Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Gara-gara berkas


__ADS_3

"Maaf sekali lagi, Nona. Gita tidak bisa diganggu saat ini karena sedang rapat dengan petinggi perusahaan," resepsionis memberikan pengertian kepada Zia yang terus meminta untuk bertemu dengan Gita.


"Saya hanya ingin mengantarkan berkas ini kepada Gita, Mbak! Tolonglah, sekali ini saja!" mohon Zia. Walau telah menunjukkan berkas yang ia bawa, tetapi tetap saja resepsionis tidak mempercayainya.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang berada di belakang Zia dengan nada datarnya.


Seketika raut wajah resepsionis terlihat pucat melihat pria yang berada di hadapannya, "Nona ini memaksa untuk bertemu dengan Gita, Tuan. Saya sudah menjelaskan jika Gita sedang rapat dengan para petinggi perusahaan."


"Agh, saya hanya ingin memberikan berkas ini kepada Gita, Tuan. Tolonglah izinkan saya untuk bertemu dengan Gita," mengatupkan kedua tangannya memohon.

__ADS_1


Pria itu menatap wajah memelas Zia kemudian menurunkan pandangannya ke bawah perut Zia. Melihat Zia yang sedang mengandung dan memohon rasanya pria itu terlihat tidak tega, "Baiklah, mari saya antar ke ruangan Gita berada. Kebetulan rapatnya belum dimulai," ucapnya yang langsung membuat Zia mengangguk antusias.


Zia berjalan mengikuti pria tinggi di depannya. Melihat wajah pria itu, rasanya Zia tidak asing dengan wajahnya. Mencoba mengingat kembali kapan mereka pernah bertemu sebelumnya setelah mereka masuk ke dalam lift. Ternyata Zia tidak berhasil mendapatkan ingatannya kembali.


Pintu lift terbuka, Zia kembali mengikuti pria yang akan membawanya ke ruangan Gita. Pria itu berhenti ketika berada di depan pintu bewarna coklat. Sayup-sayup Zia mendengar suara seseorang dari celah pintu yang sedikit terbuka sedang mempertanyakan kemana berkas penting yang akan menjadi bahan rapat mereka kepada Gita. Berbalik menghadap ke arah Zia, "Saya akan memanggilkan Nona Gita. Mungkin berkas itu benar ada di tangan anda saat ini," masih dengan nada datar. Zia mengangguk, ia sungguh tidak tega mendengar sahabatnya itu di bentak di depan orang-orang.


Pria itu membuka pintu ruangan Gita. Ketika pintu terbuka sempurna, Zia dapat melihat Gita yang sedang menunduk meremas ujung bajunya. Berjalan ke arah Gita, Zia memandang wanita yang tengah memarahi sahabatnya itu dengan tajam. Tidak bisakah wanita itu tidak membentak ketika sahabatnya itu berbuat kesalahan di hadapan orang lain? Zia tidak habis pikir melihat sikap wanita itu.


Gita mendongak, ia sungguh terkejut melihat Zia yang kini berada di kantornya, "Zia? Kamu di sini?" mengabaikan berkas yang disodorkan Zia.

__ADS_1


"Ya, aku ingin mengantarkan berkas ini. Pasti kamu sangat membutuhkannya saat ini!"


"Agh, ini dia berkas yang aku cari! Bagaimana bisa berkas ini bisa sama kamu?" mengabaikan atasannya yang sedang menatapnya tajam.


"Aku menemukannya di dalam kamar kamu. Sepertinya kamu lupa membawanya tadi, untung saja aku sedang membersihkan kamar kamu tadi. Jika tidak ... Mungkin Ibu ini akan menenggelamkan kamu di dalam laut," sindir Zia. Hatinya serasa memanas ketika sahabat baiknya diperlakukan seperti itu.


"Karena berkasnya sudah ada, sebaiknya kalian cepat kembali ke dala ruangan rapat! Jangan biarkan Tuan muda menunggu terlalu lama!" perintah pria itu.


Zia yang melihat Gita ingin kembali ke dalam ruangan rapat pun berbalik hendak keluar dari ruangan. Seketika matanya membulat sempurna ketika melihat pria tinggi yang sedang berada di depan pintu ruangan Gita.

__ADS_1


***


Jangan lupa like, komen dan votenya yaa.. Jika like dan komen dan votenya banyak, shy jadi semangat juga nulisnya:)


__ADS_2