Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Lamaran


__ADS_3

Vara pulang dari cafe lebih awal, sesuai pesan yang dikirimkan Rangga tadi malam kepadanya, hari ini keluarga Rangga akan datang ke rumah Vara untuk melakukan acara lamaran. Ibu Ana sudah sudah sampai di rumah, setelah Vara menghubungi rencana lamaran malam ini, sebelum subuh ibu dan paman sudah berangkat dari kampung. Untung pulang kampung kali ini ibu menggunakan mobil paman, jadi tidak usah menunggu jadwal keberangkatan bis terlebih dahulu.


Pukul 14.00 WIB Vara sampai di rumah bertepatan dengan paman Wisnu akan pulang ke rumahnya. "Paman mau pulang? Kenapa buru-buru sekali...?" Vara turun dari motornya berjalan ke arah mobil Wisnu dan menyalaminya diikuti Yura dan Aidan.


Wisnu mengelus rambut Vara. "Iya nak... Paman harus cepat pulang karena bibi kamu mau cari baju buat nanti malam... Padahal baju di lemari juga sudah banyak... Selalu gak ada baju saja katanya..." Wisnu geleng-geleng kepala mengingat kelakuan istrinya.


Vara terkekeh, bibinya itu memang paling antusias di setiap acara keluarga. "Salam buat bibi ya paman... Bilangin pada bibi tidak perlu repot-repot... Acara nanti malam cuma dihadiri keluarga Rangga saja paman..." Vara tidak enak selalu saja merepotkan keluarga pamannya itu.


"Bibi kamu selalu repot Ra... Susah paman bilangin... Ini juga mau beli kue untuk dibawa kemari nanti malam..." Wisnu masih geleng-geleng kepala.


Vara tersenyum, ia sangat bersyukur memiliki Wisnu dan keluarga yang selalu ada di setiap keadaan Vara dan ibunya yang sedang baik-baik saja maupun terpuruk seperti kejadian 5 tahun silam. "Terimakasih ya paman... Bibi dan paman selalu saja repot... Vara jadi tidak enak..."


"Kamu bicara apa Ra? Kita ini keluarga... Sudah sepantasnya bibi dan paman melakukan ini kepada kamu..." Ucap Wisnu lembut, Vara langsung memeluk Wisnu erat. Setelah kepergian sang ayah, Wisnu lah yang selalu siaga melindungi Vara dan ibunya.


Wisnu melepaskan pelukan Vara, beralih menggendong Yura yang sedari tadi menatapnya. Sepertinya gadis kecil itu cemburu karena tidak digendong olehnya. "Yura dan Aidan mau ikut kakek pulang? Di rumah ada kakak Gio dan paman Juna." Tanya Wisnu.


Yura menggeleng cepat. "Nda mau... Kakak Gio nda asyik diajak main belbie sama sepelti kakak Aidan." Cebik Yura.

__ADS_1


Wisnu terkekeh geli. "Hahaha... Tentu kakak Gio gak mau sayang... Main berbie itu mainan untuk anak perempuan..." Wisnu mencium gemas pipi Yura yang semakin membulat saja.


Aidan melihat Yura dengan tatapan jengah. "Apa kakek membawa kak Gio ke acara nanti malam?" Tanya Aidan mengingat hanya Gio lah yang bisa ia ajak bermain game kesukaannya.


Wisnu berfikir sejenak. "Sepertinya tidak... Kakak Gio sedang tidak enak badan sayang..." Ucap Wisnu mengingat cerita bibi Kia di telfon tadi pagi jika Gio yang belum sembuh sepenuhnya.


Aidan mendesah kecewa. "Yah... Kalau kakak Gio sudah sembuh bawa main ke sini ya kek! Kakak Gio sudah lama sekali tidak main ke sini."


"Iya cucu kakek yang ganteng..." Wisnu menurunkan Yura dari gendongannya, mencium kening Aidan dan beralih menatap Vara. "Paman pulang dulu ya Ra! Nanti bibi kamu yang cerewet itu bakalan marah-marah jika paman belum pulang juga." Gerutu Wisnu.


"Baiklah paman... Hati-hati di jalan ya paman! Vara tunggu kehadiran paman dan bibi nanti malam... Sampaikan salam Vara pada bibi ya paman!"


