
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di supermarket. Mata Zia berbinar ketika melihat deretan makanan yang sangat diinginkannya sudah ada di depan matanya. Gita hanya bisa menggeleng melihat tangan Zia dengan lincahnya memasukkan beberapa cemilan ke dalam keranjang.
"Kenapa tidak kamu beli saja supermarketnya sekalian!" dengus Gita. Zia terkekeh, matanya masih fokus melihat deretan makanan yang yang belum ada di dalam keranjang.
"Masih ada yang kurang makanannya?"
"Sepertinya iya, aku cek dulu deh!"
"Jangan terlalu banyak membeli makanan yang tidak sehat untuk kandungan kamu, Zi!" perintah Gita. Zia mengangguk saja, "Aku ke depan dulu, Zi. Sepertinya kamu sudah berhasil menganggu dietku malam ini!"
Zia mengangguk mengiyakan. Kembali mengecek makanan yang belum dibelinya. Samar-samar Zia mendengar suara yang sudah hamir 3 bulan ini tidak lagi didengarnya. Mengangkat wajahnya, Zia menoleh ke samping kiri dimana sumber suara itu berasal.
__ADS_1
Deg.
Pria itu, pria yang memintanya untuk pergi ada di hadapannya. Zia berbalik, tubuhnya bergetar hebat ketika melihat kembali wajah pria yang dicintainya sekaligus pria yang sudah menoreh luka di hatinya. Dengan cepat ia berjalan ke arah Gita yang sedang memilih beberapa cemilan, "A-apa sudah siap?" tanya Zia terbata. Yang ada dipikirannya saat ini hanya cepat keluar dari supermarket dan kembali ke kontrakan Gita sebelum Fero menyadari keberadaanya.
"Kamu kenapa, Zi? Kenapa tiba-tiba pucat?!" panik Gita.
Zia menggeleng, "Aku tidak apa-apa. Bisakah kamu membayarkan belanjaaku, Ta?"
"Kamu kenapa sih, Zi? Jangan membuatku takut!"
Zia berjalan meninggalkan Gita setelah meyerahkan keranjang belanjaannya. Ia harus cepat kembali ke rumah sebelum Fero melihat keberadaanya di sana.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Zia memegang dadanya yang terasa sesak. Fero, sedang apa pria itu berada di kota yang sama dengannya? Apa pria itu tidak bisa sedikit saja memberi ketenangan untuknya? Setelah memintanya untuk pergi, dan sekarang pria itu yang datang di hadapannya. Menghapus kasar air mata yang tiba-tiba saja menetes.
"Aku tidak boleh lemah seperti ini! Anakku membutuhkan ibu yang kuat, semoga setelah ini aku tidak akan lagi bertemu dengannya. Mungkin tadi hanyalah sebuah kebetulan saja. Tetapi ada urusan apa dia berada di sini? Setelah memintaku untuk pergi dan sekarang dia sendiri yang menampakkan wajahnya di hadapanku."
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gita. Meletakkan plastik belanjaan mereka di atas meja.
"Tidak, aku hanya panik saja melihat Fero berada di sana."
"Apa dia ayah dari anak kamu, Zi?"
Zia mengangguk lemah, "Seperti yang kamu pikirkan. Dia adalah Fero yang selama ini aku ceritakan."
__ADS_1
"Aku begitu penasaran dengan wajahnya. Jika tidak panik melihat wajah kamu yang pucat, aku akan mencari tahu seperti apa pria yang sudah berani menyakiti sahabatku!" geram Gita. Gita memang tidak mengetahui seperti apa wajah Fero, setiap kali ia meminta Zia untuk menunjukkan wajah Fero, Zia selalu saja menolak dengan alasan agar Gita tidak ikut-ikutan membenci pria itu.
"Sudahlah, kemarikan plastiknya! Aku sungguh tidak sabar memakannya," ucap Zia mencoba mengalihkan rasa gugupnya.