
"M-mas Rangga?" ucap Vara terbata ketika melihat wajah suaminya sudah berada tepat di sampingnya. Apakah ia begitu menghayati lamunannya sehingga tidak sadar jika suaminya itu sudah duduk di sampingnya.
Rangga tak menjawab, elusan masih terus ia berikan di perut istrinya. Rangga memang sudah memerintahkan salah satu pengawalnya untuk memantau aktivitas Vara. Ketika ia sedang berada di kantor dan mendapatkan kabar jika Vara sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya, langsung saja Rangga beranjak dari kursi kebesarannya dan mengalihkan beberapa tugasnya kepada asisten Jo.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya lagi ketika tidak mendapatkan jawaban dari Rangga.
"Aku ingin memastikan jika anakku yang ada di dalam kandungan kamu dalam keadaan baik-baik saja," jawab Rangga. Melepaskan tangannya yang berada di perut Vara. Beralih mengelus rambut Vara yang sudah mulai memanjang dari terakhir yang ia lihat.
"M-mas," ucap Vara terbata. Ia tak menyangka jika suaminya tahu jika saat ini dirinya tengah mengandung.
"Maafkan aku yang telah membuat kamu merasakan kembali kesendirian tanpa suami ketika mengandung," rasa bersalah menjalar di hati Rangga. Ia sangat merutuki tingkah bodohnya yang tidak mau mempercayai istrinya sendiri.
"A-aku," ucapan Vara seketika terputus ketika mendengar namanya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Rangga dengan cekatan membantu Vara bangkit dari duduknya. Kata penolakan dari Vara seakan tak dihiraukannya. Masih menggenggam tangan Vara, Rangga berjalan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Selamat pagi Nona Vara," sapa dokter muda yang Vara perkirakan berusia 30 tahunan.
"Selamat pagi, Dok," jawab Vara sembari tersenyum. Tangannya masih di genggam erat oleh Rangga seolah tidak mau melepaskannya.
__ADS_1
"Apa ini suami anda, Nona?"
"Agh, ya, ini Mas Rangga suami saya."
Dokter muda itu tersenyum ramah kepada Rangga yang hanya dibalas Rangga dengan menyunggingkan singkat sudut bibirnya.
"Apa ada keluhan Nona?"
Vara menggeleng, "Hanya mual di waktu pagi dan malam hari saja, Dok."
Dokter itu mengangguk mengerti, "Mari naik ke atas ranjang, Nona," perintahnya.
"Saya buka bajunya sedikit ya, Nona," izin perawat. Vara mengangguk, perawat mulai menyingkap baju yang dikenakan Vara hingga menampakkan perut putih yang sudah mulai membuncit.
Perawat mulai menuangkan gel yang terasa dingin di perut Vara. Dokter mulai mengarahkan probe USG di perut Vara. Mata Rangga dan Vara seketika berkaca-kaca melihat gambaran calon anak mereka yang ada di layar monitor. Rangga menggenggam erat tangan Vara, kali ini sungguh bersyukur masih bisa melihat perkembangan anak yang ada di dalam kandungan istrinya itu.
Setelah selesai melakukan USG, perawat mulai membersihkan gel yang ada di perut Vara. Dokter kembali ke tempat duduknya. Menulis sesuatu di lembaran kertas yang ada dihadapannya.
"Kondisi Ibu dan anaknya sangat sehat, sepertinya dia calon bayi yang cukup kuat," dokter itu tersenyum. Menatap pria dan wanita di hadapannya bergantian, "Saya sudah menuliskan resep penguat kandungan dan vitamin untuk Nona Vara. Apa ada yang ingin Nona dan Tuan tanyakan?" tanyanya ramah.
__ADS_1
"Kenapa pada kehamilan kedua ini saya lebih mudah lelah dan sering merasakan mual di pagi bahkan malam hari? Tidak seperti waktu hamil yang pertama dulu," keluh Vara. Tubuhnya sering terasa lemas, bahkan untuk mengurus keperluan Aidan dan Yura saja Vara sering meminta bantuan kepada pelayan jika rasa mual itu datang.
