Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Tidak adil


__ADS_3

Setelah percakapannya dengan Mita selesai, Rangga segera melangkahkan kakinya menuju kamar. Perlahan Rangga membuka pintu kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa menyebabkan Alula terganggu. Dilihatnya Vara sedang menyusui Alula.


Vara yang merasakan kehadiran suaminya langsung mengangkat wajahnya. Kedua sudut bibirnya tertarik sempurna ketika melihat Rangga berjalan ke arahnya. "Apa yang kamu bicarakan dengan Mama, Mas? Kenapa lama sekali?" tanyanya.


Rangga mendaratkan tubuhnya ke tepi tempat tidur sembari melonggarkan dasi. Jas yang membungkus tubuh kekarnya pun tak lupa Rangga buka. Meletakkannya di samping ia duduk.


"Bukan apa-apa, sayang. Hanya sekedar membahas permasalahan Lala." ucapnya menyakinkan jika tidak ada hal aneh yang mereka bicarakan. Memang setelah membahas permasalahan Audi, Rangga dan Mita juga terlibat percakapan tentang Lala yang sedang patah hati.


"Benar seperti itu, Mas?"


Rangga mengangguk meyakinkan. Tangannya ia ayunkan membelai kepala istrinya yang nampak semakin cantik saja.


"Aidan dan Yura bagaimana, Mas? Aku takut mereka membuat masalah di sana nantinya."

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Banyak yang menjaga anak-anak di sana. Mas juga sudah menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga anak-anak dari jauh."


Hati Vara terasa lega setelah mendengar ucapan Rangga. Pandangannya beralih kepada Alula yang semakin kencang saja mengambil sumber nutrisinya. "Kenapa wajah anak-anak lebih dominan ke kamu sih, Mas. Padahal aku yang mengandungnya. Ini seperti tidak adil," rungut Vara. Rangga tergelak pelan mendengar penuturan istrinya. Seketika Vara memanyunkan bibirnya melihat tanggapan suaminya itu.


"Mas!"


"Agh, Iya, iya. Mungkin selama mengandung yang ada di dalam pikiran kamu hanya wajah Mas saja." kelakarnya asal.


Vara kembali merengut. "Kenapa kamu bisa tau, Mas?"


Vara mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan. "Sekuat apapun usaha aku melupakan kamu, hasilnya akan berakhir sia-sia. Wajah kamu selalu hadir di setiap bangun dan tidurku, Mas." lirihnya.


"Terimakasih sudah mau mencintai Mas. Mas akan selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak." memberikan ciuman di puncak kepala Vara.

__ADS_1


***


Sementara di tempat lain. Acara pernikahan Zia dan Fero akhirnya berakhir. Zia sudah mengganti pakaiannya karena sudah merasa gerah dan kesusahan untuk berjalan. Sedangkan Fero masih menggunakan pakaian yang sama saat ijab qabul.


Tinggallah keluarga Zia dan Fero yang tengah terlibat percakapan membahas pernikahan anak mereka dan calon cucu pertama mereka. Fero yang melihat Zia sudah sangat kelelahan tanpa Ragu menggendong Zia menuju kamar mereka.


"Lepaskan, aku bisa sendiri. Malu dilihat Mama dan Papa!" Penolakan Zia tak dihiraukannya. Kaki jenjangnya secepat mungkin namun hati-hati membawa Zia masuk ke dalam kamar. Para orang tua hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak dan mantu mereka.


"Aku bisa jalan sendiri, Fer. Kamu tidak perlu bersusah payah seperti ini." ungkapnya malu. Bahkan wajah Fero yang sedingin es itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi membalas perkataan Zia.


Tangannya terulur menyeka keringat yang masih tertinggal di dahi Zia. Bagaikan disengat listrik, tubuh Zia bergetar hebat mendapatkan perlakuan manis dari Fero.


"A-aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Badanku sungguh lengket." beranjak dari tempat tidur. Badannya yang terasa semakin memberat membuat Zia kesusahan beranjak. Melihat Zia yang kesusahan, tangan kekar Fero dengan sigap membantunya berdiri.

__ADS_1


"Terimakasih."


__ADS_2