Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Jatuh cinta sejak lama


__ADS_3

Air mata Vara mengalir begitu saja tanpa persetujuannya. Kenangan masa lalu yang begitu menyakitkan ketika mengandung Aidan dan Yura tanpa suami kembali menghantui pikirannya. Apakah anak yang ada di dalam kandungannya saat ini akan mengalami hal yang sama seperti kakak-kakaknya. Vara hanya bisa berharap ketakutannya tidak pernah terjadi. Memiringkan kepala ke arah kanan. Memandang sendu foto pernikahan ia dan Rangga yang terletak di atas nakas di dalam pigura kecil. Tangan Vara menjulur ke arah pigura dan langsung mengambilnya.


Kenapa nasib pernikahan kita jadi seperti ini, Mas. Baru saja sebentar aku merasa disayangi oleh kamu. Dan sekarang aku harus merasakan sakit kembali ketika mata kamu menyiratkan kebencian kepadaku. Apa kamu tahu jika aku sungguh mencintai kamu. Bahkan sebelum Aidan dan Yura hadir di dunia ini. Bisakah sedikit saja kamu memberikan hatimu untukku? Bagaimana mungkin aku bisa berlari mencari cinta yang baru sedangkan hatiku sudah sepenuhnya berisikan nama kamu. Bahkan sedikit pun tidak ada ruang kosong untuk nama pria mana pun itu berada di sana.


Meletakkan foto ia dan Rangga di dadanya yang terasa sesak. Menangis tersedu-sedu seolah meluapkan rasa sakit yang sedang ia rasakan saat ini. Kenapa takdir cintanya terlalu kejam seperti ini? Secercah kepercayaan saja tidak bisa Rangga berikan kepadanya. Bahkan Rangga lebih memilih percaya atas apa yang hanya dilihatnya dan tidak seperti yang ia pikirkan kenyataannya tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


Knop pintu tiba-tiba terbuka dan menampakkan wajah Nadia di sana. Mendekati sosok lemah yang sedang terbaring di atas tempat tidur sambil memeluk erat pigura. Nadia menghela nafas melihat Vara yang begitu terluka masih saja tetap memikirkan suaminya yang tidak tahu diri itu.


"Mau sampai kapan kamu menangis seperti ini, Ra? Apa kamu tidak kasihan dengan dia?" mengelus perut Vara yang masih rata, "Dia pasti ikut bersedih melihat Bundanya bersedih. Sudahlah Ra! Lupakan Rangga. Dia hanya bisa membuat kamu terluka," nasihat Nadia. Walau pun tahu jika hasilnya akan sia-sia karena sahabatnya itu sangat mencintai suaminya. Tetapi Nadia mencoba berbicara agar Vara dapat mengerti dan mulai belajar melupakan Rangga yang selalu menyakitinya.


"Apa aku tidak berhak jatuh cinta dan bahagia, Nad? Aku sungguh mencintai Rangga, dan bagaimana caranya aku untuk bisa melupakan dia begitu saja. Bahkan ... Perasaan ini sudah lama bersarang dihatiku," Vara terisak dalam ucapannya. Rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan cinta nya kepada Rangga. Rasa cinta itu menang dan mendominasi.


Nadia membulatkan kedua matanya. Apa dia tidak salah dengar dengan ucapan Vara yang berkata sudah lama? Apa maksud ucapan Vara adalah sudah mencintai Rangga sejak SMA dulu. Nadia yang tidak tahan ingin melontarkan pertanyaan pun langsung saja bertanya, "Apa maksud dari ucapan kamu, Ra? Apa maksudnya jika kamu sudah mencintai Rangga sejak kita SMA dulu? Benar begitu?" tanya Nadia cepat.

__ADS_1


Mendudukkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang, Vara menatap manik mata Nadia. Ia tahu jika Nadia sudah tidak sabar mendengarkan jawaban darinya. Rasa sesak kembali mendera, apakah sudah saatnya ia berkata jujur kepada sahabatnya tentang perasaan terpendam yang ia rasakan selama ini.


