
Matanya membulat sempurna. Sedang apa pria itu di kontrakan Gita. Tatapan mata itu tidak lagi seperti yang terakhir Zia lihat. Tatapan penuh kebencian. Yang terlihat hanyalah sebuah tatapan sendu penuh penyesalan.
Zia bangkit dari duduknya, menerka jika Fero sudah tahu jika dirinya tengah mengandung. Ingin rasanya Zia berteriak menyuruh pria itu pergi dari hadapannya. Tetapi tenaganya hilang entah kemana. Perlahan tatapan matanya mulai memudar. Hampir saja tubuh Zia terjatuh di atas lantai jika Fero tidak sigap menangkapnya.
"Zia, bangun Zi!! Lo kenapa?" Fero nampak panik. Zia bahkan belum mengeluarkan suara ketika melihat wajahnya. Wajah pucat Zia membuat tubuhnya gemetar. Fero takut jika terjadi hal buruk pada Zia dan anak yang ada di dalam kandungannya.
Gita yang mendengar suara gaduh dari dapur segera melangkahkan kakinya ke arah dapur. Terlihat Fero tengah mencoba menyadarkan Zia, "Apa yang terjadi kepada Zia?!" Gita tak kalah panik. Seharusnya ia mengajak Zia untuk makan terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Fero. Penyesalan menghampiri, jika saja ia dengan cepat menuruti keinginan Zia untuk makan. Semua tidak akan seperti ini.
__ADS_1
Fero mengangkat tubuh tak berdaya itu. Gita mununtun Fero untuk membawa Zia ke dalam kamarnya, "Cepat panggilkan dokter Haru ke sini!!" perintah Fero kepada Zayn ketika melewati ruangan tamu. Zayn mengangguk paham. Segera ia hubungi dokter pribadi keluarga Fero.
Perlahan Fero baringkan tubuh Zia di atas tempat tidur. Ditatapnya lekat wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya. Wajah wanita itu nampak pucat tak berdaya. Tidak ada olesan lipstik yang membuat wajah Zia nampak semakin pucat, "Bangun Zi, maafkan kesalahanku," lirihnya. Sekarang tidak ada bedanya ia dan Rangga. Dua pria yang sama-sama menodai wanita tak berdosa dan bersalah.
Bahkan setelah kejadian ia merenggut paksa kesucian gadis itu. Fero hanya menggapnya biasa saja tanpa adanya rasa bersalah kepada Zia. Dirinya bahkan dalam keadaan sadar ketika melakukan pergumulan dengan Zia. Ucapan memohon dari Zia tak dihiraukannya. Dirinya hanya ingin mengobati hatinya yang sedang terluka saat itu.
Tepat satu bulan setelah kejadian itu dirinya merasa aneh dengan keadaan tubuhnya. Setiap pagi bahkan siang hari Fero merasa lemas dan ingin mengeluarkan isi perutnya. Bahkan dirinya sangat ingin memakan makanan yang tidak pernah di sukainya.
__ADS_1
Tak lama dokter pribadi keluarga Fero pun datang. Gita menuntun dokter yang sudah dihubungi Zayn masuk ke dalam kamar Zia, "Dia siapa? Sepertinya wanita ini tengah mengandung anak kamu," kelakarnya.
Fero mendengus, "Banyak bicara, cepat perikasa atau gaji kamu tidak keluar bulan ini!" perintah Fero tegas.
"Huh, galak sekali."
Dokter mulai memeriksa kondisi Zia. dokter itu menggeleng membuat Gita dan Fero nampak panik, "Bagaimana kondisi sahabat saya, Dokter?! Katakan!!" Gita sudah mulai berkaca-kaca. Rasa takutnya kembali datang ketika melihat Zia yang pingsan seperti saat awal kehamilannya dulu.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Nona Zia hanya kelelahan dan sepertinya sedang banyak pikiran. Saya harap kamu bisa menjaga wanita ini dengan baik, jangan sampai Nona Zia banyak pikiran. Jika terus seperti ini bisa berakibat buruk pada kandungannya," perintahnya. Menatap Fero yang tidak lepas memandang wajah Zia dengan tatapan bersalah.