Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Provokasi Audi


__ADS_3

Ibu Ana melangkahkan kakinya pelan keluar kamar ketika memastikan putrinya sudah tertidur pulas setelah meminum obat yang diberikan dokter Eva. Sebelum memegang knop pintu, Ibu melirik sejenak ke arah Vara. Masih tersisa air mata di sudut mata Vara yang membuat Ibu menatapnya sendu.


"Bagaimana keadaan Vara, Bu?" tanya Nadia setelah melihat Ibu Ana keluar dari dalam kamar.


Aidan dan Yura sudah dibawa terlebih dahulu ke dalam kamar mereka oleh Riri karena Yura tak hentinya menangis melihat keadaan Bundanya. Untung saja setelah dibujuk karena akan memiliki adik, gadis kecil itu bisa tenang dan berhenti menangis.


"Vara sudah tidur, sepertinya karena kelelahan menangis dia sampai tertidur. Atau mungkin saja efek dari obat yang diberikan dokter Eva tadi," jelas Ibu. Mendudukkan tubuhnya di sofa samping Nadia yang kosong.


"Apa yang menyebabkan Vara pingsan lagi seperti tadi Nad? Cepat katakan!!" desak Fero tidak sabar. Sedari tadi Nadia hanya diam saja di saat ia menanyakan apa penyebab Vara pingsan di depan rumah Rangga.


"Rangga mengusir Vara dari rumah dan mengatakan jika Vara berselingkuh dengan lo! Audi juga ikut andil. Wanita licik itu mengatakan jika Vara akan menjadi janda dan dia akan menikah dengan Rangga," jelas Nadia menggebu-gebu. Rasanya Nadia sangat ingin melayangkan tamparan pada dua manusia yang menyebabkan sahabatnya sering terluka.


"Brengsek!! Gue pergi dulu!" Fero bangkit dari duduknya. Saat ini yang menjadi tujuannya adalah mengahajar Rangga dengan menyusul ke rumah rivalnya itu.


Nadia yang melihat pergerakan Fero langsung berdiri mencekal tangan Fero ketika hendak lebih jauh melangkah menuju pintu, "Lo lebih mikirin Rangga dari pada Vara saat ini, huh?! Harusnya lo mikirin bagaimana saat ini Vara tidak banyak pikiran!! Pikirkan anak yang ada di dalam kandungannya!! Dan dimana Vara akan tinggal dengan aman tanpa gangguan dari dua manusia itu," bentak Nadia kesal. Meredam emosi sejenak dengan memikirkan Vara akan tinggal dimana lebih baik, pikir Nadia.


"Vara bisa tinggal di sini bersama Ibu. Lagi pula rumah ini juga rumah Vara," tanya Ibu Ana heran. Memang apa yang salah jika anaknya tinggal di rumahnya?


"Agh, maaf Bu. Bukan seperti itu maksud Nadia," berbalik menatap Ibu Ana tidak enak, "Jika Vara tinggal di sini, bisa saja Rangga atau Audi akan mengganggu Vara. Untuk saat ini lebih baik kehamilan Vara jangan sampai diketahui Rangga dulu. Nadia takut jika Audi mengetahuinya juga dan akan berbuat yang tidak-tidak pada Vara," ucapnya lagi.


"Jadi Vara, Aidan dan Yura akan tinggal dimana?" wajah Ibu terlihat cemas. Ucapan Nadia ada benarnya juga. Keselamatan Vara dan anak yang ada di dalam kandungannya lebih penting dibandingkan rasa ingin tinggal bersama putri dan kedua cucunya lagi.

__ADS_1


"Vara akan tinggal di apartemen Fero, Bu. Di sana Fero akan memberi Vara pengawal dan pelayan untuk membantu Vara. Fero jamin Rangga atau Audi tidak akan mengetahui tempat tinggal Vara yang baru," timpal Fero tiba-tiba.


"Apa lo yakin? Bagaimana jika Rangga bisa tahu, apa lo lupa Rangga itu siapa? Dia bisa dengan mudahnya menemukan Vara," protes Nadia Menatap Fero.


"Jika pun Rangga tahu lo tenang saja! Gue yang akan menjadi pelindung Vara, Aidan dan Yura," yakin Fero.