***


Pukul 18.35 WIB Vara sudah siap dengan kebaya maroon dan rok batik bewarna senada. Paman Wisnu dan bibi Kia sudah sampai di rumah Vara sore tadi. Ternyata setelah membeli baju dan beraneka ragam kue bibi langsung mengajak paman ke rumah Vara, biar cepat dan bisa bantu-bantu ibu buat persiapan nanti malam, jadi mereka berganti pakaian di rumah Vara saja kata Kia tadi sore.


"Wah kamu canti sekali Ra! Pasti calon suami kamu pangling liat kamu nanti." Ucap bibi yang baru saja masuk ke dalam kamar Vara.

__ADS_1


"Agh bibi bisa aja, masih cantikan bibi kok..." Vara nampak malu-malu mendengarkan pujian Kia.


"Kalau bibi mah sudah dari dulu diakui kecantikannya Ra! Waktu seumuran kamu gini paman kamu sampai ngejar-ngejar bibi ke jogja takut bibi kecantol pria lain di sana..." Kia cekikikan mengingat masa mudanya bersama Wisnu.


Vara tersenyum. Bibinya ini memang selalu bisa diandalkan untuk menghidupkan suasana. Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar dan menampakkan wajah cantik gadis kecil berkepang dua di sana.


"Bunda... Kenapa ayah lama sekali sampainya?? Apa ayah nda jadi kemali bunda??" Yura sudah mulai berkaca-kaca takut ayahnya tidak jadi datang ke rumah.


Belum sempat Vara menjawab, terdengar suara mobil di depan rumah. Yura yang mendengar langsung keluar dari kamar Vara berlari menuju pintu depan rumah. Dilihatnya lumayan banyak orang dewasa baru saja keluar dari dalam mobil. Yura masih celingak-celinguk mencari keberadaan ayahnya yang belum juga keluar dari dalam mobil.


Melihat Rangga yang baru saja keluar dari dalam mobil di susul Bayu, Mita dan Lala, Yura langsung berlari ke arah Rangga tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya. Rangga yang mengerti kebiasaan putrinya langsung menggendong Yura. "Ayah... Kenapa ayah lama sekali datangnya?? Yula pikil ayah nda jadi kemali..." Yura menyandarkan kepalanya di bahu Rangga, manja.


"Cucu nenek yang cantik... Mana mungkin ayah tidak jadi kemari... Ayah kan sudah tidak sabar menikahi bunda kamu..." Timpal Mita yang mendapatkan tatapan kesal dari Rangga.


Paman Vara yang melihat keluarga Rangga sudah hadir langsung mempersilakan masuk. Mereka berkumpul di ruang tamu yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung keluarga Rangga yang hadir.


Acara lamaran dimulai, sedari masuk Rangga tidak melepas pandangannya dari Vara yang nampak lebih cantik malam itu, sangat serasi dengan Rangga yang nampak gagah dengan balutan kemeja bewarna maroon senada dengan kebaya yang Vara kenakan.

__ADS_1


Acara dilanjutkan dengan Rangga memasangkan cincin yang sudah ia persiapkan ke jari Vara dan Vara memasangkan cincin ke jari Rangga. Tangan Vara terasa dingin ketika Rangga memasangkan cincin ke jarinya. Rangga tau jika Vara sangat gugup bersentuhan dengannya, apalagi ini adalah pertama bagi mereka secara sadar.


Sesuai kesepakatan kedua keluarga, jika acara pernikahan akan dilaksanakan minggu depan mengingat jadwal Rangga yang sangat sibuk. Keluarga Vara juga meminta acara akad dilaksanakan di rumah Vara tanpa adanya acara resepsi sesuai keinginan Rangga dan Vara. Mita dan Lala hanya bisa pasrah menyetujui keinginan Rangga dan Vara. Padahal mereka sudah jauh-jauh hari merencanakan acara resepsi yang mewah untuk keduanya. Mereka menolak dengan alasan sudah memiliki anak dan Vara tidak mau membuat keluarga Rangga malu karena ia sudah memiliki anak di luar nikah bersama Rangga.


__ADS_2