
Bunyi deru suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah. Setelah sopir memberhentikan mobil di depan rumah, Fero keluar dari dalam mobil. Kening pria itu nampak berkerut melihat pemandangan aneh di depannya. Jika biasa saat ia pulang bekerja akan disambut senyum sehangat mentari istri dan anaknya di depan rumah, namun kali ini istri dan anaknya itu sama sekali tidak terlihat.
Dengan langkah lebar Fero memasuki rumah mengedarkan pandangan ke setiap sudut. Melihat tidak adanya tanda-tanda keberadaan Zia dan Raffael, Fero pun melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Mungkin saja istrinya sedang berada di kamar, pikirnya.
Fero yang hendak meraih ganggang pintu seketika mengurungkan niatnya saat pintu sudah terbuka menampilkan tubuh mungil putranya di sana.
"Paa... Mama Pa..." Rengek Raffael memeluk erat kaki Fero.
Fero pun segera membawa Raffael ke dalam gendongannya.
"Mana kenapa, hem?" Tanyanya mengacak lembuk rambut putranya.
"Itu Mama muntah di kamar mandi..." Adunya menunjuk ke dalam kamar.
Mendengar ucapan putranya, Fero pun sontak berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kaki jenjangnya melangkah dengan lebar menuju kamar mandi.
"Zia...." Panggil Fero saat memasuki kamar mandi. Dan benar saja, wanita itu tengah memuntahkan isi perutnya ke dalam wetafel.
__ADS_1
"Zia... Kamu kenapa..." Ucap Fero memijit tengkuk Zia setelah menurunkan Raffael dari gendongannya.
"Aku tak apa..." Sahutnya setelah mencuci mulutnya.
"Tak apa bagaimana? Jika kau tak apa-apa kau tak akan muntah seperti ini!" Cecar Fero.
"Aku benar-benar tidak apa-apa. Hal ini sudah biasa terjadi pada ibu hamil. Sama seperti saat aku hamil Raffael dulu." Jawab Zia mengembangkan senyumannya.
Kedua bola mata Fero membelalak mendengar ucapan Zia. "Kamu hamil?" Tanya Fero begitu tak percaya.
"Oh astaga..." Fero buru-buru membawa Zia ke dalam pelukannya. Kedua mata pria itu sudah nampak basah oleh air mata. Ucapan rasa syukur tak henti keluar dari mulutnya. Fero pun segera menggendong tubuh Zia keluar dari dalam kamar mandi kemudian membaringkannya di ranjang.
Zia menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh tidak menyangka jika Fero akan sebahagia ini mendengar kabar kehamilan keduanya.
"Apa kau begitu bahagia, Fero?" Tanya Zia memastikan kembali.
"Tentu saja aku sangat bahagia. Aku tak akan melewatkan kesempatan kali ini untuk merawatmu selama masa kehamilan. Terimakasih untuk segala pengorbananmu selama ini." Fero pun mengecup segala keseluruhan wajah Zia.
__ADS_1
"Papah..." Tangan mungil Raffael menarik ujung jas yang dikenakan Fero saat merasa Papanya tak menganggap kehadirannya di sana.
"Eh, iya... Ada apa sayang?" Menggendong tubuh Raffael kemudian mendudukkannya di pahanya.
"Apa benar aku akan memiliki adik bayi?" Tanyanya dengan mata berkedip-kedip.
"Benar... Kamu akan memiliki adik bayi sebentar lagi." Jawab Fero mencium gemas pipi Raffael.
"Apa Raffa tidak suka jika memilili adik bayi?" Tanya Zia saat melihat raut wajah Raffael yang berubah masam.
Raffael dengan cepat mengangguk. "Kepala Raffa akan cepat pecah jika memiliki adik seperti Alula." Gerutunya mengingat anak sahabat baik Mama dan Papanya.
Zia dan Fero saling pandang mendengar jawaban putranya. Mereka tidak menyangka jika Raffael masih saja menaruh rasa tidak sukanya pada sifat Alula. Namun jauh di lubuk hati Raffael yang paling dalam mereka mengetahui jika Raffael menaruh rasa sayang kepada Alula mengingat mereka yang sudah berteman sejak kecil.
***
Jangan lupa follow IG SHy ya : @shy1210_
__ADS_1