
"Fe-fero.. Agh.. Perutku—"
"Kamu kenapa, Zia? Apa yang sakit?!" tanya Fero begitu panik. Bahkan air mata Zia kembali mengalir bersamaan dengan ringisannya.
Zia tidak menjawab. Lengan Fero kembali menjadi incarannya ketika rasa sakit kembali menjalar di tubuhnya. Fero nampak semakin panik melihat istrinya begitu menahan rasa sakit. "Aku akan memanggilkan dokter. Kamu tenanglah." Niat Fero yang ingin beranjak ia urungkan tatkala dokter masuk bersamaan dengan perawat.
"Cepat periksa keadaan istri saya!! Kenapa kerja kalian begitu lamban, huh?! Apa kalian tidak melihat istri saya kesakitan!! Kalian mau saya pecat!!"
"Tenanglah, Tuan. Saya akan memeriksa keadaan Nona Zia."
Dokter yang belum diketahui namanya itu mulai memeriksa keadaan Zia. "Seperti yang saya katakan tadi. Jika Pembukaan jalan lahir bayi Nona Zia sudah sempurna. Karena Nona Zia sudah sadar, Nona Zia bisa melahirkan secara normal."
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya!"
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Fero mengalihkan pandangannya pada Zia yang masih meringis kesakitan. "Jangan menyakiti Mama kamu." ucapnya mengelus perut Zia.
Zia hanya bisa memejamkan kelopak matanya ketika anaknya sudah tidak sabar keluar dari dalam rahimnya. Dirinya yang ingin menenangkan amarah Fero tak kuasa melakukannya karena rasa sakit yang lebih mendominasi.
Dokter mulai mengarahkan Zia untuk mengejan. Zia melakukannya. Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, Zia berusaha mengeluarkan bayi yang sudah ia nantikan. "Rasanya aku tidak sanggup, Fer." Keringat dingin bercucuran di pelipis Zia. Tenaga yang tersisa rasanya sudah tidak sanggup ia keluarkan untuk mengeluarkan bayinya. Rasanya Zia ingin menyerah.
"Kepalanya sudah mulai kelihatan, Nona. Ayo sedikit lagi. Anda pasti bisa, Nona." Dokter kembali mengarahkan Zia untuk mengejan. Rasanya Zia kembali ingin menyerah. Tetapi Fero kembali menyemangatinya. Ditambah dengan ungkapan cinta yang begitu tulus di telinga Zia membuat wanita Zia kembali berusaha untuk mengeluarkan bayinya.
Suara tangisan bayi laki-laki memecah keheningan di dalam ruangan persalinan Zia. Nafas Zia tersenggal-senggal ketika dirinya sudah berhasil melahirkan buah hatinya dengan Fero. Air mata Zia kembali menetes ketika dokter menunjukkan bayi yang masih berlumuran darah itu kepadanya.
"Selamat Nona Zia, Tuan. Bayi kalian laki-laki. Sehat dan sempurna." ucap dokter yang sudah membantu persalinan Zia.
__ADS_1
Tak bedanya dengan Zia. Fero pun meneteskan air matanya ketika melihat bayi mungil yang baru saja keluar dari rahim istrinya itu menangis begitu kencang.
"Terimakasih telah mengandung dan melahirkannya untukku, Zia." Zia menganggukkan kepala sebagai jawaban. Fero menanamkan ciuman cukup lama di kening Zia dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Fero tidak peduli lagi jika Zia melihat sisi kelemahannya. Melihat perjuangan Zia melahirkan bayi mereka. Bahkan dirinya bisa mendengarkan **** ********** Zia yang digunting untuk memudahkan persalian. Membuat Fero berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyakiti ibu dari anaknya lagi.
Fero dengan setia menemani Zia setelah perawat membawa bayi mereka untuk dibersihkan. Tangannya tidak lepas dari tangan Zia dan menggenggamnya erat. Fero mengangkat wajahnya ketika merasa Zia yang sedari tadi tak lepas memandang wajahnya.
"Ada apa? Apa kamu memerlukan sesuatu?" tanyanya begitu lembut.
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
"Ya?"
"Apa benar ka-kamu mencintaiku?"
__ADS_1