Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Bagian mana yang harus dimaafkan?


__ADS_3

Adit meneguk salivanya susah payah. Akhirnya yang ia takutkan terjadi juga. Ia sudah berjanji kepada Nadia untuk tidak memberitahukan informasi apa-apa tentang Vara kepada Rangga.


Danu menyenggol pundak Adit ketika temannya itu tak kunjung membuka suara, "Jawab pertanyaan Rangga! Lo gak lihat tatapannya seperti ingin mencincang kita!" bisik Danu.


"Masalah itu gue gak tau, Ngga," jawab Adit setenang mungkin.


Rangga mendengus, ia tahu jika Adit kini tengah membohonginya, "Sejak kapan lo bisa bohong sama gue Dit!" hardik Rangga. Adit tersentak, tidak ada jalan lain selain memberitahukan informasi yang Rangga inginkan.


"Yang gue tau itu anak lo. Gue heran dengan lo yang akhir-akhir ini terlalu mudah mempercayai apa yang hanya lo lihat sekilas," ungkap Adit. Danu dan Alex mengangguk menyetujui. Masalah percintaan memang sebodoh itu pikir mereka.


Rangga menjambak rambutnya, bagaimana bisa ia akan mengulang kejadian beberapa tahun lalu membiarkan Vara mengandung tanpa didampingi suami lagi.


"Lo masih mau nuduh Vara selingkuh? Gue rasa lo bisa bertanya dengan asisten lo itu kejadian yang sebenarnya seperti apa!" perintah Adit. Tanpa diperintahkan pun, asisten Jo pasti sudah mencari informasi yang suatu saat akan dibutuhkan Tuannya.


Rangga menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Melakulan panggilan telefon dengan asisten Jo. Tanpa basa-basi Rangga langsung menanyakan informasi apa saja yang Jo tahu. Setelah mendengarkan penjelasan dari Jo Rangga mengerang frustasi. Ia bahkan sudah mengusir Vara dari rumah atas kesalahannya sendiri.


"Lo mau kemana?" tanya Alex menahan pergelangan tangan Rangga.


"Apartemen Fero!"


"Mau ngapain lo ke sana? Lo mau cari ribut lagi dengan Fero?!" kesal Alex.


Rangga menatap Alex tajam, mengalihkan pandangan ke arah pergelangan tangannya yang masih dipegang oleh Alex, "Lepasin tangan lo!" perintah Rangga dingin.

__ADS_1


Adit dan Danu menatap Alex bersamaan. Seolah memberi perintah agar Alex melepaskan cekalan tangannya. Rangga dengan cepat melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Danu setelah Alex melepaskan tangannya.


"Apa kita susul saja Rangga? Gue takut akan terjadi masalah di sana nanti. Lo kan pada tau gimana Rangga dan Fero," usul Alex. Danu dan Adit mengangguk bersamaan. Sebelum menyusul Rangga, Adit menyempatkan mengirim pesan kepada Nadia jika ia akan pulang sedikit terlambat dan tidak mendapatkan balasan dari Nadia, sepertinya istrinya itu sudah tertidur sembari menunggunya pulang.


***


Vara menatap langit hitam yang dihiasi bintang-bintang dari balkon kamarnya. Bayangan Rangga tiba-tiba saja melintas dari sorot matanya ketika ia sejenak memejamkan mata. Setiap sedang sendiri seperti ini adalah waktu Vara untuk mengeluarkan air mata yang selalu ia tahan ketika rasa rindu yang tiba-tiba saja datang kepada suaminya.


Mengelus perutnya, "Apa kamu begitu rindu dengan Ayah? Bunda juga begitu merindukan Ayah kamu. Kamu harus menjadi anak yang kuat, walau tanpa Ayah kita masih bisa hidup bahagia bersama Kakak Aidan dan Kakak Yura," ucap Vara para anak yang ada di dalam kandungannya. Tiba-tiba saja perutnya serasa bergejolak. Dengan cepat Vara melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


Di luar kamar Vara, pelayan yang sedang membersihkan peralatan di dapur segera menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara bel berbunyi, "Mau cari siapa ya, Tuan?" tanyanya sopan ketika pintu sudah terbuka sempurna dan menampakkan pria tinggi tegap di hadapannya.


"Vara, dimana Vara?" tanya Rangga cepat.


"Dimana kamarnya? Cepat katakan!" desak Rangga tidak sabar.


"Maaf, Tuan siapa? Nona Vara akan marah jika saya membiarkan Tuan masuk ke dalam kamarnya," pelayan itu nampak gugup melihat kilatan amarah dari pria di hadapannya ketika mendengar ucapannya.


"Saya suaminya! Apa harus ada alasan jika ingin menemui istri saya sendiri," jawab Rangga masih dalam nada sopan.


"Su-suami? Agh, baiklah kamar Nona Vara yang di sebelah kiri sana," tunjuknya, "Mari saya antarkan," ucapnya pasrah.


"Tidak perlu, Bu! Saya bisa sendiri," Rangga dengan langkah lebar berjalan ke arah kamar Vara.

__ADS_1


Memutar knop pintu, Rangga memasukkan tubuhnya ke dalam kamar bernuansa putih. Mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari keberadaan Vara. Ketika mendengarkan suara dari arah kamar mandi, Rangga langsung berjalan ke arah kamar mandi dan melihat jika istrinya sedang muntah.


Memandang nanar wanita yang terlihat lemas di depan westafel. Dengan langkah pelan Rangga berjalan mendekati Vara, memijit tengkuk Vara berharap dapat mengurangkan rasa mual istrinya. Vara yang merasa jika ada tangan yang sedang memijit tengkuknya ingin mendongakkan kepalanya namun langsung diurungkan ketika rasa mual itu kembali datang.


Rangga memijit tengkuk Vara sembari mengelus punggung istrinya. Matanya seketika berkaca-kaca melihat pengorbanan Vara mengandung anaknya. Vara yang merasa jika rasa mualnya sudah mulai hilang pun mendongakkan kepala. Melihat ke arah kaca untuk melihat siapa yang sedang memijit tengkuknya. Matanya membulat sempurna ketika melihat wajah Rangga yang juga sedang menatapnya dalam.


Membalikkan tubuhnya yang terasa menegang, apa kali ini ia tidak sedang bermimpi melihat suaminya dari jarak dekat seperti ini, "M-mas Rangga," lirih Vara. Matanya yang bulat nampak mulai tergenang.


"Maafkan aku, Ra," ucap Rangga. Membawa tubuh mungil istrinya itu ke dalam pelukannya.


Vara memberontak, mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Rangga, "Lepaskan aku Mas! Lepaskan," memukul dada Rangga dengan kedua gumpalan tangannya.


Rangga tak menghiraukannya, penyesalannya teramat dalam kepada istrinya itu. Sudah dua kali ia melakukan kesalahan yang sama, dan Rangga sangat menyesal akan hal itu.


"Lepaskan Vara!" bentak Fero yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Ketika pelukan Rangga terasa sudah mulai longgar, Vara dengan cepat melepaskan tububnya dari rangkulan Rangga, "Buat apa lagi kamu menemuiku, Mas? Apa belum cukup segala tuduhan yang kamu berikan kepadaku?" ucapan yang tidak sesuai dengan hatinya pun Vara ucapkan.


Fero dengan cepat menarik tangan Vara dan membawanya ke luar dari dalam kamar mandi menuju ruang tamu. Untung saja Yura sudah tertidur di dalam perjalanan menuju apartemen. Sehingga Fero tidak susah payah memberi alasan kepada Yura untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan Yura di atas tempat tidur dan menyuruh pelayannya untuk menjaga Aidan dan Yura di dalam kamar agar tidak keluar dari dalam kamar. Barulah Fero beranjak ke kamar Vara ketika mengetahui adanya Rangga di sana.


"Maafkan segala sikapku kepadamu, Ra. Aku sungguh minta maaf," sesal Rangga. Ucapan tulus dari suaminya membuat air mata Vara menetes dengan sendirinya.


Fero menatap Rangga geram. Ia membiarkan Vara untuk menanggapi permintaan maaf rivalnya tanpa berniat menimpalinya.

__ADS_1


"Bagian mana yang harus aku maafkan, Mas? Bukannya kamu tidak pernah salah dan hanya aku yang selalu salah di mata kamu?" jawab Vara dengan suara yang mulai serak.


__ADS_2