Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Awal mula permasalahan


__ADS_3

Air mata masih mengalir deras di pipi Vara tatkala mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rangga baru saja. Vara sungguh tidak menduga, jika Rangga yang sedang duduk di hadapannya ini adalah Rangga yang dikenalnya dulu. Sosok yang tidak banyak bicara itu kini sudah banyak berubah di penglihatannya. Entah sejak kapan Rangga banyak bicara seperti itu, bahkan Vara tidak pernah membayangkan jika Rangga akan berubah seperti itu terhadapnya.


Rangga menghapus sisa air mata yang masih menempel di sudut mata Vara, perasaan aneh mulai muncul di dalam diri Rangga setelah mengikat Vara menjadi istrinya. Mungkin kah ia sudah mulai jatuh cinta kepada Vara? Pertanyaan itu selalu saja menghatui pikirannya selama beberapa hari di luar Kota.


"Aku senang melihat kamu banyak bicara seperti ini, Mas," ucap Vara tersenyum ke arah Rangga.


Mengangkat kedua alisnya, "Memang aku sosok seperti apa yang ada di dalam pikiran kamu?" tanya Rangga.


"Entahlah, hanya saja yang sering aku lihat kamu itu adalah sosok yang tidak banyak bicara dan ... setiap bertemu denganku selalu saja menatapku dengan tatapan dingin dan tidak suka," tutur Vara, "Kenapa kamu selalu saja menatapku seperti itu, Mas? Seolah-olah aku ini adalah manusia yang paling menjijikkan di mata kamu," Vara sangat ingin mengetahui alasan Rangga yang sangat membencinya dulu.


Rangga tersentak akan pertanyann Vara, ia sangat ingin mengalihkan pembicaraan kali ini. Mengingat kesalahpahamannya dulu kepada Vara, membuat ia sangat membenci sosok Vara padahal ia sama sekali tidak tahu kebenarannya seperti apa.


Rangga menetralkan degub jantungnya yang terasa mulai berdetak di luar normal, ia akan menyelesaikan kesalahpahamannya selama ini kepada Vara, dari pada mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan bukankah itu prilaku yang tidak dewasa dan malah membuat kesalahpahaman semakin menjalar, pikir Rangga.


"Kita hanya sering terlibat di dalam kesalahpahaman," ungkap Rangga.


Vara menyerngitkan dalam keningnya, "Kesalahpahaman seperti apa yang kamu maksud, Mas? Aku sunggu tidak mengerti," Vara memundurkan posisi duduknya supaya lebih bisa menjangkau wajah Rangga.


"Kamu tau permasalahan aku dan Fero?"


"Kalian adalah rival? Benar begitu, Mas?"


Rangga mengangguk, "Awalnya aku tidak pernah menganggap serius Fero sebagai rival, aku bahkan tidak pernah peduli sikap orang lain terhadapku, Ra. Hanya saja, banyak dari oknum-oknum tertentu yang membuat kami semakin berselisih paham sehingga menyebabkan kami sering bertentangan."


Vara mengangguk-angguk, "Terus, Mas?" tanya Vara, rasanya Vara ingin melompat kegirangan melihat sikap Rangga yang banyak bicara seperti itu kepadanya.


"Permasalahan aku dan Fero dimulai pada saat pemilihan Ketua Osis, Aku dan Fero dituntut untuk memperlihatkan keunggulan masing-masing. Dan benar saja, jika di antara aku dan Fero hanya terdapat sedikit perbedaan. Kami hampir memiliki bakat yang sama dari berbagai bidang. Setelah aku terpilih menjadi Ketua Osis, Fero mulai memperlihatkan rasa tidak sukanya kepadaku. Aku juga tidak tau apa yang membuatnya seperti itu, awalnya aku tidak memperdulikan sikapnya itu.

__ADS_1


Tapi setelah pertandingan basket antara tim aku dengan tim Fero dan di saat pertandingan dari tim Fero melakukan kekerasan fisik kepada Adit membuat aku sangat murka dan mulai saat itu orang-orang banyak yang mengira jika kami adalah dua orang yang sangat bertentangan. Dan memang benar seperti itu adanya walau tidak semuanya benar."


"Lalu apa hubungannya denganku dari penjelasan kamu, Mas?"


"Besok saja kita lanjutkan, aku sungguh lapar," cetus Rangga.


