
Vara menggigit bibir bawahnya. Jangan sampai Rangga kembali salah paham kepadanya kali ini. Suasana cafe cukup ramai dengan suara mahasiswa yang sedang menunggu pesanan datang untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Vara mengangkat wajahanya, tatapannya bertemu dengan tatapan Rangga. Sekuat mungkin ia memberikan senyuman termanisnya, senyuman yang membuat Rangga benar-benar gemas melihatnya.
Fero refleks melepas tangannya ketika mendengar suara memerintah itu. Ia mendengus, mencoba menetralkan emosinya yang sedang naik turun. Jika Rangga menuduh Vara bermain api dengannya kali ini. Ia tidak segan-segan melayangkan kepalan tangannya di wajah tanpa cacat itu. Tidak peduli adanya Vara di sana.
Mendudukkan tubuhnya di samping Vara. Mencium kening Vara dan memeluk pinggangnya posesif. Sepertinya Rangga sudah memiliki penyakit bucin setelah mengungkapkan rasa cintanya kepada istri cantiknya itu.
"Kamu sudah pulang, Mas?"
__ADS_1
"Sudah. Aku ingin menemani kamu menemani anak-anak bermain di taman sore ini, Ra."
"Apa itu tidak merepotkan asisten Jo, Mas? Pekerjaan kamu pasti diambil alih olehnya."
"Tidak. Dia hanya menggantikanku rapat hari ini."
Vara menganggukkan kepala tanda mengerti. Rangga memang sudah berjanji kepada Aidan dan Yura untuk menemani mereka bermain di taman. Setelah banyaknya kejadian buruk yang menimpa mereka membuat Rangga selalu berusaha meluangkan waktu untuk kelurga kecilnya.
"Aku balik dulu, Ra. Terimakasih untuk saran dari kamu," beranjak dari kursi yang didudukinya. Menatap sekilas Rangga yang masih bersikap posesif pada Vara. Menunjukkan jika Vara adalah miliknya.
__ADS_1
Vara mengangguk. Belum banyak hal yang ia bahas dengan Fero, "Jika kamu membutuhkan bantuan, aku siap membantu kamu. Dan belajarlah untuk mengikhlaskan," tuturnya lembut.
Rangga menghela nafas kasar. Istrinya ini benar-benar tidak merasakan aura mencekam di sekitarnya, "Terimakasih, Ra. Akan aku usahakan," melirik ke arah Rangga, " Gue balik," pamitnya. Rangga mengangguk saja. Segera ia langkahkan kaki jenjangnya keluar dari cafe.
Suasana jalanan cukup ramai ketika mobil Fero memasuki jalan raya. Ucapan Vara menyuruhnya untuk belajar mencintai Zia masih terngiang di telingannya. Apakah sudah saatnya ia membuka hati untuk wanita lain? Apakah dirinya mampu. Vara adalah cinta pertamanya. Wanita yang selalu mengisi harinya dengan senyuman walau hanya melihat fotonya.
Mobil terus melaju membelah keramaian kota. Fero menepikan mobilnya ketika melihat wanita yang mulai mengusik pemikirnya duduk di kursi taman. Berapa orang di sekitarnya nampak membawa keluarga masing-masing. Walau dengan jarak tidak terlalu dekat, tetapi Fero dapat melihat jika wanita itu sedang menatap sendu keluarga harmonis di depannya yang sedang mengajarkan anaknya belajar berjalan.
Di samping tempat duduk Zia terlihat beberapa plastik berisi makanan. Fero dapat menangkap jika wanita itu habis membeli makanan di sekitar taman yang memang banyak terdapat beraneka makanan. Hati Fero kembali berdesir. Ini tidak benar, wanita itu sepertinya sedang ngidam dan mencari sendiri apa yang ia inginkan. Ia merasa tidak berguna sebagai Ayah dari anak yang sedang dikandung Zia.
__ADS_1
Melihat Zia beranjak dari tempat duduknya, Fero memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di sekitaran taman terlebih dahulu. Ia ingin mengikuti kemana Zia pergi dan memastikan jika wanita itu baik-baik saja.