
Rangga melonggarkan pelukannya ketika merasa kemeja yang sedang dikenakannya tiba-tiba basah diiringi isakan tangisan Vara. Dilihatnya istrinya yang juga sedang menatapnya dengan deraian air mata disekitar wajahnya, "Maafkan aku, Ra. Sudah jangan menangis lagi," ucap Rangga merasa bersalah. Diusapnya air mata yang membanjiri pipi istrinya itu, "Apa kamu merindukan aku, Ra?" lanjutnya lagi ketika melihat Vara hanya diam saja dengan isakan yang masih terdengar.
Vara mengangguk, entah dorongan dari mana sehingga tanpa pikir panjang ia mengiyakan ucapan suaminya itu.
Rangga mendudukkan tubuhnya. Kemudian membantu Vara untuk duduk berhadapan dengannya, "Apa dia merindukan aku juga?" tanya Rangga sambil mengelus perut Vara.
Vara kembali mengangguk. Menatap pria yang dirindukannya itu, "Mas... A-aku tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Vara mengingat kembali ucapan pedas yang dituduhkan Rangga kepadanya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, akulah yang terlalu bodoh sehingga tidak mempercayai kamu. Maafkan aku, Ra. Mungkin ucapan maaf dariku tidak mampu menghapus rasa sakit yang kamu rasakan," sesal Rangga. Bagaimana bisa ia menyakiti hati istrinya yang sedang mengandung anaknya, bahkan memberi tuduhan yang tidak pernah sama sekali dilakukan istrinya.
Mendekatkan dirinya kepada Rangga, Vara memberikan ciuman singkat di bibir Rangga mendengar ucapan suaminya yang kembali membuatnya teringat kesalahpahaman antara dirinya dan Rangga, "Bisakah kamu tidak membahas masalah itu lagi, Mas? Aku sungguh tidak ingin mengingatnya lagi. Ingin saat ini aku mengusir kamu pergi dari sini bahkan memaki kamu. Tetapi hatiku memberontak tidak bisa melakukannya. Sepertinya anak yang ada di dalam kandunganku sungguh sangat merindukan kamu, Mas," lirih Vara. Air matanya kembali mengalir. Jika bisa, Vara sangat ingin berteriak mengatakan bahwa ia sangat mencintai Rangga. Tetapi ia sadar, Rangga tidak akan mungkin membalas perasaan yang sudah ia tanam sedari dulu.
"Terimakasih sudah membiarkan aku untuk tetap berada di sini. Izinkan aku untuk menebus segala kesalahanku selama ini kepada kamu, Ra. Izinkan aku untuk mendampingi kamu di saat mengandung dan membesarkan anak-anak kita. Menualah bersamaku, Ra. Aku sadar bahwa saat ini aku sudah jatuh cinta kepada kamu."
Vara membulatkan kedua matanya sempurna ketika mendengar kata cinta yang Rangga lontarkan kepadanya. Apa dia tidak salah dengar bahwa Rangga juga mencintainya? Apa pendengarannya tidak sedang bermasalah kata cinta itu keluar dari mulut suaminya?
"Ka-kamu mencintaiku, Mas?" tanya Vara masih tidak percaya.
"Ya, aku mencintaimu, Ra."
__ADS_1
Vara tak bisa menutupi rasa harunya. Segera ia membenamkan tubuhnya di dalam pelukan suaminya itu. Rangga mengelus punggung Vara yang terasa naik turun di dalam pelukannya, "Jangan menangis lagi. Kamu tahu, melihatmu menangis seperti ini membuatku sakit, Ra."
"Terimakasih sudah mau mencintaiku, Mas," ucap Vara yang semakin memeluk erat tubuh Rangga.
Rangga memberikan ciuman bertubi-tubi di pucuk kepala Vara. Hatinya terasa lega sudah mengungkapkan perasaan yang ia rasa sudah ada untuk istrinya itu. Rangga sungguh merutuki dirinya yang tidak menyadari jika ia sudah lama memendam rasa kepada Vara. Ternyata rasa benci yang ia tanamkan kepada Vara bukan hanya karena Vara wanita yang dekat dengan Fero saja bahkan dicintai pria itu. Tetapi karena ia cemburu melihat Vara dicintai pria lain selain dirinya.
