
Sesampainya di cafe, Vara masuk ke dalam mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan mencari keberadaan Ibunya. Vara menyerngit, biasanya jika masih pagi begini Ibu sedang duduk di meja kasir menonton TV bersama Bibi Kia sembari menunggu kedatangan karyawan cafenya.
"Kok Nenek nda ada, Bunda?" tanya Yura dalam gendongan Vara. Karena masih dalam mode merajuk ditinggal sang Ayah, Yura pun meminta sang Bunda menggendongnya turun dari mobil sampai masuk ke dalam cafe.
"Iya, kemana Nenek, Bunda?" timpal Aidan, tidak biasanya Neneknya itu tidak menyambut mereka.
Vara menggeleng, "Bunda juga tidak tau, sayang. Coba kita lihat ke dapur, mana tau Nenek ada di sana." kemana lagi Ibu akan pergi jika tidak kedapur, pikir Vara.
Aidan mengangguk, Vara melangkahkan kakinya ke arah dapur diikuti Aidan. Baru beberapa langkah Vara berjalan, sudah terdengar suara Ibu, Bibi Kia dan dua karyawannya sedang mendiskusikan sesuatu. Dengan langkah cepat Vara berjalan ke arah dapur untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.
Ibu, Bibi Kia dan dua karyawannya nampak sedang mengatur beberapa bahan makanan yang sepertinya baru saja di beli, Vara menurunkan Yura dari gendongannya dan berjalan ke arah Ibu. "Kenapa banyak sekali bahan makanannya, Bu?" tanya Vara, karena kemarin Ibu sudah membeli beberapa bahan untuk stok di dalam kulkas.
Ibu mengalihkan pandangan ke arah Vara sambil tersenyum, "Oh iya, Ibu lupa bilang sama kamu kemarin, Ra, jika hari ini kita mendapatkan orderan cukup banyak.
"Oh, ya? Buat acara apa, Bu?"
"Buat acara ulang tahun, Ra. Nak Rangga jadi berangkat keluar kota, Ra?" tanya Ibu.
Vara mengangguk, "Jadi, Bu. Vara berangkat ke sini setelah Mas Rangga berangkat, Bu." tutur Vara.
"Suami kamu ganteng banget, Ra. Pantas saja Aidan kecil begini sudah jadi idola." timpal Bibi Kia.
Vara terkekeh merona, "Biasa aja ko, Bi. Gantengan juga Paman Wisnu." goda Vara.
"Agh, kalau itu mah, gak usah diragukan lagi, Ra. Kamu lihat saja hasil cetakannya gimana." Bi Kia ikut terkekeh.
"Iya, iya, Bi."
"Ra, kamu bisa nanti sore mengantarkan pesanan makanan? Pesanannya cukup banyak, lumayan susah jika dibawa pakai motor, Ra." jelas Ibu.
__ADS_1
"Bisa, Bu. Nanti Vara akan minta tolong Mas Zigo untuk mengantarkan Vara."
"Supir pribadi kamu itu masih muda ya, Ra. Gak kalah ganteng dari Rangga. Tapi suaranya itu mahal banget sama seperti suami kamu, Bibi sampai geram gitu kalau lagi bicara sama dia."
"Geram gimana, Bi?"
"Dia hanya mengangguk-angguk saja jika Bibi tanya, kesal Bibi tuh, Ra."
Vara tidak dapat menahan tawanya mendengar ucapan Bibinya, "Hahaha, dia memang seperti itu, Bi. Bibi sudah tau dia seperti itu, masih saja menggodanya. Nanti jika paman tau, bisa diceramahi lagi Bibi."
"Biarin saja, Ra. Bibi tuh suka sama yang ganteng gitu, mah." Kia cekikian.
"Bibi ada-ada saja," Vara menggeleng-gelengkan kepalanya diikuti Yura.
"Ini anak kecil kenapa ikut geleng-geleng kepala?" Bibi Kia melirik ke arah Yura yang sedang duduk di kursi.
Yura memicingkan matanya ke arah Bibi Kia sambil berkacak pinggang, "Nenek Kia nackal, nda boyeh goda-goda Oom nanti Kakek malah."
