
"Jadi kamu tidak tahu jika kamu sedang mengandung, Ra?" tanya Fero ketika melihat reaksi terkejut dari wajah Vara.
Vara menggeleng pelan dengan air mata yang masih mengalir. Fero dapat melihat raut kesedihan di sana, "Apa yang sebenarnya terjadi, Ra! kenapa kamu bisa sampai pingsan seperti tadi? Dokter juga bilang jika kamu kekurangan nutrisi."
"Rangga marah kepadaku, Fer. Dia salah paham dengan kejadian waktu itu," lirih Vara.
"Lalu kamu menjadi seperti ini karena hal spele seperti itu?"
Vara menggeleng, "Bukan hanya itu saja."
"Bicara yang jelas, Ra! Jangan buat aku khawatir seperti ini," menggenggam erat tanga Vara seraya mengelus kepalanya.
"Aku melihat Rangga sedang bermesraan di kantor bersama A-audi," ucap Vara memejamkan matanya singkat sehingga air mata tersapu di pelupuk matanya.
"Brengsek!! Bisa-bisa dia berbuat seperti itu ketika istrinya sedang hamil!! Aku tidak akan mengampuninya kali ini," Fero mengepalkan kedua tanganya dengan wajah yang sudah merah padam.
"Jangan! Jangan menyakiti Mas Rangga. Aku tidak mau menambah masalah kami lagi, Fer. Mungkin ini sudah menjadi takdirku, aku sungguh tidak apa-apa," ucap Vara berusaha sekuat mungkin. Ia sadar, jika Audi memang lebih pantas menjadi istri Rangga dibandingkan dirinya. Pantas saja Rangga lebih tertarik kepada Audi dari pada dirinya. Untuk saat ini Vara mencoba menahan sakitnya seorang diri. Ia tidak mau jika Fero ikut dalam urusan rumah tangganya sehingga membuat Rangga bertambah murka kepadanya.
"Kenapa kamu selalu saja membohongi hati kamu sendiri, Ra! Aku tahu saat ini kamu sedang terluka. Tidak perlu menutupinya dariku lagi!! Kamu begitu tahu betapa aku sangat mencintai kamu dan aku tidak akan pernah rela jika air mata kamu terjatuh karena kesakitan seperti ini!!" geram Fero, ia tidak habis pikir dengan pikiran Vara saat ini. Di saat suaminya bersama wanita lain bahkan sudah dilihatnya sendiri, Vara justru mencoba untuk sabar dan memafkan suaminya semudah itu.
"Aku harus kembali ke kantor, ada rapat penting yang harus aku hadiri. Nadia dan Riri akan menuju ke sini menjaga kamu sampai cairan infus habis dan kamu sudah boleh pulang. Maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang," sesal Fero. Jika saja rapat yang harus ia hadiri bisa ditunda. Ia akan memilih menemani Vara dan mengantarkannya pulang.
__ADS_1
"Tidak masalah, terimakasih kamu sudah terlalu sering membantuku. Maaf aku belum pernah sekali pun membalas kebaikan kamu," Vara menatap nanar pria yang sedang melihat ke arahnya dengan penuh cinta dan kekhawatiran.
"Kamu cukup membalas perasaanku saja, itu sudah cukup! Tapi sudahlah... Sebaiknya kamu istirahat. Aku harus pergi sekarang juga," melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu rapat akan di mulai 30 menit lagi dan perjalanan dari rumah sakit ke kantornya harus menempuh perjalanan 20 menit jika tidak terlalu macet.
Fero bangkit dari kursi, mengelus singkat kepala Vara, "Jaga diri kamu baik-baik! Kabari aku jika ada masalah!" perintah Fero yang langsung diangguki Vara dengan diiringi senyuman.
***
Nadia memasukkan tubuhnya ke dalam ruangan rawat Vara dengan perlahan, memegang knop pintu supaya tidak menimbulkan bunyi ketika melihat Vara sedang memejamkan mata. Vara yang merasa ada seseorang sedang berjalan ke arahnya pun membuka matanya. Dilihatnya Nadia dan Riri sedang menatapnya dengan lekat.