Vara mengangguk, Nadia yang melihatnya hanya bisa menghela nafasnya kasar. Bagaimana perasaan Vara dulu ketika tatapan kebencian dari Rangga, orang yang begitu ia cintai selalu menghunuskan tatapan kebencian kepadanya, "Kenapa kamu tidak pernah jujur kepada kami, Ra! Sebenarnya kamu menganggap kami ini apa?!" ucap Nadia keras seperti bentakan. Seketika rasa kecewanya timbul kepada Vara yang tidak jujur kepada mereka.


"Maafkan aku, Nad. Aku hanya tidak bisa percaya dengan perasaanku sendiri yang dengan lancangnya mencintai Rangga," Vara menunduk. Mencengkam erat bantal yang ada di pangkuannya.


Akal sehat Nadia seketika muncul, mengingatkannya kembali jika kondisi Vara yang saat ini sedang mengandung. Ia begitu menyesal telah membentak sahabatnya itu, "Maaf, Ra. Aku tidak bermaksud membentak kamu."


"Sudahlah, jangan membahas masalah itu lagi. Kita bisa membahas masalah ini lain kali. Sekarang kamu segeralah berganti pakaian! Karena sebentar lagi kita akan berangkat menuju apartemen Fero," perintah Nadia. Jika dilanjutkan, bisa saja Vara akan menangis lagi. Sahabatnya itu memang paling mudah terbawa perasaan, dan dengan mudah merasa bersalah sendiri.


Nadia dengan cepat membantu Vara turun dari tempat tidur. Walau pun Vara berusaha menolak bantuan Nadia, tetap saja Nadia dengan kekeh membantu Vara untuk turun. Melihat kondisi Vara yang sudah membaik, Nadia membiarkan Vara berjalan sendiri keluar dari dalam kamarnya. Sebelah tangan Nadia menarik koper milik Vara yang sudah dipersiapkan Ibu Ana.


"Bunda sudah bangun? Kenapa Bunda suka sekali tidul sembalang tempat," Yura mencebik. Melipatkan kedua tangannya di dada. Mengira jika Bundanya tidur ketika pingsan di depan rumah Ayahnya tadi.

__ADS_1


Pakaian Yura dan Aidan sudah tersusun rapi di dalam koper. 1 koper besar dan 2 koper kecil sudah tersusun rapi di samping sofa. Fero menarik kedua sudut bibirnya mendengar pertanyaan Yura. Untuk menenangkan Yura yang tak hentinya menangis, Fero dan Riri bersepakat memberitahu Yura jika Bundanya hanya tertidur dan tidak akan terjadi hal buruk kepada Bunda mereka.


"Hahaha. Dasar cerewet ini! Bisa-bisanya dia mengira kamu sedang tidur ketika pingsan tadi!" Nadia terkekeh. Memegang perutnya yang terasa sakit mendengar ucapan polos yang keluar dari mulut mungil Yura.


"Sudahlah, ayo berangkat! Sebentar lagi hari sudah mau gelap. Tidak baik jika Vara terkena angin malam, apalagi keadannya sedang mengandung seperti ini," timpal Riri yang juga sedang menahan tawanya. Menurutnya berada di dekat Yura bisa membuat mukanya awet muda.


Aidan hanya diam saja. Ia tahu keadaan Bundanya sedang tidak baik. Pertengkaran Bunda dan Ayahnya yang sedikit terdengar oleh telinganya membuat Aidan mengerti jika orang tuanya sedang berada dalam sebuah masalah. Perasaan bahagia ketika akan memiliki adik lagi membuat Aidan mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Riri yang sedang menenangkan Yura tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa Bunda sudah baik-baik saja?" tanya Aidan tiba-tiba. Melihat wajah Vara yang sedikit pucat membuat kekhawatiran Aidan kembali muncul.


Vara tersenyum melihat bayangan Rangga yang ada di dalam sosok Aidan, "Bunda ti—" ucapan Vara terputus ketika tidak bisa lagi menahan gejolak yang ada di dalam perutnya sudah meronta ingin dikeluarkan.


Dengan cepat Vara melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur. Semua orang yang berada di ruang tamu merasa khawatir melihat keadaan Vara yang tiba-tiba saja pucat kembali. Ibu Ana yang tahu apa yang akan terjadi dengan cepat menyusul Vara ke arah kamar mandi untuk membantu Vara mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


__ADS_2