Yura memberontak minta diturunkan, "Tulunkan Yula, Nenek... Nda mahu diginiin... Nda mahu... Tulunkan... Tulunkan Yula, Nek... Bundaa..." Yura memanggil-manggil Vara meminta bantuan.
Ibu menggeleng melihat tingkah kakak iparnya itu, "Sudah, sudah, Mbak... Nanti Yura bisa ngompol digituin terus..."
Bibi Kia menyudahi aksinya menurunkan Yura dan mendudukkannya kembali di kursi, "Aduh... Gimana sih cucu Nenek, udah umur segini masih aja ngomol." ledek Bibi Kia.
Yura mencebikkan bibir mungilnya, "Siapa yang ngompol... Yula nda ngompol... Yula kan syudah besal... Iya kan, Bunda?" Yura melirik ke arah Vara supaya mengiyakan ucapannya.
"Sudah besar tapi gak bisa bilang R, gimana sih si cerewet ini..." Kia mengacak rambut pirang Yura.
Sebelum Yura menyahut ucapan Bibi Kia, Vara sudah lebih dulu mengambil alih Yura dan menggendongnya. "Kalian main dulu di depan, Bunda mau membantu Nenek memasak."
__ADS_1
Setelah menurunkan Yura, Aidan mengajak Yura keluar dari dapur, ia sudah terlalu sering melihat drama seperti ini setiap harinya setelah Bibi Kia membantu neneknya di cafe.
***
Vara melirik jam di pergelangan tangannya, sudah lebih dari 5 jam Rangga tidak mengirim pesan jika sudah sampai di kota B, Biasanya perjalanan dari Kota J ke Kota B hanya di tempuh 4 jam saja memakai mobil. Vara mulai tidak tenang, takut terjadi apa-apa kepada Rangga di dalam perjalanan. Ibu yang melihat kegelisahan Vara sedari tadi mencoba menenangkannya.
"Mungkin Rangga lupa mengabari kamu, Ra. Atau dia langsung bekerja setiibanya di sana." tutur Ana menenangkan putrinya.
Agh, ada benarnya juga kata Ibu. Kenapa aku tidak berfikiran ke sana? Huh, kenapa aku jadi khawatir berlebihan begini memikirkan Rangga.
"Sebaiknya kamu lanjutkan mengemasi makanannya, Ra. Nanti kita bisa terlambat mengantarkan pesanannya." perintah Ibu.
Vara mengangguk mengiyakan, melanjutkan kegiatannya memasukkan makanan yang sudah jadi ke dalam kotak. Untung saja Yura dan Aidan sedang tidur, sehingga Vara tidak repot meladeni tingkah manja Yura yang selalu ada-ada saja jika ia sedang bekerja.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB, Rangga belum juga memberikan kabar jika ia sudah sampai. Vara mencoba berfikiran positif dan mengalihkan kegelisahannya dengan menyibukkan diri melayani para pengunjung yang lumayan ramai siang itu.
Sesuai kesepakatan, pesanan makanan akan diantarkan pukul 15.00 WIB. Kotak-kotak makanan sudah tersusun rapi di dalam plastik. Dengan di bantu Zigo, Vara mulai memasukkan pesanan ke dalam mobil. Setelah dirasa siap, Vara berpamitan kepada Ibu dan juga Bibi Kia untuk mengantarkan pesanan.
Mobil yang dikendarai Zigo memasuki gerbang bewarna putih setelah dibukakan pagar oleh security, Vara melihat rumah yang ada dihadapannya, sepertinya ia sudah tidak asing dengan rumah ini. Setelah memberhentikan mobil tepat di depan teras rumah, Zigo membantu Vara mengeluarkan pesanan dari dalam mobil.
"Biar saya saja yang membawa pesanannya ke dalam, Mas." ucap Vara ke arah Zigo.
"Mari saya bantu, Nona. Saya bisa dimarahi Tuan jika tidak melakukan pekerjaan dengan baik." elak Zigo supaya Vara mengerti.
Vara mengangguk pasrah, ia juga sedang tidak mau berdebat dengan Zigo. Vara tau, jika yang dilakukan Zigo sesuai perintah Rangga kepadanya, dan Rangga paling tidak suka dibantah. "Aidan, Yura, ayo masuk." ajak Vara ketika melihat kedua anaknya masih berada di depan mobil melihat-lihat sekitar.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading😉