
Vara menatap haru pemandangan di depannya saat ini. Baby Alula dan Raffael—anak dari Fero dan Zia yang kini sudah berusia 5 tahun itu nampak bermain dengan akur di taman belakang rumahnya. Namun keakuran mereka tidak berlangsung dengan lama. Sebab Raffael nampak bermuka masam berlari ke arah Zia yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka di gazebo diikuti Alula di belakangnya.
"Mama.." rengek Raffael pada Zia.
"Ada apa, Sayang?" tanya Zia lembut. Membelai rambut hitam Raffael.
"Alula tidak asik! Ajak Raffa main boneka terus! Raffa kan ingin main mobil, Mah.." menarik ujung baju yang Zia kenakan.
Zia menghela nafasnya. Menghentikan sejenak aktivitasnya menyiapkan makanan dan membawa Raffael ke dalam gendongannya.
"Ayo, Raffael kita main lagi! Lula kan belum selesai mainnya!" protes Alula menarik kaki Raffael yang berada digendongan Zia.
"Tidak! Main saja sendiri sana! Main boneka terus! Kamu pikir aku ini anak perempuan apa?" tolak Raffael menampakkan muka jengkelnya.
__ADS_1
Mendengar penolakan Raffael membuat mata Alula berkaca-kaca. Jika biasanya dirinya mengajak bermain dengan Kakaknya—Yura yang pasti akan sangat senang ketika diajak bermain. Berbeda dengan saat Ini. Kakaknya itu masih bersekolah dan belum pulang sampai saat ini.
Tanpa menjawab ucapan Raffael, Alula berlari masuk ke dalam rumah. Menaiki anak tangga satu persatu untuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Vara yang melihat kejadian pun segera menyusul Alula masuk ke dalam kamarnya.
Dilihatnya Alula sedang menelungkupkan tubuhnya di atas tempat tidur diikuti suara tangisan sesegukannya.
"Alula.." panggil Vara lembut.
Alula yang mendengar suara lembut sang Bunda pun langsung mengangkat wajahnya. "Hua.. Raffa jahad, Bunda.. Hiks.. Hiks.." adunya manja. Jika melihat Alula yang seperti ini. Rasanya Vara seperti bercermin melihat kejadian beberapa tahun yang lalu dimana sikap Yura yang sama persis seperti Alula.
"Raffa selalu saja menolak untuk bermain boneka dengan Lula, Bunda. Maunya main mobil saja.. Lula nda suka, Bunda.. Mobil jelek.. Boneka cantik.." Alula mencebik. Menurutnya bermain boneka dengan berbagai karakter lebih menyenangkan dibandingkan memainkan mobil berbentuk truk yang sering Raffael mainkan yang menurutnya sangat membosankan.
"Raffael bukan tidak suka bermain boneka dengan Lula, sayang.. Hanya saja, bermain boneka 'kan biasa dilakukan anak-anak perempuan. Sedangkan Raffael laki-laki dan memiliki kesukaan mainan tersendiri khusus laki-laki. Jadi, Alula dan Raffael harus saling mengerti kesukaan masing-masing. Kamu 'kan nanti juga bisa bermain dengan Kak Yura, Sayang.." ucap Vara berharap Alula dapat mengerti. Vara memeluk erat buah hatinya yang semakin menggemaskan
__ADS_1
Alula hanya mengangguk di dalam pelukan Vara. Suara cempreng dari lantai bawah seperti orang kesetanan membuat Alula melepaskan pelukannya pada Vara.
"Yura pulang!! Alula?! Dimana kamu?!" teriak seorang gadis dengan suara cemprengnya.
"Kakak pulang?!" teriaknya keras karena orang yang ia harapkan hadirnya sedari tadi akhirnya datang juga.
Alula segera menurunkan tubuhnya dari ranjang dan berlari menuju arah suara cempreng milik kakaknya. Dari lantai atas Alula dapat melihat Yura dan Aidan tengah duduk di sofa sambil mengayunkan kedua kaki mereka.
"Alula! Hei! Apa yang kamu lakukan?! Turunlah dengan hati-hati!!" pekik Yura ketika melihat adiknya menuruni tangga dengan terburu-buru.
***
Maaf jika jalan ceritanya tidak sesuai yang kalian harapkan. Novel ini akan aku lanjutkan ke cerita anak-anak Rangga dan Vara serta Fero dan Zia ketika sudah dewasa.
__ADS_1
Selagi menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir ke novel terbaruku yang berjudul Hanya Sekedar Menikahi yang sedang aku usahakan rutin update.
Terimakasih pada kalian yang masih setia dengan novel ini. Salam sayang dari jauh❤❤