"Apa kami mengganggu tidur kamu, Ra?" tanya Riri tidak enak.
Vara menggeleng seraya tersenyum, "Tidak, aku bahkan tidak sedang tidur," mengalihkan pandangannya kepada Nadia yang hanya diam saja, "Nadia, maaf sudah merepotkan."
Riri yang melihat Nadia mulai lepas kendali akibat amarahnya pun menepuk pundak Nadia dua kali, "Jaga emosi kamu! Ingat Vara sedang mengandung dan tidak boleh banyak fikiran!" bisik Riri di telinga Nadia.
Nadia mengangguk mengerti. Menghela nafasnya kasar dan menghembuskan cepat, "Baiklah, ayo kita pulang!" titah Nadia dengan nada ketus.
"Ayo aku bantu, Ra!" ucap Riri membantu Vara untuk turun dari atas ranjang.
"Aku bisa jalan sendiri, Ri, Nad," ucap Vara ketika Riri dan Nadia mulai memapahnya.
__ADS_1
Mereka hanya mengangguk sebagai jawaban, melihat wajah Vara yang sudah tidak pucat mereka yakin jika kondisi Vara sudah mulai membaik.
"Jadi bagaimana ceritanya Rangga bisa salah paham kepada kamu, Ra?" tanya Riri yang duduk di samping Vara di kursi belakang.
"Sudahlah, Ri! Jangan tanyakan itu dulu. Sebaiknya kita biarkan Vara mengistirahatkan otak dari banyaknya pikiran. Lain waktu kamu bisa menanyakannya kembali!" dengus Nadia di sela menyetir mobil.
"Iya, iya! Cerewet sekali! Aku hanya ingin tahu saja," cebik Riri.
Vara hanya terkekeh melihat perdebatan kedua sahabatnya. Pikirannya saat ini terasa penuh dengan dugaan-dugaan tentang hubungan Rangga dan Audi. Mengelus perutnya yang masih rata. Vara hanya bisa menerima takdirnya di saat masalah dan kebahagiaan datang bersamaan menghampirinya. Hal yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Untuk saat ini anak yang ada di dalam perutnya lebih penting dibandingkan permasalahannya dengan Rangga, pikir Vara.
Mobil yang dikendarai Nadia memasuki perkarangan rumah Vara setelah gerbang terbuka secara otomatis. Vara melihat mobil Rangga sudah berada di depan rumah. Tumben sekali suaminya itu pulang secepat itu setelah satu bulan terakhir ini, pikirnya bingung.
"Cukup sampai di sini saja, Mas Rangga sepertinya sudah pulang. Aku bisa sendiri masuk ke dalam," ucap Vara meminta pengertian kedua sahabatnya. Ia tidak mungkin membawa Riri dan Nadia masuk ke dalam rumah di saat suasana hati Rangga sedang tidak baik, terlebih jika mereka melihat pertengkaran antara ia dan Rangga nantinya.
Riri dan Nadia hanya mendengus pasrah, mereka mengangguk bersamaan. Nadia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Rangga. Vara mencoba menetralkan detak jantungnya untuk bertemu dengan Rangga. Sekuat mungkin ia mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah. Apakah untuk saat ini memberitahu jika ia sedang mengandung kepada Rangga adalah keputusan yang benar? Vara hanya berharap suasana ketika bertemu Rangga nanti akan baik-baik saja sehingga ia dapat memberitahukan kabar bahagia itu dengan tenang.
Memasuki kamarnya Vara tersentak ketika mendapatkan banyaknya foto ia dan Fero berserakan di atas tempat tidur. Mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kamar yang berantakan dan tidak menampakkan Rangga di sana. Suara langkah kaki yang berasal dari walk in closet membuat Vara menoleh dan mendapati sosok yang dicarinya sedang menatap ke arahnya tajam.
.
.
__ADS_1
.
*Happy Reading! :)