
Vara menyandarkan tubuhnya di sofa menikmati tayangan acara di televisi. Setelah sarapan Rangga membawa kedua anaknya ke apartemen Adit yang juga satu gedung apartemen dengannya hanya beda lantai saja. Selain ada yang ingin dia bahas dengan Adit dan berganti pakaian, Rangga juga ingin melakukan pendekatan lebih dengan kedua anaknya.
"Sangat membosankan sendirian di rumah seperti ini, kenapa aku tidak ikut saja menemani Rangga ke apartemen Adit? Lagian juga ada Nadia di sana... Agh tidak, tidak, jika aku selalu berada di dekat Rangga jantung ini bisa-bisa melompat keluar." Vara mengingat kejadian di meja makan tadi dan menutup wajahnya, malu. Agh... Yura sayang... Lagian kenapa sih nak kamu berbicara seperti itu di depan ayah kamu... Bunda kan jadi malu nak... Pasti Rangga meledekku tadi... Huft..."
Ting!
"Nadia?" Vara membuka pesan yang dikirimkan Nadia. Dilihatnya kiriman foto yang berisi Rangga sedang menyuapi Yura potongan buah sedangkan Aidan memakan buahnya sendiri seperti biasanya. "Mereka sudah sampai di apartemen Adit, Rangga juga mau menyuapi Yura seperti yang aku lakukan... Pasti anak-anak sangat senang bisa bersama ayahnya..." Vara tersenyum seraya mengelus foto kiriman Nadia.
Vara memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. "Agh... Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit begini? Huft, apa ini akibat aku susah tidur akhir-akhir ini? Sebaiknya aku tidur saja, mana tau setelah bangun kepalaku tidak akan sakit lagi seperti kemarin. Selagi anak-anak juga belum pulang. Sepertinya mereka akan lama di apartemen Adit." Vara beranjak dari sofa menuju kamarnya.
***
Rangga baru saja selesai menyuapkan Vara satu piring potongan buah. Adit mengajak Rangga ke dalam ruangan kerjanya untuk membahas sesuatu yang belum Rangga ketahui topik pembahasan mereka kali ini. Gadis kecil itu nampak kekenyangan menghabiskan potongan-potongan buah yang diberikan Nadia kepadanya tadi. Mata sendu keturuan Vara itu nampak mengerjap beberapa kali menghilangkan rasa kantuk yang mulai menyerang. Nadia yang melihat tingkah Yura hanya terkekeh geli melihat anak sahabatnya itu sangat lucu ketika mengantuk.
Nadia melihat jam sudah menunjukkan pukul 12.25 WIB. Pantas saja Yura sudah mengantuk, ternyata waktu jam tidur siangnya sudah hampir tiba. "Yura mau bobo siang sayang?" Tanya Nadia yang langsung diangguki Yura. "Ayo ikut tante ke kamar... Sepertinya ayah kamu akan lama di dalam ruangan kerja oom Adit." Mereka berjalan menuju kamar Nadia yang terpisah dari kamar Adit yang diikuti Aidan dari dibelakang.
"Aidan dan Yura tidur saja dulu... Nanti jika ayah dan oom sudah siap tante akan membangunkan kalian." Nadia menutup pintu dengan pelan ketika melihat Aidan dan Yura yang sudah terlelap dalam tidurnya. Ia memutuskan untuk bersantai di ruang tamu melanjutkan tontonan drama korea yang sempat tertunda sebelum kedatangan Rangga dan kedua anaknya.
Sudah satu jam Nadia menikmati drama yang ada di layar laptopnya. Tapi belum ada tanda-tanda Adit dan Rangga akan keluar dari ruangan kerja Adit. Nadia tidak mempermasalahkan, toh Aidan dan Yura juga sedang tidur dan ia pun sedang menikmati tontonan drama koreanya.
__ADS_1
Adit dan Rangga keluar ketika jam sudah menunjukkan 14.20 WIB. Sepertinya pembahasan kali ini cukup serius sehingga mereka menghabiskan waktu cukup lama dan melupakan adanya Aidan dan Yura di sana.
Adit hanya menggelengkan kepala melihat Nadia yang begitu kegirangan melihat adegan romantis di depannya tanpa mempedulikan Adit yang sedari tadi menatapnya geli. "Mau sampai kapan lo bertingkah seperti orang gila, hem?" Nadia tersentak melihat Adit dan Rangga yang sudah menatapnya tajam.
"Sejak kapan lo berdiri di situ?" Nadia balik menatap Adit ketus.
"Sejak gue melihat lo menggit bantal sofa gue!! Seperti gak ada kerjaan aja lo?!" Jawab Adit.
Nadia melototkan matanya ke arah Adit, kesal. "Ya ini emang kerjaan gue!! Emang masalah buat lo?!" Nadia beranjak menuju dapur mengambil air minum dari lemari pendingin untuk menghilangkan rasa hausnya yang sedari tadi menyerang.
Adit hanya bisa menggerutu melihat tingkah Nadia yang tidak ada baik-baiknya kepadanya. Sejak mereka pindah ke apartemen miliknya, mereka sudah memutuskan untuk tidur terpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Ego yang terlalu tinggi dari keduanya membuat mereka sama-sama saling menutupi perasaan yang sudah timbul dari dalam diri mereka masing-masing.
"Nad, dimana Yura dan Aidan? Kenapa mereka tidak ada di sini?" Tanya Rangga melihat sekeliling ruangan.
"Ada di kamar gue... Lo tenang aja... Lagian lo ngomong apaan sih sama ni orang sampai lupa kalau lo bawa anak-anak kemari. Vara juga dari tadi nanyain kenapa lo belum pulang juga bawa anak-anak." Nadia mencebik.
"Dimana kamar lo?? Vara dari tadi nanyain anak-anak?? Kenapa lo gak bilang?!"
"Udah gue bilang anak-anak lagi tidur. Biarin aja mereka tidur dulu, kasian kalau dibangunin, nanti Yura malah nangis lagi kayak waktu itu." Nadia mengingat kejadian dimana ia dan Riri yang iseng membangunkan Yura untuk mengajaknya main dan membuat Yura menangis karena terkejut dibangunkan secara tiba-tiba dan membuat kepala gadis kecil itu pusing.
__ADS_1
Rangga mengangguk mengerti, ia juga pernah mendengar cerita Vara jika Yura akan menangis jika tidurnya diganggu. Rangga memutuskan menunggu kedua anaknya itu bangun dan menghubungi Vara terlebih dahulu.
Pintu kamar Nadia terbuka, Yura keluar mengucek kedua matanya. Ia baru saja bangun tidur dan mencari keberadaan ayahnya yang ada di ruang tamu. Rangga yang melihat kedatangan Yura langsung mengangkat Yura dan mendudukkan dipangkuannya.
"Kakak Aidan mana sayang?" Tanya Rangga.
"Di kamal mandi tante ayah... Kakak mau pipis tadi katanya... Yula nda bole ikut ke dalam kamal mandi..." Yura masih mengucek kedua matanya.
"Yura mau pipis juga sayang?" Tanya Nadia heran.
"Nda tante... Mau ikut kakak saja... Takut kakak bobo di kamal mandinya tante..."
Nadia menepuk keningnya mendengar jawaban Yura yang di luar pikirannya. "Emang kakak Aidan pernah tidur di kamar mandi waktu di rumah sayang?"
Yura menggeleng pelan. "Yula yang pelnah bobo di kamal mandi... Bunda sampai nangis nyaliin Yula yang nda ketemu waktu itu..." Yura masih menjawab pelan.
"Astaga... Kenapa Yura bobo di kamar mandi??" Nadia masih tidak habis fikir dengan tingkah Yura.
"Yula masih ngantuk dibangunin bunda pagi-pagi tante... Jadi Yula sembunyi di dalam kamal mandi dan bobo di sana..."
__ADS_1
"Apa??"