Vara merengut, ia sungguh penasaran dengan kelanjutan cerita Rangga. Mengesampingkan egonya, Vara turun dari tempat tidur. "Baiklah, Mas. Aku panaskan dulu makanan buat kamu."


Rangga mengangguk sebagai jawaban, pantas saja perutnya sudah sangat terasa lapar. Rangga ingat, jika ia belum memasukkan sedikit pun makanan ke dalam mulutnya sedari pagi.


***


Vara, Riri, Nadia dan Melani sedang terlibat percakapan di dalam kamar Melani. Setelah meminta izin kepada Rangga di telepon dan Mama Mita membawa kedua anaknya untuk bermain ke rumah Syifa anak dari Rey sepupu Rangga, Vara pun berangkat ke rumah Melani diantarkan Zigo seperti biasanya.


"Aku seneng lihat kamu bahagia seperti ini, Ra, sepertinya Rangga memperlakukan kamu dengan baik," ucap Melani di sela menikmati kentang goreng yang baru saja diantarkan pelayan.


"Berubah gimana, Ra?" Melani menghentikan aktivitasnya menikmati kentang goreng, menurutnya pembicaraan dengan Vara kali ini lebih menarik dibandingkan kentang goreng buatan pelayannya."


"Iya, berubah gimana, Ra?" timpal Riri mulai mendekat ke arah Vara diikuti Nadia.


"Mas Rangga sudah mulai banyak bicara kepadaku, bahkan ... dia juga menasehatiku panjang lebar," rona merah mulai terpancar dari wajah putih Vara.


"Wah, bagus dong, Ra! Kemajuan yang sangat pesat, bagaimana bisa Rangga bisa berubah secepat itu, Ra?" tanya Riri.


"Entahlah, mungkin karena Mas Rangga sering berinteraksi dengan Yura, jadi cerewetnya Yura mengalir kepadanya," Vara terseyum di sela ucapannya.


"Hahaha, bener tuh! Yura itu sungguh cerewet. Aku sampai bingung jika dia sudah mulai bertanya dan bercerita panjang lebar," Nadia terkekeh, "Tapi dari mana datangnya sifat Yura itu, Ra? Melihat kamu dan Rangga, rasanya sifat Yura itu tidak ada sedikit pun dicerminkan dalam diri kalian."

__ADS_1


"Bener banget tuh," timpal Melani dan Riri kompak.


Vara hanya terkekeh, "Entahlah, aku juga tidak tau, Nad. Tapi aku bahagia memiliki anak-anak seperti mereka, jika tidak ada mereka di dalam hidupku, mungkin aku sudah lama tidak mempunyai semangat hidup di dalam diriku selain semangat hidup untuk Ibu," lirih Vara.


Nadia mengelus bahu Vara, ia tau kesedihan dan kesulitan yang pernah dialami Vara setelah adanya dua titipan di dalam rahimnya. Kehidupan Vara selama ini sangatlah sulit, Nadia membayangkan jika dirinya yang ada di posisi Vara saat itu, mungkin ia tidak akan sekuat Vara menjalani hidup dengan caci maki orang-orang setiap hari ya.


"Yang penting sekarang kamu harus mengikhlaskan masa lalu yang pernah menimpa kamu, Ra. Cukup jadikan pembelajaran untuk kedepannya," nasihat Nadia yang langsung diangguki Melani dan Riri.


Vara memeluk Nadia, Melani dan Riri bersamaan, "Terimakasih kalian masih mau menjadi sahabatku di saat aku pergi dan tidak pernah memberi kabar kepada kalian selama empat tahun."


Melani melepaskan pelukan Vara dari mereka, "Tidak ada alasan kami untuk menolak kamu menjadi sahabat kami, Ra. Seharusnya di sini kami yang salah karena sama sekali tidak mengetahui hal besar telah terjadi kepada kamu," Melani meneteskan air mata mengingat kebodohan mereka dulu membiarkan Vara harus menanggung beban berat tanpa dampingan mereka.


"Sudah, sudah, itu sudah lama berlalu. Yang terpenting saat ini kita harus saling berbagi baik suka mau pun duka." tutur Nadia yang langsung di angguki Vara, Riri dan Melani secara bersamaan.


.


.


.


Happy Reading😉


jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, rate bintang 5 dan votenya jika berkenan. Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :


— Menikahi Pria Kaku —


Terimakasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2