"Baiklah, jadi kapan kita membawa Vara ke apartemen lo?"


"Jika Vara sudah bangun dari tidurnya. Lebih cepat lebih baik."


Nadia mengangguk menyetujui diikuti Ibu Ana yang hanya bisa pasrah mengikuti jalan terbaik untuk putrinya saat ini.


Rangga memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sakit memikirkan masalah rumah tangganya dengan Vara. Ia sungguh tidak menyangka jika Vara akan mengkhianatinya bersama Fero. Barang bukti yang ia punya sudah cukup meyakinkan jika dugaannya benar adanya. Memperhatikan bentuk kamarnya yang terlihat sangat berantakan. Hanya ada foto pernikahannya dengan Vara yang tetap menempel kokoh di dinding atas tempat tidur.


Para pelayan tidak berani menegur majikan mereka yang terlihat sangat murka. Bahkan ketika hendak membereskan kekacauan di kamar Rangga mereka mengurungkan niat ketika melihat mimik wajah Rangga seperti memerintah jangan mengganggu dirinya yang sedang berada di kamar itu.


Audi masuk ke dalam kamar Rangga tanpa permisi. Memperhatikan barang-barang yang berserakan akibat ulah Rangga. Senyum sinis terkembang di wajahnya. Ia yakin jika Vara dan Rangga sebentar lagi akan berpisah. Dan saat itu tiba ia akan masuk menjadi pahlawan penolong hati Rangga yang sedang hancur.


"Sudahlah Rangga, buat apa kamu memikirkan wanita itu! Dia juga pasti saat ini sedang bermesraan bersama Fero. Apa kamu tidak lihat tadi Fero menggendong Vara masuk ke dalam mobilnya? Aku yakin, Fero akan membawa Vara ke rumahnya," ucap Audi. Mencoba membuat suasana hati Rangga yang kacau semakin membara.


"Siapa yang suruh lo masuk ke dalam kamar gue huh?!"

__ADS_1


"Aku cuma prihatin melihat keadaan kamu Rangga. Aku juga tidak menyangka jika Vara berani bermain api di belakang kamu," ucap Audi sesedih mungkin. Menampakkan raut wajah iba atas apa yang dialami Rangga.


"Keluar!!!" bentak Rangga keras. Emosinya semakin memuncak setelah mendengarkan ucapan Audi yang kembali mengingatkannya pada sosok yang berhasil memporak-porandakan hatinya.


"Baiklah, aku akan keluar. Jika kamu membutuhkan bantuan, aku siap menbantu kamu. Aku rasa dia memang tidak pantas untuk menjadi istri kamu lagi setelah apa yang telah dia perbuat kepada kamu," sinis Audi. Harapannya kali ini berharap jika Rangga memikirkan ucapannya kemudian menceraikan Vara secepatnya. Ia sangat tidak sabar untuk menjadi pengganti Nyonya muda di keluarga Dharma, "Aku bahkan tidak yakin jika Aidan dan Yura itu adalah anak-anak kamu," provokasi Audi lagi yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar Rangga dengan senyum kemenangan.


Rangga menghempaskan kembali tubuhnya di sandaran sofa ketika pintu sudah tertutup dari luar setelah Audi keluar dari sana. Ucapan Audi baru saja berhasil masuk ke dalam pikirannya. Apakah ia harus menceraikan Vara atas apa yang telah istrinya perbuat di belakangnya berselingkuh dengan Fero? Seketika niatan itu ia hempaskan ketika mengingat kedua anaknya, Aidan dan Yura.


Baru sebentar ia merasakan menjadi sosok seorang ayah bagi kedua anaknya. Mengingat kehidupan Aidan dan Yura sebelum bertemu dirinya membuat Rangga menunduk. Walau pun bukti-bukti sudah mengarah pada perselingkuhan Vara dan Fero. Tetapi tetap saja, hati seorang ayah tidak bisa dibohongi. Ia sangat yakin jika Aidan dan Yura benar-benar anak kandungnya.


"Bahkan sampai kapan pun juga gue tidak akan rela jika anak-anak gue harus memiliki pengganti gue sebagai ayah mereka, termasuk Fero!!" geram Rangga mengepalkan kedua tangannya.


.


.


.


*Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉

__ADS_1


__ADS_2