Sosok Vara yang menjadi primadona di sekolahnya dulu membuat Rangga sangat tidak menyukainya. Terlebih banyak pria yang memuji kecantikan bahkan kepintaran Vara di depannya. Bahkan ketika melanjutkan pendidikan di luar negeri Rangga merasakan kekosongan hatinya yang tidak ia sadari karena tidak bisa melihat Vara lagi.
"Apakah dia rewel di dalam sini?" tanya Rangga sambil mengelus kembali perut Vara setelah Vara melepaskan pelukannya.
Vara menggeleng, "Tidak, tapi sepertinya dia sangat merindukan Ayahnya."
"Benar, Ayah. Adik sangat merindukan Ayah," jawab Vara menirukan suara anak kecil.
Rangga terkekeh, diangkatnya kepalanya untuk melihat wajah Vara yang sedang menunduk melihatnya, "Jika benar begitu, maka Ayah akan mengunjungi anak Ayah sekarang juga," ucap Rangga tersenyum nakal.
Vara menyerngitkan keningnya dalam, "Mengunjungi bagaimana maksud Kamu, Mas?" tanya Vara dengan polosnya.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Rangga yang mulai memasukkan tangannya di dalam baju Vara.
__ADS_1
Vara mengangguk cepat, ia tahan tangan Rangga yang mulai nakal mengelus punggungnya, "Jawab pertanyaanku, Mas!" pinta Vara ketika Rangga hanya diam saja. Rasa penasarannya sudah memuncak ingin mengetahui maksud suaminya itu.
"Mengunjungi yang seperti ini," jawab Rangga dengan suara yang mulai serak. Membaringkan tubuh Vara dan segera menindihnya.
Otak Vara langsung bekerja dengan cepat mengetahui maksud perkataan suaminya. Belum sempat Vara membuka suara, Rangga lebih dulu membenamkan bibirnya pada bibir Vara. Vara mulai membalas ciuman Rangga yang semakin memanas. Entah faktor kehamilan atau kerinduan, rasanya Vara juga sangat merindukan sentuhan dari suaminya itu, "Pelan-pelan, Mas. Kamu bisa membahayakan anak kita," ucap Vara di sela desahannya. Melihat gairah Rangga yang sudah memuncak membuat Vara takut jika suaminya itu melakukannya dengan kasar.
"Aku akan melakukannya pelan-pelan, Ra. Kamu tenang saja, aku tidak akan membahayakan anak kita," ucap Rangga yang melihat kekhawatiran dicampur kabut gairah dari wajah istrinya. Melihat tidak adanya penolakan dari Vara, Rangga dengan cepat menanggalkan pakaian yang dikenakannya setelah pakaian Vara sudah berserakan di atas lantai dan menampakkan tubuh polos istrinya.
Wajah Vara memerah melihat bukti gairah suaminya. Walaupun sudah sering melihatnya, tetap saja Vara masih merasa malu. Vara menyembunyikan wajahnya di dalam selimut ketika Rangga sudah polos sama seperti dirinya.
"Kenapa ditutupi? Apa kamu menolak keinginan anak kita yang rindu denganku, Ra?" goda Rangga yang tahu jika istrinya itu sedang malu.
Perlahan tapi pasti Vara menurunkan selimut yang menutupi wajahnya, "Aku sungguh malu, Mas," ucap Vara pelan.
Rangga tak menghiraukan lagi ucapan istrinya itu. Ditariknya selimut yang menutupi tubuh istrinya kemudian melemparkannya ke sembarang arah, "Aku sudah tidak tahan, sayang," kabut gairah yang sudah sangat memuncak membuat Rangga sangat tidak sabar untuk menyatukan tubunya dan Vara. Memberikan rangsangan yang membuat Vara terbuai dalam permainannya.
Suara desahan tertahan akhirnya keluar juga dari mulut Vara yang membuat Rangga semakin tidak sabar untuk memasuki tubuh istrinya itu, "Aku akan melakukannya sekarang sayang. Apa kamu sudah siap?" tanya Rangga memastikan jika istrinya itu tidak menolak keinginannya.
Vara menganggukkan kepala sebagi jawaban. Wajahnya terasa memanas mendengar ucapan Rangga. Vara mengakui jika suaminya itu sangat pandai membuat dirinya melayang dalam kenikmatan yang ia berikan. Perlahan tapi pasti Rangga mulai menyatukan tubuhnya dan tubuh Vara. Seketika aksinya itu ia hentikan ketika Vara dengan kasar mendorong tubuhnya.
__ADS_1
"Pintunya belum dikunci, Mas!" ucap Vara ketika melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka.