yang sudah mulai kembali memuncak membuatnya dengan cepat menarik pinggang ramping Vara dan langsung membenamkan ciuman ke bibir Vara. Tangan Rangga tidak tinggal diam, mengelus lembut punggung Vara yang hanya tertutup kain tipis bewarna merah itu lalu menyusup ke dalamnya.


"Mas..." lirih Vara yang mulai terbawa gairah.


"Apa?" tanya Rangga menyatukan keningnya dan kening Vara setelah melepas pangutannya.

__ADS_1


Vara tidak menjawab, hanya sorotan gairah yang terpancar dari sorot matanya yang menjawab pertanyaan Rangga. Rangga mengerti jika istrinya sudah mulai terbawa oleh permainannya. Menuntun Vara dan membaringkannya di atas tempat tidur dan langsung menindihnya.


Tangan Rangga dengan lihai menanggalkan satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Vara hingga memperlihatkan tubuh polos yang putih tanpa noda. Nafasnya kian memburu melihat pemandangan indah yang terpampang nyata di hadapannya. Dengan cepat menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya hingga keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.


Rangga mulai memposisikan tubuhnya, ia tahu jika Vara sedang gugup. Membelai lembut pipi Vara dengan jari jempolnya, "Aku akan melakukannya sangat lembut, tenangkan diri kamu," perintah Rangga sembari melepaskan tangan Vara yang sedang menutupi bagian tubuhnya yang terekspos.


Vara mengangguk sebagai jawaban mengiyakan. Perasaan takut di dalam dirinya mulai menghilang seiring perlakuan lembut yang Rangga berikan kepadanya. Walau pun sudah pernah melakukannya dengan Rangga sebelumnya, tapi tetap saja Vara merasa kesakitan karenanya. Vara memasrahkan tubuhnya untuk pria yang dicintainya malam itu. Ia tidak menyangka jika Rangga tidak habis tenaga untuk menghajarnya sampai pagi menjelang hingga Vara tidak kuat lagi dan tertidur.


Rangga memperhatikan lekat wajah wanita yang mulai menghiasi hari-harinya. Mendaratkan ciuman cukup lama di kening Vara kemudian menghapus bulir keringat yang masih tersisa di sana, "Terimakasih," ucapnya seraya menutup tubuh polos Vara dengan selimut.


***


"Kamu kenapa?" tanya Rangga yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit pinggangnya.


Vara meringis, "Sakit sekali, Mas! Aku sepertinya tidak kuat jika harus ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi ini."


"Aku sudah menyuruh Bibi untuk menyiapkan sarapan pagi ini, apa masih sakit?" tanya Rangga yang melihat Vara kesusahan berjalan dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya.


Vara mengangguk, "Minggir, Mas! Aku mau membersihkan tubuhku."


Rangga tak menjawab, ia langsung melepaskan selimut yang melilit tubuh istrinya dan menggendong Vara ke kamar mandi. Lekukan tubuh Vara yang terlihat jelas oleh matanya membuat gairahnya memuncak kembali. Di kamar mandi Rangga kembali melakukannya lagi atas izin Vara yang tidak tega melihat suaminya harus menahan gejolak di dalam tubuhnya.


Rangga meletakkan sarapan untuk Vara di atas nakas, untung saja Yura tidak banyak bertanya ketika Rangga berkata jika Bundanya sedang beristirahat. Sehingga bocah kecil itu tidak meminta untuk masuk ke dalam kamarnya melihat keberadaan sang Bunda.


"Terimakasih, Mas. Kamu tidak perlu repot-repot seperti ini," Vara menunduk, tidak berani menatap suaminya setelah mengingat kejadian tadi malam dan baru saja dilakukannya dengan Rangga di dalam kamar mandi.


"Tidak masalah, makanlah! Setelah ini kamu bisa istirahat."


"Yura bagaimana, Mas? Dia pasti sedang mencariku saat ini," ucap Vara mengingat Yura yang sudah biasa disuapi ketika makan oleh dirinya.

__ADS_1


"Aku sudah memberitahunya dan Aidan jika kamu sedang istirahat, makan dan istirahatlah! Aku tau kamu pasti lelah."


Vara mengangguk, badannya terasa remuk atas perbuatan Rangga kepadanya. Ucapan Rangga yang berkata lembut ternyata hanya sebentar dilakukannya. Selebihnya Rangga melakukannya dengan gairah yang membara. Membuat Vara dengan susah payah meladeni suaminya yang seperti tidak kenal lelah.


Vara mulai menyuapkan sarapan nasi goreng yang dibuatkan pelayan di rumahnya. Vara menghentikan sejenak santapannnya, ia ingat jika Rangga tidak menggunakan pengaman, bagaimana jika ia hamil lagi pikirnya ragu.


"Mas, kenapa kamu tidak menggunakan pengaman?" tanya Vara menunduk malu.


"Untuk apa?" dahi Rangga mengkerut, ia sungguh tidak mengerti dengan pertanyaan Vara.


"Bagaimana jika aku hamil lagi, Mas?" tanya Vara dengan mata yang mulai tergenang.


"Lantas? Apa masalahnya jika kamu hamil lagi, Ra!" kesal Rangga.


"Apa kamu tidak keberatan jika aku mengandung anak kamu lagi, Mas. Aku takut kamu tidak bersedia mempunyai anak dari rahimku," tanyanya dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.


"Kamu ini bicara apa, Ra! Apa masalahnya jika kamu mengandung anakku! Apa jangan-jangan kamu masih mengharapkan untuk kembali bersama Fero, huh?!" bentak Rangga yang sudah tersulut emosi.


"Aku hanya perempuan biasa, Mas. Aku sungguh tidak pantas mengandung anak kamu. Hadirnya Aidan dan Yura pun akibat kesalahan yang kamu sendiri tidak menyadarinya. Aku tidak mau membuat kamu bertambah malu karena memiliki anak dariku lagi..." Vara menangis terisak mengeluarkan isi hatinya yang mengganjal, "Kamu menerima Aidan dan Yura saja sudah cukup membuatku senang. Aku hanyalah bagian terkecil dari orang-orang yang sangat pantas menjadi ibu dari anak-anak kamu dan yang sepadan dengan kamu, Mas. Tidak seperti diriku yang tidak akan pernah pantas bersama kamu."


Rangga tersentak, bagaimana bisa Vara berpikir serendah itu kepadanya. Ia bahkan tidak pernah mempermasalahkan jika Vara mengandung anaknya lagi. Bahkan itu sudah bagian dari rencananya agar Fero sadar jika Vara tidak lagi bisa untuk ia jangkau kedalam dekapannya.


.


.


.


Maaf ya kakak-kakak jika ceritanya kurang menarik, shy nulisnya buru-buru banget. Mohon dukungannya dengan cara like, komen, vote dan kasih bintang 5 supaya shy makin semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2