"Setiap kehamilan mengalami gejala yang berbeda-beda, Nona. Memasuki trimester kedua, biasanya rasa mual sudah mulai berkurang. Pada awal masa trimester pertama itu adalah hal yang wajar," jelasnya. Masih menampakkan senyuman ke arah Vara.
Vara mengangguk paham, Rangga menerima kertas yang disodorkan dokter kepadanya, "Apa ada lagi yang ingin Tuan dan Nona tanyakan?"
"Tidak ada, jika begitu saya dan suami pamit dulu. Terimaksih, Dok," Vara beranjak diikuti Rangga. Menjabat tangan dokter, kemudian keluar dari dalam ruangan pemeriksaan diikuti Rangga yang memengang tangannya dan sebelahnya lagi memegang hasil cetakan USG Vara.
***
Tangan Vara terasa basah ketika rasa gugup mulai menghampirinya ketika ia dan Rangga keluar dari rumah sakit. Rangga terus menggenggam tangan istrinya erat seolah tak mau melepaskannya, "Lepaskan tangan kamu, Mas. Aku bisa berjalan sendiri," Vara masih mencoba melepaskan genggaman tangan Rangga.
"Kita perlu bicara, Ra. Hanya sebentar, tidak akan lama," pinta Rangga. Kesalahpahaman antara ia dan Vara harus segera ia tuntaskan. Malam-malamnya terasa sunyi ketika sosok istrinya itu tidak berada di sampingnya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Mas. Semuanya sudah jelas. Sekuat apapun aku menjelaskan kamu tidak akan pernah mempercayaiku," menghela nafasnya yang semakin memberat. Memandang lurus ke arah depan dengan pandangan kosong. Kondisinya yang sedang hamil membuat Vara tidak bisa mengontrol emosi dan perasaannya sendiri, "Teruskanlah niat kamu jika itu bisa membuat kamu bahagia, Mas. Aku sungguh tidak apa-apa. Kamu tenang saja, anak ini tidak akan menjadi penghalang niat kamu. Aku sudah ikhlas dengan apa yang menjadi takdirku," air matanya menetes. Vara dengan cepat menyeka air matanya. Ia tidak mau Rangga melihat kesedihan di raut wajahnya.
Menghadapkan wajah Vara ke arahnya, Rangga memandang wanita yang hampir sebulan ini sudah membuat hidupnya kacau. Bagaimana tidak, setiap malam Rangga terus menghabiskan waktunya di club Rey hanya untuk menenangkan hatinya yang masih saja memanas. Danu, Adit dan Alex dengan setia menemani Rangga. Takut-takut jika terjadi apa-apa kepada Rangga yang sudah mulai mabuk. Bahkan Adit harus menerima omelan dari Nadia ketika ketahuan selalu meninggalkannya ketika ia sudah tertidur.
"Jangan berbicara seperti itu lagi, Ra! Aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup dan itu dengan kamu! Kamu istriku satu-satunya sampai kapan pun itu!" tegas Rangga masih dengan nada lembut, "Ada atau tidak adanya calon anak kita yang ada di dalam kandungan kamu, itu tidak akan pernah merubah prinsip yang sudah aku tanamkan sejak dulu," lanjutnya lagi. Rasanya Rangga sudah terlalu banyak bicara tidak seperti Rangga yang biasanya dingin dan irit bicara.
__ADS_1
"Untuk apa kita menjalani rumah tangga yang hanya ada satu perasaan yang ingin berjuang membangun tanpa ada satu orang lagi yang memiliki perasaan yang sama, Mas. Aku terlalu bodoh mengharapkan perasaan terbalaskan dari orang yang sedari dulu aku cintai. Bahkan rasa percayanya satu tidak ada sedikit pun untukku. Tetapi aku akan terus berusaha, pada detik ke 59 setelah ini, aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu."