Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Belajar melupakan


__ADS_3

Jawaban Vara berhasil membuat Fero termenung. Benar saja, dirinya yang menyuruh Zia untuk menghilang dari kehidupannya. Wajar saja jika wanita itu berpikiran buruk tentang dirinya saat ini. Sikap buruknya kepada Zia, menolak wanita itu mentah-mentah untuk menjadi istrinya, bahkan bersikap dingin kepadanya. Terakhir kali pertemuan mereka pun menorehkan luka di hati dan fisik Zia.


"Apa yang harus aku lakukan saat ini, Ra?" tanyanya putus asa. Mengusap kasar wajahnya. Rasa kecewa Zia padanya sangat sulit untuk dimaafkan, dan Fero sadar itu.


"Apa tidak ada sedikit pun cinta di hati kamu untuk Zia?"


"Jangan mempertanyakan sesuatu yang kamu sudah tahu jawabannya, Ra!"

__ADS_1


"Belajarlah mencintai Zia mulai saat ini, Fer. Jika tujuan kamu hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kamu saja tetapi tidak ada cinta yang terbalaskan untuknya, bisa saja itu menjadi alasan Zia sulit menerima kamu. Cintanya akan menghilang seiring kekecewaan yang semakin mendalam. Mungkin saat ini Zia sedang berusaha untuk menghilangkan perasaan cintanya kepada kamu."


Suasana hening cukup lama. Vara membiarkan Fero merenungi setiap kata yang keluar dari bibir mungilnya. Sesekali Vara meringis. Mengelus perutnya ketika merasakan adanya pergerakan yang cukup keras di dalam sana.


Kamu tahu hanya dirimu yang bisa membuat aku jatuh dan mencinta sedalam ini, Ra. Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk mencintai wanita lain.


"Aku tahu bagaimana rasanya memendam perasaan untuk waktu yang cukup lama. Bahkan pria itu memperlakukanku dengan sangat buruk. Tetapi cinta memang bodoh, aku semakin terjerat untuk terus mencintainya tanpa perduli kesakitan yang ia torehkan di hatiku. Bahkan di saat aku mulai belajar untuk melupakannya, dia bahkan memberikan kebahagiaan yang saat ini hadir di hidupku. Kebahagiaan yang menuntunku untuk tetap menyimpan perasaan cinta itu untuknya. Tidak peduli segala sakit, ketika bertemu dengannya kembali, aku tahu cinta itu kembali hadir dan tetap ada," Vara tersenyum malu ketika mengatakannya. Entah kenapa hamil yang kedua ini dirinya merasa terlalu banyak bicara.

__ADS_1


Hati Fero serasa tersayat ketika wanita yang dicintainya menyatakan cinta kepada orang lain. Melihat cara Vara berbicara ketika mengatakan perasaannya membuat Fero sadar. Jika ia tidak akan pernah bisa masuk ke dalam relung hati Vara.


Gue tahu sudah saatnya untuk berhenti mencintai lo, Ra. Rangga sungguh beruntung mendapatkan istri seperti lo. Lo bahkan dengan mudahnya bisa memaafkan kesalahan Rangga selama ini. Apa cinta memang membutakan segalanya. Berbahagialah permata hatiku.


Menatap manik hitam itu dalam. Seketika Fero tersadar ketika melihat raut wajah Vara seperti menahan sakit, "Kamu tidak apa-apa, Ra? Mana yang sakit? Jangan bilang jika kamu mau melahirkan saat ini?!" melihat ke arah kiri dan kanan. Mencari sosok Ibu Vara untuk meminta pertolongan. Tangannya sudah sampai di atas perut Vara sambil mengelusnya. Berharap calon bayi di dalam sana tidak berniat keluar dulu saat ini.


Vara terkekeh geli melihat wajah panik Fero "Aku tidak apa-apa. Usianya masih delapan bulan di dalam sini. Kenapa panik seperti itu?" mencoba tersenyum selebar mungkin untuk menenangkan pria yang masih menempelkan tangannya di perutnya. Berharap tangan itu segera lepas dari perutnya saat ini juga.

__ADS_1


"Lepasin tangan lo dari perut istri Gue!!" suara berat dan penuh perintah itu membuat ketakutan Vara menjadi kenyataan.


__ADS_2