
Rangga menurunkan Yura di atas sofa ruangan tamu, gadis kecil itu tidak mau masuk ke kamar untuk istirahat dengan alasan ingin bermain terlebih dahulu dengan teman-teman Bundanya.
"Kamu mau main apa sama teman-teman Bunda, sayang?" Vara mendudukkan tubuhnya di samping Yura, membelai lembut rambut pirang itu kemudian meniup kaki Yura yang diperban seolah-olah tiupannya dapat menjadi obat penyembuh luka anaknya.
"Main lihat-lihat pideo, Bunda..."
"Lihat video?" Vara memastikan kembali ucapan anaknya baru saja.
Yura mengangguk membenarkan, "Pideo Kolea, Yula suka," Yura memegang kedua pipinya seperti yang dicontohkan dari Nadia.
Mata Vara membulat sempurna mendengar penuturan Yura. Ia bahkan tidak tau kapan Nadia mengajak Yura menonton Video. Sepertinya Vara harus memberi Nadia lemparan bantal sofa kali ini. Tontonan yang tidak sepantasnya dilihat untuk Yura yang masih kecil. Untung saja Rangga sedang ke kamar, jika tidak Vara sungguh tidak enak atas perbuatan sahabatnya itu. Bisa saja Rangga mengira sahabatnya mengajarkan hal-hal buruk kepada Yura, walau pun memang seperti itu adanya.
"Kamu tidak boleh lagi menonton video dengan tante Nadia! Kamu masih kecil, tidak seharusnya menonton video seperti itu!" perintah Vara tegas.
"Kenapa nda boyeh?" Yura mencebik, ia sangat senang melihat video korea yang ditonton Nadia. Walau pun tidak mengerti bahasanya, tapi melihat Nadia yang tertawa-tawa saat menonton membuat Yura ikut tertawa merasa ada hiburan.
Belum sempat Vara menjawab, ucapan salam dari sahabat-sahabat ia dan Rangga datang memecah ketegangan di raut wajah Vara.
"Kenapa, Ra? Tegang banget muka kamu?" tanya Riri mendudukkan tubuhnya di samping Vara.
"Bunda malah, Tante," adu Yura memajukan bibirnya.
"Marah kenapa? Tumben bunda kamu bisa marah?" Riri terkekeh, "Bunda marah kenapa, Aidan?" tanya Riri ke arah Aidan yang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Aidan mengangkat bahunya, jawaban bahwa ia tidak tahu apa yang membuat Bundanya marah. Dari pada mendengarkan omelan Yura yang membuatnya sakit telinga karena mengadukan apa yang membuat sang Bunda marah. Lebih baik berpura-pura tidak tahu saja, pikir Aidan.
"Ada apa?" tanya Rangga ke arah Vara setelah ia mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal.
"Tidak ada apa-apa, Mas," jawab Vara melirik tajam ke arah Nadia.
"Romantis banget sih, pake Mas-masan segala," kelekar Adit membuat satu ruangan terkekeh mengingat sikap Rangga kepada Vara di sekolah dulu.
Wajah Vara memanas, walau pun sudah sering mendengar godaan dari teman-teman Rangga kepadanya, tapi tetap saja membuatnya bersemu merah setiap kali mendengarnya.
"Nad, Adit kode tuh supaya kamu manggil dia 'Mas' juga," ledek Melani yang membuat Nadia merengut.
"Apaan sih, Mel! Panggil aja sana sama kamu!" Nadia melempar bantal yang sedang duduk manis dipangkuan Riri ke arah Melani.
Melani dengan sigap menangkap bantal yang sudah biasa melayang jika diantara mereka terjadi perdebatan, "Haha, beneran nih? Nanti kamu cemburu lagi," Melani tak henti-hentinya menggoda Nadia.
__ADS_1
Adit hanya menyunggingkan senyumannya melihat Nadia yang bersemu merah.
"Muka Tante kenapa melah? Tante atit, yah?" muka Yura nampak panik, ingin sekali tangan mungilnya itu menyentuh pipi Nadia yang memerah. Tapi mengingat keadaan kakinya yang diperban mengurungkan niat gadis mungil yang sedang duduk di pangkuan ayahnya.
"Muka Tante Nadia terkena sengat matahari dari Oom Adit, Yura," timpal Melani yang kembali membuat mereka terkekeh geli.
"Matahali?"
"Iya."
"Sengat?" Yura memicing ke arah Melani.
Melani mengangguk sebagai jawaban mengiyakan.
"Yula nda paham, Ayah?" Yura mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Rangga yang ada di atasnya.
"Kalau gak tau kenapa nanya sih? Dasar cerewet!" cebik Aidan.
"Suka-suka Yula dong Kakak. Yula kan pengen tau saja," Melipat kedua tangannya di dada.
"Sudah-sudah, kenapa jadi kalian yang bertengkar?" lerai Melani melihat Tom and Jarry di hadapannya akan memulai aksi kejar-kejaran.
"Terus Yura sukanya sama siapa?" goda Melani.
"Suka sama Kakak Rai," Yura menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan mungilnya, malu.
Semua orang nampak menganga mendengarkan penuturan gadis kecil yang sedang nampak malu-malu mengungkapkan rasa sukanya pada sosok laki-laki yang mereka sendiri tidak tahu siapa dan bagaimana orangnya.
"Hahaha, Rai siapa? Aduh... Selain cerewet ternyata kamu juga centil," Riri memegang perutnya yang terasa sakit akibat tertawa yang berlebihan.
"Yura... Apa maksud kamu, nak? Kamu suka sama Rai siapa?" Vara mencoba mengingat Rai yang Yura maksud. Rasanya Vara tidak pernah melihat Yura berteman dengan pria yang bernama Rai itu. Seperkian detik, mata Vara membulat penuh mengingat Rai yang dimaksud adalah anak dari pelanggan cafenya.
"Siapa Rai yang Yura maksud?" tanya Rangga ke arah Vara.
"Rai anak dari pelanggan cafe aku, Mas," lirih Vara.
Rangga hanya bisa menggeleng, bagaimana bisa anaknya sudah pandai menyukai lawan jenis seperti ini? Apa Yura sudah tau arti dari kata suka? Entahlah. Rangga rasanya enggan mempertanyakan itu kepada Yura.
"Apa calon mantu tante Rai itu tampan?" goda Riri.
__ADS_1
Yura mengangguk antusias, "Sungguh tampan," jawab Yura dengan suara cadelnya.
"Tau dari mana anak kecil kata ganteng sih!" gemas Melani yang juga tidak habis pikir.
"Dali Onty Lala."
"Lala..." geram Rangga kepada adiknya yang selalu saja mengajarkan hal-hal aneh kepada anaknya.
"Yura sayang... Kamu masih kecil... Tidak boleh yang namanya suka-sukaan begitu..." tegas Vara tapi masih dengan nada lembut yang bisa dimengerti Yura jika Bundanya sedang serius mengatakannya.
"Maapin Yula, Bunda..." Merentangkan tangan mungilnya ke arah Vara.
Vara mengambil alih Yura dari tangan Rangga. Setelah nasihat yang Vara berikan kepada Yura, akhirnya Yura hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bundanya. Aidan hanya mendelik kesal. Bagaimana bisa Adiknya itu bisa secentil itu? Sedangkan jika melihat sang Bunda, tidak ada jiwa centil itu di dalam diri Bundanya.
"Jadi kapan kamu akan pergi bulan madu dengan Adit, Nad?" tanya Vara yang sedang mencuci piring bekas sisa makan siang.
"Besok aku akan berangkat ke Bali bersama Adit, Ra," jawan Nadia seadanya.
"Agh baguslah! Jangan lupa bawakan kami oleh-oleh ya, Nad!" perintah Riri.
"Tenang saja! Aku bahkan tidak pernah melupakan perut gentong kamu, Ri."
"Sayangnya kali ini aku, Vara dan Melani tidak mengharapkan oleh-oleh makanan dari kamu, Nad!" ucap Riri dengan nada serius.
"Lantas?" dahi Nadia mengkerut dalam, tumben sekali Riri melupakan makanan di dalam hidupnya, pikir Nadia.
Mengelus lembut perut Nadia yang sedang berada di sampingnya, "Hadirnya keponakan baru kami di dalam rahim kamu, Nad," ucap Riri yang langsung diangguki dengan senyuman oleh Vara dan Melani.
.
.
.
Happy Reading😉
jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, rate bintang 5 dan votenya jika berkenan. Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :
— Menikahi Pria Kaku —
__ADS_1
Terimakasih ^_^